Pre-Sales, Sales, dan Post-Sales: Apa Bedanya?

Dalam bisnis, mendapatkan pelanggan bukanlah akhir dari sebuah proses. Justru, hubungan dengan pelanggan sudah dimulai jauh sebelum transaksi terjadi dan masih berlanjut setelah pembayaran selesai.
Coba bayangkan ketika seseorang ingin membeli sebuah produk. Ia mungkin melihat iklan terlebih dahulu, bertanya melalui WhatsApp, membandingkan harga, meminta rekomendasi, lalu akhirnya memutuskan untuk membeli.
Setelah barang sampai, perjalanan belum selesai. Pelanggan mungkin membutuhkan panduan penggunaan, ingin menyampaikan keluhan, atau kembali membeli produk yang sama beberapa waktu kemudian.
Semua proses tersebut merupakan bagian dari perjalanan pelanggan.
Di dalam dunia bisnis, perjalanan tersebut dapat dibagi menjadi tiga tahapan penting, yaitu pre-sales, sales, dan post-sales.
Ketiganya mempunyai tugas yang berbeda. Namun, ketiganya saling berhubungan dan sama-sama berpengaruh terhadap keberhasilan bisnis.
Secara sederhana, pre-sales berfokus pada calon pelanggan sebelum membeli, sales berfokus pada terjadinya transaksi, sedangkan post-sales berfokus pada pelayanan setelah pembelian.
Memahami ketiga tahapan ini penting, terutama bagi pelaku UMKM dan pemilik bisnis yang ingin meningkatkan penjualan sekaligus mempertahankan pelanggan.
Apa Itu Pre-Sales?
Pre-sales adalah berbagai aktivitas yang dilakukan sebelum calon pelanggan melakukan pembelian.
Pada tahap ini, pelanggan biasanya masih dalam tahap mencari informasi. Mereka mungkin belum yakin dengan produk yang akan dipilih atau masih membandingkan beberapa pilihan.
Misalnya, seseorang ingin membeli aplikasi kasir untuk tokonya.
Sebelum berlangganan, ia mungkin bertanya:
- Apakah aplikasi bisa digunakan untuk mengatur stok?
- Apakah tersedia laporan penjualan?
- Bisa digunakan di berapa perangkat?
- Apakah cocok untuk usaha kecil?
- Berapa biaya yang harus dibayar?
Ketika bisnis memberikan jawaban dan membantu calon pelanggan memahami produk, aktivitas tersebut termasuk pre-sales.
Contoh Aktivitas Pre-Sales
Pre-sales dapat dilakukan melalui berbagai saluran, baik secara langsung maupun digital.
Beberapa contohnya adalah:
- Menjawab pertanyaan calon pelanggan.
- Memberikan informasi mengenai produk.
- Melakukan konsultasi.
- Memberikan demonstrasi atau demo produk.
- Menyusun proposal dan penawaran.
- Menjelaskan fitur dan manfaat.
- Memberikan rekomendasi produk.
- Membuat konten edukasi.
Jadi, pre-sales bukan sekadar menawarkan barang.
Tahap ini lebih kepada membantu calon pelanggan memahami solusi yang ditawarkan bisnis.
Mengapa Pre-Sales Penting?
Calon pelanggan biasanya memiliki pertanyaan dan keraguan sebelum mengeluarkan uang.
Jika bisnis mampu memberikan jawaban yang jelas, calon pelanggan akan lebih mudah memahami produk dan mempertimbangkan pembelian.
Pre-sales yang baik juga dapat membantu bisnis memahami masalah pelanggan.
Dengan mengetahui kebutuhan tersebut, penjual bisa memberikan rekomendasi yang lebih tepat daripada sekadar menawarkan produk secara umum.
Apa Itu Sales?
Setelah calon pelanggan mendapatkan informasi dan merasa yakin, proses berikutnya adalah sales.
Sales merupakan proses yang berfokus pada mengubah calon pelanggan menjadi pelanggan melalui transaksi penjualan.
