Solusi Nabi Atasi Kemiskinan: Kerja, Zakat dan Wakaf
Kemiskinan bukan persoalan baru. Sejak dahulu hingga sekarang, masalah ini menjadi tantangan yang dapat memengaruhi kehidupan keluarga dan masyarakat. Ketika kebutuhan dasar sulit terpenuhi, persoalan ekonomi bahkan bisa merembet pada keamanan, ketenteraman, akhlak, hingga kehidupan sosial.
Dalam Islam, kemiskinan tidak dipandang sebagai kondisi yang harus dibiarkan begitu saja. Rasulullah ﷺ memberikan banyak tuntunan agar umat berusaha keluar dari kesulitan ekonomi sekaligus membangun kepedulian terhadap orang-orang yang membutuhkan.
Lalu, bagaimana solusi Nabi Muhammad ