Strategi Kementan Atasi Anjloknya Harga Telur Peternak
Jakarta – Anjloknya harga telur ayam di tingkat peternak hingga menyentuh kisaran Rp20.600 hingga Rp22.000 per kilogram memicu alarm keras bagi ketahanan pangan mandiri. Langkah intervensi cepat kini mutlak diperlukan guna menyelamatkan nasib para peternak mandiri dari risiko gulung tikar massal.
Intervensi Satgas Pangan dan Off-taker Besar
Oleh karena itu, Kementerian Pertanian langsung mengambil tindakan tegas dengan menginstruksikan korporasi penyerap hasil produksi untuk bergerak aktif. Pemerintah meminta perusahaan-perusahaan mitra strategis tersebut membeli komoditas dari peternak sesuai regulasi baku.
Selanjutnya, langkah taktis ini dirancang agar fluktuasi harga di pasar tidak semakin liar bergulir bebas tanpa kendali. Proses pengawasan ketat pun dilakukan untuk memastikan kepatuhan korporasi di lapangan secara konsisten.
“Tetapi untuk sementara kita menghimbau seluruh perusahaan besar yang menjadi off-taker, dibeli dengan standar pemerintah, dibawah pengawasan Satgas Pangan,” kata Amran di Kantor Kementerian Pertanian. Dikutip dari liputan6.com.
Optimalisasi Program Makan Bergizi Gratis
Selain itu, penurunan drastis penyerapan pasar disinyalir terjadi akibat masa libur lembaga pendidikan di berbagai daerah. Namun, pemerintah optimistis bahwa penyesuaian porsi pasokan dalam program nasional akan mampu memulihkan keseimbangan ekosistem usaha ternak.
“Yang pertama adalah BGN, Kepala BGN langsung kami telepon, yang kedua adalah penyerapan, yang ketiga adalah pakannya ada SPHP, yang subsidi, pakan ternak, dari jagung, dari Bulog,” tuturnya.
Pemerintah terus mengupayakan skema jaring pengaman logistik yang terintegrasi dari hulu hingga hilir guna mengamankan margin keuntungan peternak rakyat.
“Bu Nanik luar biasa. Beliau katakan konsumsi telur satu butir dinaikkan menjadi tiga butir per minggu. Ya, minimal setelah libur ini, naik lagi,” ujar dia.
Penyelamatan Komoditas Melalui Distribusi SPPG
Sementara itu, Kementerian Perdagangan juga menegaskan pentingnya fleksibilitas pengalihan komoditas pangan yang harganya sedang jatuh di pasar domestik. Skema serupa siap diimplementasikan pada komoditas unggas lain apabila terjadi kondisi darurat yang sama.
“Telur sempat harganya turun kita langsung berkoordinasi dengan MBG. Sehingga telur yang harganya di bawah HET (Harga Eceran Tertinggi) bisa diserap ya di SPPG di daerah setempat,” ujar Budi di Kantor Kementerian Perdagangan, Senin (8/6/2026).
“Tidak hanya telur, kebutuhan pokok yang nanti turun misalnya ayam. Ayam kalau harga turun juga bisa diserap MBG,” tambahnya.
Pada akhirnya, efektivitas penyerapan berbasis program strategis ini akan menentukan daya tahan industri peternakan nasional dalam jangka panjang.