Jika pada tahap pre-sales pelanggan masih bertanya dan mempertimbangkan, pada tahap sales pelanggan mulai mengambil keputusan.
Aktivitas sales dapat meliputi:
- Menawarkan produk.
- Menjelaskan harga.
- Memberikan pilihan paket.
- Menyusun penawaran.
- Melakukan negosiasi.
- Menjawab keberatan pelanggan.
- Mengarahkan proses pembelian.
- Menyelesaikan transaksi.
Tujuan akhirnya adalah konversi, yaitu ketika calon pelanggan benar-benar melakukan pembelian.
Namun, sales yang baik bukan berarti memaksa pelanggan membeli sebanyak-banyaknya.
Penjualan yang sehat justru berusaha menemukan titik temu antara kebutuhan pelanggan dan solusi yang ditawarkan.
Jika produk memang sesuai, pelanggan mendapatkan manfaat dan bisnis mendapatkan transaksi.
Apa Itu Post-Sales?
Nah, ini bagian yang sering dilupakan oleh sebagian bisnis.
Setelah pelanggan membayar, bukan berarti hubungan dengan pelanggan selesai.
Post-sales adalah aktivitas yang dilakukan setelah transaksi untuk memastikan pelanggan mendapatkan pengalaman yang baik dan memperoleh manfaat dari produk yang dibeli.
Contohnya sangat sederhana.
Sebuah toko menjual mesin kopi. Setelah pelanggan menerima mesin, toko memberikan panduan penggunaan. Ketika pelanggan mengalami kendala, toko membantu memberikan solusi.
Beberapa minggu kemudian, toko menghubungi pelanggan untuk menanyakan kondisi mesin.
Itulah contoh sederhana post-sales.
Contoh Aktivitas Post-Sales
Beberapa aktivitas post-sales yang bisa diterapkan bisnis antara lain:
- Customer support.
- Instalasi produk.
- Onboarding pelanggan.
- Tutorial penggunaan.
- Follow-up pelanggan.
- Penanganan komplain.
- Layanan garansi.
- Maintenance.
- Pengumpulan feedback.
- Program loyalitas.
- Penawaran produk yang relevan.
Tujuan akhirnya adalah menjaga kepuasan pelanggan dan meningkatkan kemungkinan repeat order atau pembelian kembali.
Perbedaan Pre-Sales, Sales, dan Post-Sales
Supaya lebih mudah dipahami, berikut perbedaan ketiganya:
| Tahapan | Waktu | Fokus Utama | Contoh Aktivitas |
|---|---|---|---|
| Pre-Sales | Sebelum pembelian | Membantu calon pelanggan memahami produk | Konsultasi, demo, menjawab pertanyaan |
| Sales | Saat proses pembelian | Mengubah prospek menjadi pelanggan | Penawaran, negosiasi, transaksi |
| Post-Sales | Setelah pembelian | Menjaga kepuasan dan hubungan pelanggan | Support, follow-up, garansi, feedback |
Dari tabel tersebut terlihat bahwa ketiganya memiliki fokus berbeda.
Namun, jangan melihatnya sebagai tiga pekerjaan yang terpisah.
Ketiganya justru merupakan rangkaian yang membentuk customer journey.
Mengapa Pre-Sales Penting untuk Meningkatkan Penjualan?
Pre-sales mempunyai pengaruh besar terhadap keputusan calon pelanggan.
1. Membangun Kepercayaan
Pelanggan akan lebih percaya kepada bisnis yang memberikan informasi dengan jelas dan tidak menutup-nutupi kekurangan produk.
Komunikasi yang baik sejak awal dapat membuat pelanggan merasa lebih nyaman.
2. Memahami Kebutuhan Pelanggan
Setiap pelanggan mempunyai kebutuhan yang berbeda.
Pre-sales memberikan kesempatan kepada bisnis untuk bertanya dan memahami masalah pelanggan sebelum memberikan penawaran.
Dengan begitu, solusi yang diberikan menjadi lebih relevan.
