Terjerat Utang Rp400 Juta, Lunas Berkat Usaha Roti Sourdough
Memulai usaha tidak selalu berawal dari kondisi yang ideal. Ada kalanya seseorang membangun bisnis justru setelah melewati masa sulit, terlilit utang, mengalami kegagalan, hingga hampir kehilangan harapan.
Kisah Rio Adrianto Yudi Satrio, pemilik bakery di Purwokerto, menjadi salah satu contoh perjalanan tersebut. Dari pengalaman bisnis ikan koi yang membawa persoalan utang hingga kondisi keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia akhirnya menemukan jalan baru melalui usaha roti sourdough.
Menariknya, bisnis tersebut bukan langsung sukses. Bakery yang dirintis bersama istrinya sempat sepi selama berbulan-bulan. Mereka kemudian mencoba berjualan di car free day (CFD), mengembangkan roti gandum, membuat konten di media sosial, hingga akhirnya memperkenalkan berbagai produk berbasis sourdough.
Berawal dari Kecintaan terhadap Roti
Kecintaan Rio terhadap dunia roti sebenarnya sudah muncul sejak kecil. Ia terbiasa melihat ibunya membuat roti di rumah. Ketertarikan tersebut kemudian semakin serius ketika memasuki masa kuliah.
Ia mengikuti beberapa kursus membuat roti. Setelah lulus kuliah, Rio sempat bekerja di Jakarta sebagai fotografer profesional. Namun kecintaannya terhadap dunia kuliner, khususnya roti, tetap berlanjut.
Setelah bertemu dengan istrinya yang juga memiliki hobi membuat roti, keduanya mulai belajar membuat roti Jepang. Mereka kemudian mencoba menjadikan keterampilan tersebut sebagai usaha.
Pada awalnya, penjualan dilakukan dari rumah dengan sistem open pre-order. Mereka juga menitipkan produk ke sejumlah kantin sekolah. Sebelum serius menekuni roti Jepang, mereka pernah mencoba menjual brownies, roti, kue balok, dan berbagai makanan lainnya.
Perjalanan tersebut menjadi proses bagi mereka untuk menemukan produk yang paling sesuai dengan kemampuan dan pasar.
Bakery Sempat Sepi Selama Berbulan-bulan
Setelah memutuskan membuka bakery kecil, masalah baru muncul. Toko yang mereka buka ternyata tidak langsung ramai.
Produksi sudah dilakukan, tetapi pembeli belum banyak. Bahkan, Rio dan istrinya harus berbagi tugas. Salah satu bekerja di dapur, sementara yang lain menjaga bagian depan dan kasir.
Kondisi tersebut berlangsung sekitar sembilan hingga sepuluh bulan. Situasi yang tidak kunjung membaik bahkan membuat istrinya sempat ingin menyerah.
Namun mereka tidak berhenti mencoba.
Salah satu langkah yang kemudian mengubah arah bisnis adalah berjualan di CFD. Di Purwokerto terdapat beberapa lokasi CFD, dan mereka memilih berjualan di Menara Teratai setelah lokasi CFD lainnya sudah cukup padat oleh pedagang.
Awalnya mereka membawa produk donat Jepang yang diberi nama donat kapas Jepang.
Donat Sempat Viral, tetapi Penjualan Kembali Turun
Strategi berjualan di CFD sempat memberikan hasil yang sangat baik. Mereka memanfaatkan media sosial seperti TikTok dan Instagram untuk memperkenalkan produk.
Konten mengenai donat yang mereka jual kemudian menjadi viral.
Pada masa tersebut, penjualan bahkan pernah mencapai sekitar 500 buah donat dalam sehari. Namun tingginya permintaan ternyata juga menghadirkan persoalan baru.
Produksi donat membutuhkan waktu dan tenaga yang cukup besar. Rio dan istrinya bahkan harus bekerja sampai tidak memiliki cukup waktu untuk beristirahat.
Mereka kemudian memutuskan merekrut karyawan.
