Berita Terkini

KNEKS dan ARC USK Hilirisasi Minyak Nilam Halal

Jakarta – Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) memperkuat rantai pasok industri halal nasional. Oleh karena itu, KNEKS menggandeng Atsiri Research Center Universitas Syiah Kuala (ARC-USK) memacu hilirisasi minyak nilam.

Kerja sama resmi ini tertuang lewat penandatanganan Implementation Agreement di Jakarta, Jumat (11/9/2026). Selain itu, langkah strategis ini dirancang guna meningkatkan daya saing UMKM serta memantapkan rantai nilai halal (Halal Value Chain).

Direktur Bisnis dan Kewirausahaan Syariah KNEKS Putu Rahwidhiyasa menyatakan ketersediaan bahan baku lokal mempermudah pemenuhan sertifikasi industri. Namun, substitusi impor bahan kimia farmasi tetap menjadi agenda utama.

“Berbagai penelitian minyak nilam yang dilakukan ARC sangat bermanfaat untuk menyediakan bahan baku alami yang halal untuk industri kosmetik dan farmasi. Hal ini juga mendukung penyediaan alternatif pengganti bahan baku kimiawi yang masih mengandalkan impor,” kata Putu. Dikutip dari REPUBLIKA.

Riset Panjang Nilam Aceh Tembus Pasar Kosmetik

ARC-USK telah mendedikasikan riset dan pendampingan petani nilam Aceh selama lebih dari 15 tahun. Oleh sebab itu, kebangkitan komoditas unggulan daerah ini mulai membuahkan hasil komersialisasi nyata.

Kepala ARC-USK Dr Syaifullah Muhammad menyambut baik dukungan penuh KNEKS terhadap riset nilam. Selanjutnya, inovasi turunan nilam terus dikembangkan demi memenuhi kebutuhan pasar global.

“Beberapa hasil penelitian telah mampu dikomersialisasikan oleh industri. Saat ini kami sedang melakukan pengembangan Crystal Patchouli alami yang sangat dibutuhkan oleh perusahaan kosmetik dan dibantu oleh KNEKS,” ujar Syaiful.

Lonjakan Harga dan Tantangan Rantai Pasok Industri

KNEKS mencatat kenaikan nilai ekspor komoditas nilam belum diimbangi penambahan luas lahan tanam. Sebaliknya, lonjakan harga bahan baku di pasar riil bergerak sangat cepat.

“Nilai ekspor minyak nilam mengalami kenaikan yang disebabkan terjadinya kenaikan harga jual yang belum dibarengi dengan penambahan luas lahan tanam. Harga minyak nilam sebelum Covid hanya Rp 100 ribu/kg, beberapa hari terakhir ini mencapai Rp 1,3 juta/kg. Bahkan beberapa tahun lalu pernah mencapai Rp 2 juta/kg,” ujar Deputi Direktur Kemitraan dan Akselerasi Usaha Syariah KNEKS, Iqbal.

Ekosistem nilam sebelumnya telah disokong berbagai lembaga, mulai dari Bank BSI, Pegadaian, KemenkopUKM, Bank Indonesia, hingga Kemendiktisaintek. Namun, integrasi ke sektor farmasi dan kosmetik masih perlu dipercepat.

“Namun masih diperlukan ketersambungan di industri kosmetik dan farmasi. Ini yang akan kita wujudkan dalam waktu dekat ini,” kata Iqbal.

Pada akhirnya, kolaborasi lintas sektor diharapkan mampu mengalirkan nilai tambah ekonomi secara berkeadilan, mulai dari petani, penyuling, hingga industri hilir.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button