Strategi Bisnis Komar: Dari Satu Mesin Kopi hingga Ekspansi Puluhan Outlet
Pertumbuhan sebuah bisnis sering kali identik dengan modal besar, sumber daya yang lengkap, dan perencanaan yang matang sejak awal. Namun, perjalanan Komar menunjukkan cerita yang berbeda. Berawal dari satu mesin kopi dan semangat untuk membangun usaha bersama, Komar berkembang menjadi sebuah ekosistem bisnis berbasis koperasi yang memiliki puluhan outlet dan ratusan anggota serta pekerja.
Kisah tersebut dibagikan oleh Wandy Pratama dalam POLA TALKS. Perjalanan Komar tidak hanya berbicara tentang penjualan kopi, tetapi juga mengenai strategi bisnis Komar, pemilihan lokasi, konsep koperasi, pengembangan sumber daya manusia, hingga rencana ekspansi ke Jakarta.
Awal Perjalanan Komar
Komar pertama kali hadir pada 2020, ketika pandemi COVID-19 mulai melanda. Pada tahun tersebut, sebuah outlet dibuka di kawasan Alauddin. Setahun kemudian, Komar kembali membuka cabang di Todopuli.
Namun, perjalanan awal tersebut tidak berjalan mulus. Keterbatasan pengetahuan dan pengalaman dalam menjalankan bisnis membuat kedua outlet akhirnya berhenti beroperasi. Setelah itu, terdapat jeda sekitar dua tahun sebelum Komar kembali dibangun melalui outlet di Pasar Senggol.
Menariknya, modal awal untuk membangun kembali bisnis tersebut sangat sederhana. Setelah berhenti bekerja di sebuah perusahaan investasi di Makassar, Wandy masih memiliki satu mesin kopi dari bisnis Komar sebelumnya. Mesin tersebut kemudian dinilai sekitar Rp15 juta dan dijadikan modal awal untuk membangun kembali usaha.
Ia kemudian mengajak sekitar sembilan orang teman untuk bergabung. Alih-alih menggunakan model bisnis konvensional, mereka memilih konsep koperasi sebagai fondasi usaha.
Koperasi sebagai Fondasi Strategi Bisnis Komar
Salah satu hal yang membedakan strategi bisnis Komar adalah penggunaan konsep koperasi. Sejak awal, bisnis ini tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan keuntungan bagi satu orang, tetapi membangun kepemilikan dan pertumbuhan bersama.
Sembilan orang yang berada di fase awal masih menjadi bagian dari perjalanan Komar. Seiring perkembangan usaha, jumlah anggota koperasi meningkat hingga sekitar 55 orang dalam pembicaraan tersebut.
Bahkan, sejumlah orang yang awalnya bekerja sebagai kru outlet kemudian mendapatkan kesempatan untuk berkembang menjadi bagian dari rantai pasok, memiliki outlet, atau melakukan investasi di koperasi.
Konsep tersebut kemudian berkembang menjadi gagasan yang lebih besar, yaitu membangun ekosistem ekonomi berbasis syariah. Dalam ekosistem ini, setiap orang diharapkan tidak hanya bekerja, tetapi juga memiliki kesempatan untuk meningkatkan kapasitas dan kondisi ekonominya.
Mengapa Memilih Pasar Senggol?
Pemilihan lokasi menjadi bagian penting dalam strategi bisnis Komar. Pasar Senggol dipilih bukan sekadar karena tersedia tempat kosong, tetapi setelah dilakukan pencarian dan pertimbangan terhadap kondisi lokasi.
Pada awalnya, terdapat keinginan untuk membuka usaha di kawasan Tamalate. Namun, setelah beberapa hari mencari lokasi, ditemukan tiga tempat yang dapat disewa di Pasar Senggol.
Harga sewa awal yang ditawarkan berada di luar anggaran. Negosiasi kemudian dilakukan hingga mendapatkan harga yang lebih sesuai. Kesepakatan tersebut menjadi salah satu titik penting yang memungkinkan Komar kembali beroperasi.
Masalah lain muncul setelah outlet mulai berjalan. Pasar Senggol ternyata memiliki persoalan parkir yang cukup kompleks. Komar kemudian mencoba mencari solusi dengan berkomunikasi dan membangun kesepakatan dengan pihak-pihak yang berkaitan dengan area parkir.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa menjalankan bisnis di lokasi tertentu tidak cukup hanya dengan melihat jumlah calon pelanggan. Pengusaha juga perlu memahami kondisi lingkungan dan persoalan yang mungkin memengaruhi pengalaman konsumen.