Sayangnya, setelah karyawan bergabung, penjualan justru mengalami penurunan. Dari sekitar 500 hingga hampir 600 buah, penjualan kemudian turun dan bertahan di kisaran 150–200 buah per hari.
Masalah lain muncul ketika mereka mulai kesulitan membayar gaji karyawan.
Situasi tersebut kembali membuat usaha mereka berada dalam tekanan.
Ide Roti Gandum Muncul di Tengah Keramaian CFD
Di tengah kondisi tersebut, Rio memperhatikan karakter orang-orang yang datang ke CFD.
Banyak pengunjung CFD datang untuk berolahraga, berlari, atau menjaga pola makan. Dari pengamatan sederhana tersebut, ia menyadari bahwa donat mungkin bukan produk yang paling sesuai dengan kebutuhan sebagian pengunjung.
Dari sinilah muncul ide membuat roti gandum.
Rio kemudian mencoba membuat roti gandum dengan konsep yang berbeda. Produk tersebut dibuat tanpa susu, telur, butter, dan gula. Gula kemudian diganti menggunakan madu, sedangkan butter diganti dengan minyak canola.
Pada tahap awal, bentuk rotinya masih sederhana. Namun yang terpenting, produk tersebut sudah dapat dibawa dan dijual di CFD.
Ia kemudian membuat papan informasi yang menjelaskan karakteristik roti tersebut. Tulisan mengenai roti gandum tanpa telur, susu, dan gula dibuat cukup besar agar mudah dilihat pengunjung.
Hasilnya cukup mengejutkan.
Roti gandum tersebut laris dan habis terjual. Setelah dihitung, hasil penjualannya bahkan lebih besar dibandingkan ketika mereka menjual donat.
Dari Roti Gandum Beralih ke Sourdough
Keberhasilan roti gandum membuat semangat Rio dan istrinya kembali tumbuh.
Mereka mulai mengembangkan berbagai varian produk. Namun pelanggan kemudian mengajukan pertanyaan yang membuat mereka berpikir lebih jauh.
Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah mengenai jenis ragi yang digunakan.
Apakah menggunakan ragi instan atau ragi alami?
Rio sebenarnya sudah pernah mencoba membuat starter sourdough, tetapi percobaan sebelumnya belum berhasil. Karena semakin banyak pelanggan yang menanyakan ragi alami, ia kembali mencoba membuatnya.
Setelah melalui proses yang cukup panjang, akhirnya starter sourdough berhasil dibuat.
Menurut cerita Rio, proses mempersiapkan starter tersebut membutuhkan waktu hampir satu bulan hingga siap digunakan. Selama proses tersebut, mereka tetap menjual roti gandum sambil menunggu starter sourdough berkembang.
Apa Itu Roti Sourdough?
Dalam proses pembuatannya, sourdough menggunakan fermentasi campuran tepung dan air. Berbeda dengan penggunaan ragi instan, proses fermentasi sourdough membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang.
Starter sourdough perlu dirawat dan diberi tambahan tepung serta air secara berkala. Rio menggambarkannya seperti merawat makhluk hidup karena starter tersebut harus dijaga agar tetap aktif dan stabil.
Proses tersebut menjadi salah satu tantangan dalam produksi roti sourdough.
Selain pembuatan starter, proses produksi roti sourdough secara keseluruhan juga membutuhkan waktu lebih lama. Dalam pengalaman bakery Rio, proses dari persiapan hingga roti siap dipanggang dapat berlangsung sekitar 24 jam atau lebih.
Artinya, roti yang dijual hari ini sebenarnya sudah dipersiapkan sejak hari sebelumnya.
Roti Sourdough Tidak Sama dengan Gluten-Free
Salah satu hal yang ditekankan Rio adalah jangan menyamakan roti sourdough dengan produk bebas gluten.
Roti sourdough yang mereka produksi tetap menggunakan tepung terigu. Karena itu, produk tersebut bukan gluten-free.
Mereka lebih memilih menjelaskan bahwa proses fermentasi yang panjang dapat membuat karakter gluten menjadi lebih mudah diterima oleh sebagian orang dibandingkan roti yang dibuat dengan metode tertentu.