3. Mengurangi Keraguan
Harga, kualitas, fitur, manfaat, dan cara penggunaan merupakan beberapa hal yang sering dipertimbangkan pelanggan.
Pre-sales membantu memberikan penjelasan sehingga pelanggan bisa mengambil keputusan dengan lebih yakin.
Mengapa Sales Penting bagi Bisnis?
Calon pelanggan yang sudah tertarik belum tentu langsung membeli.
Bisa saja mereka berhenti karena harga tidak jelas, proses pemesanan terlalu rumit, atau tidak mendapatkan jawaban atas keberatan mereka.
Di sinilah sales mempunyai peran penting.
Sales membantu pelanggan melewati proses pengambilan keputusan sampai akhirnya transaksi terjadi.
Beberapa pendekatan yang bisa digunakan adalah:
- Menawarkan solusi sesuai kebutuhan.
- Menjelaskan manfaat produk.
- Memberikan pilihan produk atau paket.
- Menjawab keberatan pelanggan.
- Membuat proses pembelian lebih mudah.
Dengan pendekatan seperti ini, sales tidak hanya mengejar target, tetapi juga memberikan pengalaman pembelian yang lebih baik.
Mengapa Post-Sales Penting untuk Bisnis?
Mendapatkan pelanggan baru memang penting.
Tetapi mempertahankan pelanggan yang sudah ada juga tidak kalah penting.
Pelanggan yang mendapatkan pelayanan baik setelah pembelian mempunyai peluang lebih besar untuk merasa puas, kembali membeli, dan merekomendasikan bisnis kepada orang lain.
Meningkatkan Kepuasan Pelanggan
Pelanggan akan merasa lebih diperhatikan ketika bisnis tetap memberikan bantuan setelah transaksi.
Meningkatkan Repeat Order
Ketika pelanggan puas dengan produk dan pelayanan, peluang mereka untuk kembali membeli bisa menjadi lebih besar.
Membangun Loyalitas
Hubungan yang baik secara konsisten dapat membuat pelanggan semakin mengenal dan percaya terhadap sebuah brand.
Mendorong Rekomendasi
Pelanggan yang mendapatkan pengalaman positif bisa menjadi sumber promosi dari mulut ke mulut.
Hal sederhana seperti rekomendasi kepada teman atau keluarga dapat memberikan dampak besar bagi UMKM.
Pre-Sales, Sales, dan Post-Sales Harus Berjalan Bersama
Ada anggapan bahwa keberhasilan penjualan sepenuhnya merupakan tanggung jawab bagian sales.
Padahal, perjalanan pelanggan jauh lebih panjang.
Bayangkan jika pre-sales berjalan buruk.
Calon pelanggan sudah tertarik, tetapi tidak mendapatkan informasi yang cukup. Akhirnya ia memilih tidak membeli.
Kemudian, bagaimana jika pre-sales sudah bagus tetapi proses sales terlalu rumit?
Pelanggan bisa saja berubah pikiran.
Begitu pula dengan post-sales.
Jika pelanggan sudah membeli tetapi tidak mendapatkan bantuan ketika mengalami masalah, mereka bisa kecewa dan memilih kompetitor pada pembelian berikutnya.
Sederhananya:
Pre-sales buruk → pelanggan tidak mendapatkan informasi → pelanggan ragu → transaksi tidak terjadi.
Sales buruk → pelanggan sudah tertarik → proses pembelian sulit → transaksi gagal.
Post-sales buruk → pelanggan sudah membeli → pelayanan berhenti → pelanggan kecewa → repeat order menurun.
Karena itu, bisnis perlu melihat penjualan sebagai satu perjalanan yang utuh, bukan sekadar mengejar transaksi.
Contoh Pre-Sales, Sales, dan Post-Sales pada UMKM
Mari kita gunakan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Misalnya Anda mempunyai usaha yang menjual peralatan kopi.
Tahap Pre-Sales
Seorang calon pelanggan menghubungi Anda melalui WhatsApp.
Ia mengatakan bahwa dirinya baru membuka coffee shop kecil dan sedang mencari mesin kopi yang sesuai.
Anda kemudian bertanya tentang kapasitas usaha, jenis minuman yang dijual, serta anggaran yang tersedia.
Berdasarkan informasi tersebut, Anda memberikan beberapa pilihan mesin yang sesuai.
Proses ini adalah pre-sales.
Tahap Sales
Calon pelanggan akhirnya memilih salah satu produk.
Anda kemudian memberikan harga, menjelaskan metode pembayaran, dan membantu proses pemesanan.
Setelah pelanggan melakukan pembayaran, transaksi selesai.
Inilah tahap sales.
Tahap Post-Sales
Beberapa hari kemudian, mesin sudah diterima.
Anda mengirimkan panduan penggunaan dan memberi tahu pelanggan bahwa ia dapat menghubungi Anda jika mengalami kendala.
Setelah beberapa minggu, Anda melakukan follow-up.
“Bagaimana Pak, mesinnya sudah berjalan dengan baik?”
Pertanyaan sederhana seperti ini dapat membuat pelanggan merasa diperhatikan.
Inilah post-sales.
Bagaimana Cara Mengelola Pre-Sales, Sales, dan Post-Sales?
Bisnis yang ingin menjalankan ketiga tahap tersebut secara konsisten sebaiknya memiliki sistem yang sederhana tetapi jelas.
1. Buat SOP Pelayanan
Tentukan bagaimana cara tim menjawab calon pelanggan, memberikan penawaran, memproses transaksi, hingga menangani keluhan.
SOP membantu membuat pelayanan lebih konsisten.
2. Simpan Data Pelanggan
Catat informasi penting pelanggan dan riwayat pembeliannya.
Data ini dapat membantu bisnis memberikan pelayanan yang lebih personal.
3. Catat Setiap Transaksi
Jangan hanya mencatat uang masuk.
Catat juga produk yang terjual, jumlah transaksi, nilai penjualan, dan informasi lain yang dibutuhkan.
4. Evaluasi Hasil Penjualan
Bisnis perlu mengetahui apakah strategi yang digunakan benar-benar menghasilkan perkembangan.
Beberapa indikator yang bisa dipantau antara lain:
- Jumlah calon pelanggan.
- Conversion rate.
- Jumlah transaksi.
- Nilai penjualan.
- Repeat order.
- Jumlah komplain.
- Kepuasan pelanggan.
Data tersebut dapat membantu pemilik usaha menentukan bagian mana yang perlu diperbaiki.
Peran Pencatatan Digital dalam Strategi Penjualan
Ketika bisnis masih kecil, mencatat transaksi secara manual mungkin terasa mudah.
Namun, ketika jumlah transaksi mulai meningkat, pencatatan manual bisa membuat pekerjaan semakin merepotkan.
Dengan pencatatan digital, pemilik usaha dapat lebih mudah melihat perkembangan penjualan.
Data transaksi juga dapat membantu mengetahui:
- Produk yang paling banyak dibeli.
- Jumlah transaksi.
- Nilai penjualan.
- Performa produk.
- Pola pembelian pelanggan.
Informasi tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi hasil penjualan sekaligus menyusun strategi berikutnya.
Bagi pelaku UMKM, data sederhana seperti ini sebenarnya sangat berharga.
Misalnya, jika satu produk ternyata paling sering dibeli, pemilik usaha bisa mempertimbangkan untuk meningkatkan stok atau membuat promosi yang berkaitan dengan produk tersebut.
Kesalahan yang Sebaiknya Dihindari dalam Proses Penjualan
Ada beberapa kesalahan sederhana yang bisa membuat perjalanan pelanggan menjadi kurang nyaman.
Terlalu Cepat Menawarkan Produk
Jangan langsung menawarkan produk sebelum memahami kebutuhan pelanggan.
Dengarkan terlebih dahulu masalahnya.
Hanya Fokus pada Harga
Harga memang penting, tetapi pelanggan juga ingin tahu manfaat yang akan mereka dapatkan.
Karena itu, jelaskan value atau manfaat produk secara sederhana.
Tidak Menindaklanjuti Pelanggan
Jangan menganggap pelanggan sudah tidak membutuhkan Anda setelah transaksi.
Follow-up yang dilakukan dengan cara yang wajar dapat menjaga hubungan.
Mengabaikan Keluhan
Keluhan pelanggan sebaiknya dipandang sebagai masukan.
Tanggapi dengan baik dan gunakan sebagai bahan untuk memperbaiki pelayanan.
Kesimpulan
Pre-sales, sales, dan post-sales merupakan tiga tahapan penting dalam perjalanan pelanggan.
Pre-sales membantu calon pelanggan mendapatkan informasi dan memahami produk. Sales membantu mengubah ketertarikan menjadi transaksi. Sementara post-sales memastikan pelanggan tetap mendapatkan pelayanan dan manfaat setelah pembelian.
Ketiganya saling melengkapi.
Bisnis yang hanya fokus pada sales mungkin bisa mendapatkan transaksi, tetapi belum tentu mampu mempertahankan pelanggan dalam jangka panjang.
Sebaliknya, bisnis yang memperhatikan pelanggan sejak tahap awal hingga setelah pembelian mempunyai peluang lebih besar untuk membangun kepercayaan, meningkatkan kepuasan, mendapatkan repeat order, dan menciptakan pelanggan loyal.
Pada akhirnya, bisnis bukan hanya tentang berapa banyak orang yang membeli hari ini.
Bisnis juga tentang berapa banyak pelanggan yang merasa puas dan bersedia kembali besok.
FAQ Seputar Pre-Sales, Sales, dan Post-Sales
Apa perbedaan pre-sales, sales, dan post-sales?
Pre-sales dilakukan sebelum pembelian untuk membantu calon pelanggan memahami produk. Sales berfokus pada proses transaksi, sedangkan post-sales dilakukan setelah pembelian untuk menjaga kepuasan pelanggan.
Apa contoh kegiatan pre-sales?
Contohnya menjawab pertanyaan calon pelanggan, memberikan konsultasi, melakukan demo produk, menjelaskan manfaat, dan memberikan rekomendasi.
Apa contoh kegiatan sales?
Kegiatan sales meliputi memberikan penawaran, menjelaskan harga, melakukan negosiasi, menjawab keberatan, dan membantu pelanggan menyelesaikan transaksi.
Apa contoh kegiatan post-sales?
Contohnya customer support, tutorial penggunaan, follow-up, penanganan komplain, garansi, maintenance, dan meminta feedback pelanggan.
Apakah post-sales bisa meningkatkan penjualan?
Bisa. Pelayanan setelah pembelian dapat meningkatkan kepuasan dan membuka peluang pelanggan melakukan repeat order atau merekomendasikan bisnis kepada orang lain.
Apakah strategi ini cocok untuk UMKM?
Sangat cocok. Pre-sales, sales, dan post-sales tidak harus menggunakan sistem yang rumit. UMKM dapat memulainya dari hal sederhana seperti menjawab pertanyaan dengan baik, mencatat transaksi, menyimpan data pelanggan, dan melakukan follow-up setelah pembelian.
Saatnya Mengelola Penjualan dengan Lebih Rapi
Penjualan yang baik bukan hanya tentang mendapatkan pelanggan baru. Data transaksi dan riwayat pelanggan juga perlu dikelola agar pemilik usaha bisa mengetahui apa yang sedang terjadi dalam bisnis.
Mulailah dari hal sederhana: catat transaksi, kenali pelanggan, evaluasi penjualan, dan berikan pelayanan yang konsisten.
Dengan proses yang lebih teratur, Anda bisa mengambil keputusan berdasarkan data, bukan sekadar perkiraan.
Karena pelanggan yang baik bukan hanya berhasil didapatkan, tetapi juga berhasil dipertahankan.