Ekspansi Berdasarkan Profil Pasar
Ketika jumlah outlet mulai bertambah, Komar tidak sekadar membuka cabang secara acak. Penentuan lokasi dilakukan berdasarkan profil pasar, demografi, lalu lintas masyarakat, dan karakteristik kawasan.
Contohnya, Tamalate dipilih karena merupakan kawasan permukiman dan menjadi jalur yang sering dilewati masyarakat menuju beberapa area di Makassar. Sementara itu, Pasar Senggol memiliki potensi dari aktivitas pejalan kaki pada malam hari.
Kemudian, Komar mulai berani masuk ke lokasi di jalan utama seperti kawasan Perintis. Langkah tersebut menunjukkan adanya tahapan dalam ekspansi: mulai dari lokasi yang dekat dengan komunitas dan pasar tertentu, kemudian bergerak ke area yang lebih besar dan strategis.
Namun, ekspansi tidak selalu langsung menghasilkan performa maksimal. Outlet di Perintis, misalnya, disebut membutuhkan waktu sekitar tiga bulan sebelum penjualannya mulai stabil.
Hal tersebut menjadi pelajaran penting bahwa strategi bisnis Komar tidak hanya mengandalkan pembukaan outlet sebanyak mungkin. Setiap lokasi membutuhkan waktu untuk menemukan pola penjualan dan mencapai kondisi yang lebih stabil.
Menjual Produk Berkualitas dengan Harga Terjangkau
Strategi lainnya berkaitan dengan penentuan harga. Dalam pembicaraan tersebut, harga produk Komar disebut berada di kisaran Rp13.000. Salah satu pertimbangannya adalah kondisi ekonomi masyarakat dan adanya kebutuhan terhadap produk kopi yang tetap enak tetapi lebih terjangkau.
Konsep ini menyasar konsumen yang sebelumnya mungkin membeli kopi dengan harga Rp25.000 hingga Rp26.000 di kedai kopi lain, tetapi kemudian membutuhkan alternatif yang lebih ramah terhadap pengeluaran.
Komar berusaha mempertahankan kualitas rasa sambil menawarkan harga yang lebih affordable. Dari sisi bisnis, pendekatan tersebut menggunakan konsep margin yang relatif tipis tetapi mengejar volume penjualan yang besar.
Dengan kata lain, salah satu bagian dari strategi bisnis Komar adalah mempertemukan tiga hal: harga yang dapat diterima pasar, kualitas produk, dan volume penjualan.
Dari Makassar Menuju Jakarta
Setelah berkembang di Makassar, langkah berikutnya adalah memasuki Jakarta. Keputusan tersebut didasarkan pada besarnya potensi pasar Jakarta dibandingkan Makassar.
Dalam pembicaraan tersebut, pasar Jakarta disebut memiliki ukuran yang jauh lebih besar. Karena itu, Komar melihat Jakarta sebagai peluang untuk menguji apakah model bisnis yang berhasil di Makassar dapat direplikasi di pasar yang lebih luas.
Menariknya, ekspansi tersebut juga tidak hanya berdasarkan perhitungan pasar. Faktor sumber daya manusia ikut berperan.
Ketika ditanyakan siapa yang bersedia dikirim ke Jakarta, Arham mengajukan diri. Ia sebelumnya sudah terlibat dalam perjalanan Komar sejak berada di outlet. Dengan demikian, ekspansi ke kota baru juga memberikan kesempatan bagi anggota internal untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar.
Target Puluhan Outlet di Jakarta
Jakarta dipandang memiliki karakteristik pasar yang berbeda. Jika sebuah outlet dibuka di satu kawasan Makassar, pelanggan dari wilayah sekitar relatif mungkin mengetahui keberadaannya. Di Jakarta, luas wilayah dan mobilitas masyarakat membuat tantangannya jauh lebih besar.
Karena itu, dalam perencanaan yang disampaikan, Komar melakukan pemetaan Jakarta terlebih dahulu. Target yang dibicarakan berada pada kisaran 30 hingga 40 outlet di Jakarta sebelum memperluas jaringan ke wilayah penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa ekspansi sebaiknya dilakukan secara bertahap. Bisnis perlu memastikan modelnya terbukti dan menguntungkan di suatu pasar sebelum bergerak lebih jauh.
Mengembangkan SDM dari Dalam
Pertumbuhan bisnis yang cepat membutuhkan banyak tenaga kerja. Dalam pembicaraan tersebut, jumlah orang yang terlibat dalam ekosistem Komar disebut telah mencapai sekitar 600 orang, termasuk pekerja outlet dan kantor pusat.
