Pemerintah Stabilkan Pasokan Cabai Rawit Lewat Mobilisasi Stok
Jakarta – Pemerintah bergerak cepat meredam lonjakan harga cabai rawit di pasar domestik. Oleh karena itu, Badan Pangan Nasional bersama Kementerian Pertanian menggencarkan kembali program Fasilitasi Distribusi Pangan.
Skema ini memobilisasi surplus pasokan pangan dari sentra produksi menuju daerah yang mengalami defisit. Selain itu, keterlibatan Champion Cabai binaan pemerintah terbukti efektif menjaga stabilitas harga secara berkelanjutan.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa menegaskan langkah intervensi harus segera diterapkan di wilayah rentan. Namun, koordinasi lintas kementerian tetap menjadi kunci utama kelancaran penyaluran stok.
“Untuk cabai rawit, berdasarkan informasi dari Kediri, saat ini terdapat dinamika harga dan pasokan yang perlu segera kita respons. Karena itu, kami ingin berkoneksi kembali dengan teman-teman Kementan untuk melihat wilayah mana yang dapat kita dukung melalui FDP,” ucap Ketut dikutip di Jakarta pada Jumat (11/9/2026).
Kolaborasi Petani Champion Mengatasi Disparitas Harga Antardaerah
Pelibatan petani champion menjadi faktor krusial dalam menekan lonjakan harga pangan di daerah defisit. Oleh sebab itu, komoditas dari daerah dengan harga terjangkau segera diguyur ke daerah bergejolak.
“Misalkan di daerah di luar Jawa yang harganya relatif masih terjangkau, sehingga kita bisa FDP ke wilayah-wilayah yang harganya tinggi. Kita undang kembali para petani champion kita untuk membantu distribusikan ke wilayah-wilayah yang harganya relatif tinggi,” ujar Deputi Ketut.
Catatan Bapanas mencatat realisasi penyaluran komoditas ini telah menembus 5.590 kilogram sepanjang triwulan pertama 2026. Selanjutnya, pasokan asal Enrekang didistribusikan ke Jakarta, disusul pengiriman menuju Lombok Tengah serta Lombok Timur.
Intervensi logistik tersebut memicu penurunan inflasi pangan atau volatile food secara nyata pada April 2026. Bahkan, cabai rawit tercatat menjadi salah satu komoditas penyumbang deflasi nasional pasca perayaan Idulfitri.
Kementan Pastikan Pasokan Cabai Tetap Aman Terkendali
Fluktuasi harga cabai di tingkat konsumen dipicu oleh kemarau panjang, serangan hama, hingga alih komoditas tanam. Kendati demikian, pemerintah memastikan kesiapan stok di tingkat hulu tetap mencukupi kebutuhan masyarakat.
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan Sudi Mardianto mengonfirmasi ketersediaan komoditas secara nasional aman hingga akhir tahun. Sebaliknya, sentra produksi di berbagai daerah mulai mencatatkan kenaikan volume panen yang signifikan.
“Untuk cabai rawit secara nasional itu produksinya di bulan September itu sekitar 119 ribu ton. Di Jawa Timur itu Banyuwangi standing crop yang ada sekarang sekitar 1.486 hektare. Kemudian di Sampang itu ada 1.691 hektare. Itu produksinya sudah mulai tinggi sekitar 5 ribuan,” urai Sudi.
“Kemudian untuk di daerah Jawa masih terpusat di Temanggung, Brebes, dan Magelang. Produksinya walaupun masih relatif rendah karena mungkin baru sebagian besar tanam, tapi nanti itu dapat mengatasi potensi adanya kenaikan menjelang hari Natal dan Tahun Baru,” sambung Direktur STO Kementan Sudi.
Petani binaan pemerintah menyatakan komitmen penuh untuk menyalurkan hasil panen ke wilayah yang membutuhkan pasokan darurat. Dengan demikian, pengendalian harga komoditas strategis ini dapat terealisasi secara merata.
“Nah seandainya nanti ada program pemerintah untuk dapat melakukan distribusi ke wilayah-wilayah yang membutuhkan, artinya dari produksi yang ada. Mereka sudah bersiap untuk dapat membantu mengendalikan daerah-daerah yang harga cabai rawitnya tinggi. Mereka prinsipnya sudah siap untuk dapat membantu mensuplai daerah-daerah yang harganya cukup tinggi,” ucap Direktur Sudi.
Data pemantauan Bapanas per 10 September mencatat rata-rata harga cabai rawit nasional bertengger pada level Rp 81.052 per kilogram. Pada akhirnya, disparitas harga ekstrem antara Sulawesi Utara dan Nusa Tenggara Timur menjadi fokus utama intervensi distribusi pemerintah.
