Lunasi Utang Rp1,6 Miliar dari Pertanian, Kisah Bung Yadi Bangkit Lewat Ayoda Farm

Bagaimana rasanya memiliki utang hampir Rp1,7 miliar, kehilangan orang-orang yang menjadi tempat mengadu, bahkan sempat berhenti salat karena merasa hidup begitu berat?
Kondisi seperti itu pernah dialami Bung Yadi, founder Ayoda Farm di Tangerang. Di tengah tekanan utang, kehilangan orang tua dan mertua, serta kehidupan yang serba terbatas, ia perlahan menemukan jalan untuk bangkit.
Menariknya, jalan keluar tersebut justru datang dari dua dunia yang sudah ia kuasai: teknologi informasi (IT) dan pertanian.
Dari perjalanan tersebut, Bung Yadi berhasil melunasi utang sekitar Rp1,6 miliar dalam waktu dua tahun melalui ikhtiar yang dijalankan dari bisnis pertanian dan pengalaman di dunia IT.
Dari Dunia IT hingga Memilih Menjadi Petani
Sebelum serius mengembangkan bisnis pertanian, Bung Yadi memiliki perjalanan karier yang cukup panjang di bidang IT.
Ia memulai karier dari posisi IT support, kemudian berkembang menjadi data analis, supervisor, IT manager, hingga akhirnya menjadi direktur di perusahaan IT.
Namun, setelah cukup lama berkecimpung di dunia teknologi, muncul keinginan untuk mencari sesuatu yang lebih memberikan ketenangan sekaligus memiliki manfaat nyata.
Pertanian kemudian menjadi pilihan.
Bung Yadi mulai terjun lebih serius ke dunia pertanian sekitar tahun 2020. Pilihan tersebut bukan sepenuhnya sesuatu yang baru baginya karena sejak kecil ia sudah dekat dengan aktivitas pertanian.
Ayahnya dahulu merupakan tengkulak sekaligus distributor sayuran. Sang ayah mengambil sayuran dari petani untuk kemudian dibawa dan dijual ke pasar.
Karena itu, dunia pertanian sebenarnya sudah menjadi bagian dari kehidupan keluarganya sejak lama.
Membangun Ayoda Farm sebagai Ekosistem Pertanian
Dari perjalanan tersebut lahirlah Ayoda Farm, sebuah konsep mini food estate di Tangerang yang menggabungkan beberapa sektor pangan dalam satu ekosistem.
Di dalamnya terdapat berbagai komoditas, mulai dari sayuran, buah, ayam petelur, bebek petelur, hingga ikan.
Ayoda Farm sendiri memiliki tiga model bisnis utama, yaitu edukasi, distribusi, dan produksi.
Melalui sektor edukasi, Ayoda Farm menjadi tempat bagi masyarakat yang ingin belajar memulai usaha pertanian. Bahkan, orang yang sedang mempersiapkan masa pensiun dapat melihat secara langsung berbagai contoh usaha pertanian yang bisa dikembangkan.
Sementara pada sektor distribusi, Ayoda Farm bekerja sama dengan petani mitra untuk memasok buah-buahan lokal ke sejumlah retail modern.
Adapun pada sektor produksi, fokus utama dikembangkan pada komoditas melon dan sayuran. Total kebun yang dikelola mencapai sekitar dua hektare.
Mengapa Memilih Bisnis Pertanian?
Keputusan Bung Yadi masuk ke bisnis pertanian tidak hanya didorong oleh peluang usaha.
Ada persoalan ketahanan pangan yang juga menjadi perhatian.
Ia melihat harga telur, ikan, dan berbagai kebutuhan pangan lainnya sering mengalami kenaikan maupun perubahan harga. Setelah melihat lebih jauh, ternyata persoalan tersebut tidak bisa dilepaskan dari mekanisme rantai pasok.
Karena itu, ia mencoba memproduksi sendiri sejumlah kebutuhan pangan untuk keluarganya.