Dalam transkrip, Rio juga menyebut bahwa ia pernah membaca klaim mengenai penurunan gluten dalam proses sourdough, tetapi ia sendiri belum melakukan pengukuran terhadap produk buatannya.
Karena itu, istilah yang digunakan bukan “bebas gluten”, melainkan lebih rendah atau lebih mudah ditoleransi dalam konteks pengalaman yang mereka amati.
Hal ini penting bagi pelaku usaha makanan: klaim kesehatan sebuah produk sebaiknya disampaikan secara hati-hati dan tidak berlebihan.
Semua Produk Mulai Menggunakan Sourdough Starter
Pada awalnya, sourdough hanya digunakan untuk produk roti gandum.
Namun seiring berkembangnya usaha, Rio dan istrinya mulai menggunakan sourdough starter untuk berbagai produk bakery mereka.
Mereka juga mengembangkan perpaduan antara teknik roti Jepang yang telah mereka pelajari dengan teknik sourdough.
Hasilnya adalah konsep soft sourdough, yaitu roti sourdough dengan tekstur yang lebih lembut dibandingkan jenis sourdough yang identik dengan roti bertekstur keras.
Selain soft sourdough, mereka juga memproduksi jenis roti sourdough yang lebih klasik seperti baguette dan focaccia.
Namun berdasarkan pengalaman mereka, produk soft sourdough justru menjadi salah satu yang paling banyak diminati.
Menemukan Target Pasar yang Tidak Disangka
Pada awalnya, target pasar roti gandum mereka cukup spesifik.
Rio membayangkan konsumen utamanya adalah orang-orang yang sedang berolahraga, berlari, atau berusaha mengatur pola makan.
Namun ternyata respons pasar berkembang di luar perkiraan.
Ada pelanggan yang sebelumnya memang sudah terbiasa mengonsumsi roti sourdough. Bahkan sebagian pelanggan sebelumnya harus membeli roti tersebut dari kota lain seperti Yogyakarta atau Bandung.
Ketika produk sourdough tersedia di Purwokerto, mereka tidak perlu lagi memesan dari luar kota.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa menentukan target pasar memang penting, tetapi pelaku usaha juga harus terbuka terhadap kemungkinan munculnya segmen konsumen baru.
Media Sosial Membantu Memperkenalkan Produk
Selain berjualan secara langsung di CFD, Rio dan istrinya memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan bakery mereka.
Konten sederhana mengenai aktivitas berjualan ternyata beberapa kali mendapatkan perhatian besar di TikTok.
Menariknya, strategi konten mereka tidak dibuat dengan formula yang rumit.
Rio menceritakan bahwa istrinya lebih aktif membuat dan mengunggah konten. Mereka mengunggah foto atau video, memilih waktu tertentu untuk mengunggah, menggunakan hashtag, dan kemudian membiarkan konten berkembang secara organik.
Dari sinilah semakin banyak orang mengenal produk mereka.
Bagi usaha bakery kecil, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa media sosial dapat menjadi sarana promosi yang relatif mudah digunakan untuk memperkenalkan produk kepada calon pelanggan.
Sebelum Bakery, Rio Pernah Menjadi Fotografer
Perjalanan bisnis Rio tidak dimulai dari bakery.
Sebelumnya, ia memiliki karier sebagai fotografer profesional dan bekerja di Jakarta. Ia juga mengerjakan pekerjaan digital imaging untuk kebutuhan majalah, iklan, dan billboard.
Dunia fotografi pernah memberikan penghasilan yang cukup besar.
Dalam ceritanya, ia pernah mendapatkan bayaran tinggi dari proyek fotografi dan editing. Namun seiring waktu, ia merasa ada sesuatu yang kurang dalam kehidupan yang dijalaninya.
Rio kemudian mulai aktif mengikuti kajian di masjid ketika berada di Jakarta.
Dari proses tersebut, ia memutuskan meninggalkan dunia fotografi dan kembali ke Purwokerto.
Pernah Menekuni Bisnis Ikan Koi
Setelah meninggalkan fotografi, Rio sempat menekuni hobi ikan koi.
Ia membuat kolam di rumah orang tuanya dan mulai mengikuti komunitas ikan koi. Dari hobi tersebut, ia kemudian mencoba membudidayakan dan menjual ikan koi.
Usaha tersebut sempat menghasilkan keuntungan besar.
Ia bahkan pernah menjadi perantara transaksi ikan koi bernilai tinggi. Namun bisnis tersebut juga memiliki risiko yang besar.
Ketika harga ikan mengalami perubahan dan ada ikan impor yang mati, kerugian yang dialaminya cukup besar.
Situasi tersebut akhirnya membuat Rio kembali terjerat utang.
Utang Membawa Dampak Besar bagi Keluarga
Dampak utang tidak hanya dirasakan dalam bisnis, tetapi juga dalam kehidupan keluarga.
Dalam kondisi paling sulit, Rio menceritakan bahwa keluarganya sampai mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Membeli beras pun menjadi persoalan. Mereka harus menghemat kebutuhan rumah tangga, sementara anak mereka masih kecil dan membutuhkan berbagai keperluan.
Pengalaman tersebut membuat Rio semakin menyadari beratnya dampak utang terhadap kehidupan keluarga.
Ia kemudian bertekad menyelesaikan seluruh tanggungan tersebut.
Berusaha Melunasi Utang Sedikit Demi Sedikit
Rio bersama istrinya kemudian berusaha keluar dari kondisi tersebut.
Selain melakukan ikhtiar secara bisnis, ia juga menceritakan bahwa mereka memperbanyak taubat dan berdoa kepada Allah.
Ketika mendapatkan rezeki, ia berusaha mengalokasikannya untuk membayar utang.
Tidak peduli jumlahnya besar atau kecil, pembayaran tetap dilakukan secara bertahap.
Pada akhirnya, seluruh utang tersebut dapat dilunasi.
Pengalaman itu menjadi titik balik penting dalam kehidupan keluarga mereka.
Memulai Bakery dengan Modal dari Aset yang Dimiliki
Setelah memutuskan meninggalkan bisnis sebelumnya, Rio memilih kembali ke bidang yang memang ia kuasai, yaitu membuat roti.
Bersama istrinya, ia mulai membangun bakery kecil.
Untuk mendapatkan modal, ia menjual tanah yang sebelumnya digunakan untuk kolam ikan. Tanah tersebut terjual sekitar Rp100 juta dan sebagian dana digunakan sebagai modal usaha bakery.
Ia juga mendapatkan informasi mengenai bakery yang sudah tidak beroperasi di Depok. Peralatan seperti oven dan mixer kemudian dibeli untuk membantu memulai usaha.
Sebelum memiliki peralatan tersebut, mereka bahkan pernah menjalankan open PO dengan oven sederhana.
Artinya, usaha bakery tersebut tidak langsung dibangun dengan fasilitas besar. Mereka memulainya dari kemampuan dan peralatan yang tersedia.
Dari Usaha Kecil hingga Produk Sourdough Berkembang
Perjalanan usaha Rio memperlihatkan bahwa perkembangan bisnis tidak selalu berjalan lurus.
Mereka pernah menjual brownies, donat, roti Jepang, kemudian roti gandum, hingga akhirnya fokus mengembangkan roti sourdough.
Setiap kegagalan memberikan informasi baru mengenai apa yang disukai pasar.
Donat yang sempat viral memberikan pengalaman mengenai pemasaran dan produksi. CFD memberikan kesempatan untuk mengamati langsung karakter calon pelanggan. Roti gandum membuka segmen konsumen baru. Pertanyaan pelanggan mengenai ragi kemudian mendorong mereka mendalami sourdough.
Dari rangkaian proses tersebut, lahirlah identitas usaha bakery yang lebih kuat.
Setelah Utang Lunas, Kehidupan Terasa Lebih Tenang
Bagi Rio, keberhasilan terbesar bukan hanya meningkatnya penjualan.
Setelah utang lunas, ia merasa kehidupan keluarganya menjadi lebih tenang.
Hubungan dengan istri menjadi lebih baik. Waktu bersama anak juga lebih banyak. Ia merasa lebih leluasa menjalankan ibadah dan mengajak keluarganya mengikuti kegiatan keagamaan.
Ia juga merasakan adanya perubahan dalam suasana rumah tangga yang sebelumnya sering diwarnai tekanan.
Menurut pengalaman pribadinya, keberhasilan melunasi utang memberikan ketenangan yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar memperoleh penghasilan tinggi.
Pelajaran dari Perjalanan Usaha Roti Sourdough
Kisah ini memberikan sejumlah pelajaran menarik bagi siapa saja yang ingin membangun bisnis bakery.
1. Jangan takut mengubah produk
Ketika donat tidak lagi memberikan hasil yang diharapkan, Rio tidak memaksakan produk tersebut.
Ia mengamati pasar dan menemukan peluang melalui roti gandum.
2. Perhatikan kebutuhan konsumen
Ide roti gandum muncul karena Rio melihat banyak orang berolahraga di CFD.
Pengamatan sederhana tersebut kemudian menghasilkan ide produk baru.
3. Gunakan media sosial sebagai sarana promosi
Konten sederhana tentang aktivitas jualan ternyata mampu membuat produk mereka dikenal lebih luas.
4. Jangan berhenti melakukan eksperimen
Perjalanan dari roti gandum menuju roti sourdough terjadi karena mereka terus mencoba dan mempelajari teknik baru.
5. Kelola utang dengan serius
Pengalaman Rio menunjukkan bahwa utang dapat memberikan tekanan besar terhadap bisnis maupun keluarga.
Karena itu, kemampuan mengelola keuangan menjadi bagian penting dalam membangun usaha.
6. Mulai dari kemampuan yang dimiliki
Rio memiliki pengalaman membuat roti dan kemudian bertemu dengan pasangan yang memiliki minat serupa.
Kemampuan tersebut menjadi modal penting untuk memulai usaha bakery.
Peluang Usaha Roti Sourdough Masih Terbuka
Perjalanan bakery Rio juga menunjukkan bahwa produk makanan dapat berkembang dari kebutuhan pasar yang spesifik.
Roti sourdough tidak hanya dipasarkan sebagai roti biasa. Ada konsumen yang memang mencari produk dengan proses fermentasi alami dan karakter rasa tertentu.
Namun pelaku usaha tetap perlu memahami produknya dengan baik.
Jangan menggunakan klaim kesehatan secara berlebihan. Jangan pula menyebut produk sourdough sebagai gluten-free jika masih menggunakan tepung terigu.
Kejujuran dalam menjelaskan produk justru dapat membantu membangun kepercayaan konsumen dalam jangka panjang.
Penutup
Kisah Rio membuktikan bahwa perjalanan membangun usaha roti sourdough tidak selalu dimulai dari modal besar dan kondisi yang nyaman.
Ia pernah mengalami masa sulit, mulai dari bisnis yang tidak berkembang, penjualan yang turun, kesulitan membayar karyawan, hingga persoalan utang yang berdampak langsung pada kehidupan keluarga.
Namun dari berbagai kegagalan tersebut, muncul keberanian untuk mencoba jalan baru.
Berawal dari berjualan di CFD, mengembangkan roti gandum, memanfaatkan media sosial, hingga belajar membuat sourdough starter, usaha bakery mereka akhirnya berkembang.
Yang paling penting, keberhasilan tersebut menurut Rio bukan sekadar mengenai meningkatnya penjualan. Setelah utang lunas, ia merasa memperoleh sesuatu yang jauh lebih berharga: ketenangan dalam keluarga, waktu bersama orang-orang terdekat, serta kesempatan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa dalam membangun bisnis, kegagalan bukan selalu akhir dari perjalanan. Terkadang, justru dari kegagalan itulah seseorang menemukan produk, pasar, dan arah usaha yang paling sesuai.
Sumber:
Pecah Telur. (2026, Aug 7). Terjerat Hutang 400 Juta! Lunas Berkat Jual Roti Sehat, Market Pelari Kalcer [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=xov7Ao_fPwQ