Namun, pendekatan Komar terhadap perekrutan juga cukup berbeda. Untuk posisi tertentu, terutama di outlet, mereka justru memberikan kesempatan kepada orang-orang yang tidak memiliki latar belakang pendidikan tinggi.
Tujuannya bukan hanya mengisi posisi pekerjaan, tetapi memberikan ruang bagi orang-orang tersebut untuk bertumbuh. Beberapa pekerja yang awalnya berada di outlet kemudian berkembang hingga mengisi posisi manajerial dan kantor pusat.
Salah satu contohnya adalah Arham yang berkembang dari kru outlet menjadi manajer operasional cabang wilayah.
Pendekatan ini menjadi bagian penting dari strategi bisnis Komar karena pertumbuhan perusahaan berjalan beriringan dengan pengembangan orang-orang di dalamnya.
Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Jaringan Kedai Kopi
Pada akhirnya, Komar tidak ingin berhenti sebagai jaringan outlet kopi. Fondasi koperasi membuat arah pengembangannya menjadi lebih luas.
Gagasan yang dibangun adalah menciptakan ekosistem ekonomi syariah yang memungkinkan anggota saling mendukung dan berkembang secara ekonomi. Konsep tersebut kemudian diwujudkan melalui berbagai bagian dalam ekosistem, termasuk layanan untuk menabung dan berinvestasi, koperasi jasa, media, serta koperasi yang berkaitan dengan penyediaan bahan baku.
Dengan model seperti ini, bisnis tidak hanya dipandang sebagai tempat untuk menjual produk. Bisnis juga menjadi wadah pembelajaran, kepemilikan bersama, dan pengembangan ekonomi anggota.
Pelajaran dari Strategi Bisnis Komar
Perjalanan Komar memberikan sejumlah pelajaran menarik bagi pelaku usaha.
Pertama, modal awal bukan satu-satunya penentu keberhasilan bisnis. Komar kembali memulai usaha dengan aset yang masih tersisa, yaitu satu mesin kopi.
Kedua, pemilihan lokasi harus berdasarkan karakteristik pasar. Setiap outlet memiliki alasan tersendiri mengapa ditempatkan di kawasan tertentu.
Ketiga, harga harus disesuaikan dengan kondisi konsumen. Produk yang berkualitas tidak selalu harus dipasarkan dengan harga tinggi apabila perusahaan mampu mengatur biaya dan mengejar volume.
Keempat, ekspansi membutuhkan kesiapan operasional dan SDM. Pertumbuhan yang terlalu cepat dapat menimbulkan masalah apabila sistem dan sumber daya manusia belum siap. Dalam pembicaraan tersebut, bahkan terdapat kekhawatiran bahwa ekspansi berlebihan dapat menyebabkan operasional berantakan dan turnover tinggi.
Kelima, orang-orang di dalam bisnis merupakan bagian dari pertumbuhan perusahaan. Komar memberikan ruang bagi kru outlet untuk berkembang hingga menduduki posisi yang lebih tinggi.
Dan yang terakhir, bisnis dapat dibangun sebagai ekosistem. Melalui konsep koperasi, tujuan yang ingin dicapai bukan hanya pertumbuhan outlet, tetapi juga kekuatan ekonomi bersama.
Kesimpulan
Perjalanan Komar dari satu mesin kopi hingga membangun jaringan outlet menunjukkan bahwa pertumbuhan bisnis tidak selalu dimulai dari sumber daya yang besar. Yang lebih penting adalah bagaimana modal yang tersedia dimanfaatkan, bagaimana pasar dipahami, dan bagaimana orang-orang di dalam organisasi ikut berkembang.
Strategi bisnis Komar bertumpu pada beberapa fondasi utama: konsep koperasi, pemilihan lokasi berdasarkan pasar, produk yang terjangkau, ekspansi bertahap, pengembangan SDM, serta pembangunan ekosistem ekonomi syariah.
Dari Makassar hingga Jakarta, perjalanan tersebut memperlihatkan sebuah upaya untuk membuktikan bahwa bisnis dapat berkembang sekaligus menciptakan manfaat bagi orang-orang yang berada di dalamnya. Pada akhirnya, gagasan utama yang muncul dari perjalanan Komar bukan sekadar bagaimana membuka lebih banyak outlet, tetapi bagaimana membangun sebuah ekosistem agar para anggotanya dapat tumbuh dan kuat bersama secara ekonomi.
Sumber:
POLA, (2026, Aug 7). POLA TALKS #01 | Wandy Pratama: Perjalanan Membangun KOMAR Indonesia [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=xov7Ao_fPwQ