Dimulai dari ayam petelur, kemudian berkembang ke bebek, ikan, sayuran, hingga buah-buahan.
Awalnya produksi tersebut hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, setelah melihat bahwa produksinya dapat berjalan secara rutin, muncul pemikiran bahwa model tersebut juga dapat dikembangkan menjadi bisnis.
Dari sinilah fokus Ayoda Farm kemudian diarahkan lebih serius pada produksi melon dan sayuran.
Bisnis Pertanian Tidak Bisa Instan
Salah satu pelajaran penting dari perjalanan Bung Yadi adalah bahwa bisnis pertanian membutuhkan kesabaran.
Berbeda dengan beberapa bisnis kuliner atau coffee shop yang relatif lebih cepat dijalankan, bisnis pertanian membutuhkan proses penelitian dan pengembangan yang panjang.
Petani harus memahami banyak hal, mulai dari pemilihan benih, kondisi iklim, karakteristik lahan, teknik budidaya, hingga sumber daya manusia.
Benih yang cocok di satu daerah belum tentu memberikan hasil yang sama ketika ditanam di lokasi berbeda.
Begitu juga dengan pengelolaan tenaga kerja. Menurut Bung Yadi, SDM yang sudah dilatih pun bisa saja mengundurkan diri sehingga proses membangun sistem yang berkelanjutan membutuhkan waktu.
Ia menyebut dua tahun pertama menjadi periode penuh tantangan. Ayoda Farm kemudian mulai menemukan keberlanjutan bisnisnya memasuki tahun ketiga.
Berapa Lama Tanaman Pertanian Bisa Dipanen?
Bagi orang yang ingin masuk ke bisnis pertanian, memahami siklus produksi merupakan hal penting.
Bung Yadi memberikan contoh bahwa melon membutuhkan waktu sekitar 65–70 hari untuk diproduksi. Artinya, melon yang dikonsumsi hari ini sebenarnya telah ditanam sekitar dua bulan sebelumnya.
Sementara sayuran membutuhkan waktu sekitar 30–45 hari, tergantung komoditasnya.
Kondisi tersebut membuat pengusaha pertanian harus memiliki kemampuan mengelola modal kerja dengan baik.
Selama menunggu panen, biaya operasional tetap berjalan. Gaji karyawan, kebutuhan produksi, perawatan tanaman, dan berbagai biaya lainnya harus tetap dibayar meskipun hasil panen belum masuk.
Inilah salah satu alasan mengapa modal bisnis pertanian tidak cukup hanya untuk membangun kebun. Pengusaha juga harus memikirkan running cost selama masa produksi.
Strategi Mengatur Arus Kas Bisnis Pertanian
Menariknya, Ayoda Farm tidak hanya mengandalkan satu jenis komoditas.
Komoditas dengan siklus berbeda digunakan untuk membantu menjaga arus kas bisnis.
Ayam dan bebek petelur misalnya dapat menghasilkan pemasukan harian setelah memasuki masa produksi.
Sayuran dapat diatur melalui siklus tanam sehingga pengiriman bisa dilakukan secara rutin. Sementara buah seperti melon memiliki siklus yang lebih panjang.
Untuk ikan nila, pola panen juga dapat dibuat lebih fleksibel dengan melakukan panen parsial.
Strategi tersebut membuat bisnis tidak harus menunggu seluruh komoditas dipanen secara bersamaan.
Konsep sederhananya adalah: komoditas dengan siklus berbeda digunakan untuk menjaga keberlangsungan cash flow usaha.
Omzet Bisnis Bisa Mencapai Rp1 Miliar Lebih per Bulan
Dalam perkembangannya, Bung Yadi menyebut kekuatan bisnis Ayoda Farm yang telah dijalankan berada di kisaran Rp1 miliar lebih per bulan, meskipun omzet dapat naik dan turun mengikuti siklus bisnis.
Namun, angka omzet tersebut bukan berarti seluruhnya menjadi keuntungan.
Ada kebutuhan modal yang harus diperhitungkan dengan matang.
Dalam bisnis distribusi ke retail modern, Ayoda Farm membeli hasil dari petani secara tunai. Setelah itu produk dikirim kepada retail, sementara pembayaran dari retail dapat memiliki jangka waktu yang lebih panjang.
Karena itu, pengusaha perlu memiliki modal yang cukup untuk menutup kebutuhan selama menunggu pembayaran.
Menurut Bung Yadi, setidaknya ada tiga kebutuhan modal yang harus diperhatikan, yaitu modal operasional, modal untuk membeli produk secara tunai, dan modal yang tertahan karena pembayaran dari retail.
Utang Hampir Rp1,7 Miliar Menjadi Titik Terendah
Di balik perkembangan Ayoda Farm, ada masa yang sangat berat dalam kehidupan Bung Yadi.
Ketika masih bekerja, ia menerima kabar bahwa ibunya sakit dan harus pulang ke Palembang. Namun saat itu ia bahkan tidak memiliki ongkos untuk pulang.
Tidak lama kemudian, ibunya meninggal dunia.
Bagi Bung Yadi, kehilangan tersebut sangat berat karena ibunya merupakan salah satu tempat untuk bercerita.
Beberapa waktu kemudian, mertuanya yang selama ini juga dianggap sebagai tempat belajar dan berbagi cerita turut meninggal dunia.
Pada saat yang sama, kondisi finansialnya sedang sangat buruk. Ia memiliki utang dalam jumlah besar, belum memiliki rumah sendiri, dan masih tinggal di kontrakan.
Rutinitas bekerja juga membuatnya harus bepergian jauh setiap hari. Ia berangkat ketika anaknya masih tidur dan pulang ketika anaknya sudah tidur.
Sempat Berhenti Salat karena Merasa Terpuruk
Tekanan yang dialami Bung Yadi tidak hanya berdampak pada kondisi finansial, tetapi juga mental dan spiritualnya.
Ia mengaku sempat berhenti salat selama sekitar enam bulan karena merasa sangat lelah dan kecewa dengan keadaan.
Baginya saat itu, berbagai persoalan datang bersamaan. Utang menumpuk, orang tua telah meninggal, rumah belum dimiliki, dan ia merasa belum mampu memberikan sesuatu yang membanggakan kepada orang tuanya.
Namun, sang istri terus mengingatkan agar ia memperbaiki salat dan kembali mendekat kepada Allah.
Nasihat tersebut kemudian menjadi salah satu titik balik dalam kehidupannya.
Ia kembali mencoba memperbaiki salat dan ibadahnya, sembari tetap melakukan usaha secara nyata.
Bagaimana Cara Melunasi Utang Rp1,6 Miliar?
Total utang Bung Yadi saat itu disebut mencapai sekitar Rp1,6 miliar hingga hampir Rp1,7 miliar.
Utang tersebut berasal dari berbagai sumber, termasuk kartu kredit, KTA, pinjaman online, dan utang lainnya.
Ia juga mengakui bahwa sebagian utang tersebut digunakan untuk modal usaha. Namun usaha yang dijalankan kemudian mengalami kebangkrutan dan tidak menyisakan aset seperti yang diharapkan.
Dalam kondisi tersebut, Bung Yadi tidak hanya mengandalkan satu sumber penghasilan.
Ia menggabungkan pengalaman di bidang IT dengan bisnis pertanian.
Dari dua bidang tersebut, ia melakukan ikhtiar untuk menyelesaikan kewajibannya.
Hasilnya, utang sekitar Rp1,6 miliar tersebut berhasil dilunasi dalam waktu dua tahun.
Pelajaran Penting: Ikhtiar, Sabar, dan Tawakal
Dari kisah tersebut, ada satu prinsip yang terus ditekankan Bung Yadi: manusia memiliki tugas untuk melakukan ikhtiar sebaik mungkin, sementara hasil akhirnya diserahkan kepada Allah.
Menurutnya, seseorang tidak perlu terlalu sibuk memikirkan sesuatu yang berada di luar jangkauan dirinya.
Hal yang bisa dilakukan adalah bekerja dengan benar, memperbaiki usaha, mengambil keputusan dengan baik, dan terus berusaha.
Setelah itu, hasilnya diserahkan kepada Allah.
Prinsip tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan Bung Yadi melewati masa sulit hingga akhirnya mampu melunasi utang Rp1,6 miliar dari hasil ikhtiar di bidang pertanian dan IT.
Jangan Ikut Hype Saat Memulai Bisnis Pertanian
Bung Yadi juga memberikan pesan bagi masyarakat yang ingin terjun ke bisnis pertanian.
Menurutnya, jangan memilih komoditas hanya karena sedang ramai dibicarakan.
Jangan sekadar ikut hype dan jangan FOMO.
Calon pengusaha harus terlebih dahulu memahami komoditas yang ingin dikembangkan.
Pelajari pasar, karakteristik tanaman, iklim, siklus produksi, kebutuhan modal, hingga jalur distribusinya.
Sebab, bisnis pertanian membutuhkan proses panjang. Kesalahan dalam menentukan komoditas dapat membuat modal tertahan selama berbulan-bulan sebelum hasilnya bisa diketahui.
Karena itu, pemahaman terhadap komoditas menjadi salah satu fondasi penting sebelum memulai usaha pertanian.
Kisah Lunasi Utang Rp1,6 Miliar dari Pertanian Bukan Sekadar Soal Uang
Perjalanan Bung Yadi menunjukkan bahwa keberhasilan bisnis tidak selalu dimulai dari kondisi yang ideal.
Ada masa ketika ia memiliki karier di bidang IT, kemudian mengalami kegagalan usaha, terlilit utang hampir Rp1,7 miliar, kehilangan orang-orang terdekat, dan bahkan sempat kehilangan semangat untuk beribadah.
Namun, kondisi tersebut tidak menjadi akhir perjalanan.
Dengan menggabungkan pengalaman, membangun bisnis pertanian, memperbaiki ibadah, dan terus melakukan ikhtiar, ia akhirnya berhasil melewati masa sulit tersebut.
Kini, Ayoda Farm tidak hanya menjadi sumber penghasilan. Bisnis tersebut juga diarahkan menjadi bagian dari ekosistem ketahanan pangan dan memberikan edukasi kepada masyarakat yang ingin mengenal dunia pertanian.
Bagi Bung Yadi, pencapaian terbesar bukan sekadar memiliki rumah atau meningkatkan omzet bisnis. Ia juga menyebut kesempatan untuk menunaikan umrah dan haji bersama keluarga serta memberangkatkan karyawan untuk umrah sebagai salah satu pencapaian yang sangat ia syukuri.
Kesimpulan
Kisah lunasi utang Rp1,6 miliar dari pertanian yang dialami Bung Yadi memberikan pelajaran bahwa jalan keluar dari masalah tidak selalu datang dengan cara yang instan.
Bisnis pertanian sendiri membutuhkan modal, penelitian, kesabaran, manajemen cash flow, dan pemahaman terhadap komoditas.
Namun di atas semuanya, diperlukan keberanian untuk kembali bangkit setelah mengalami kegagalan.
Seperti prinsip yang disampaikan Bung Yadi, manusia bertugas melakukan ikhtiar terbaik, sedangkan hasil akhirnya diserahkan kepada Allah.
Bagi siapa pun yang ingin memulai bisnis pertanian, jangan terburu-buru mengejar komoditas yang sedang viral. Pahami bisnisnya, hitung risikonya, siapkan modalnya, dan jalankan dengan sungguh-sungguh.
Karena dalam bisnis maupun kehidupan, terkadang keberhasilan bukan tentang seberapa cepat kita sampai, tetapi tentang seberapa kuat kita terus berjalan ketika keadaan sedang tidak berpihak.
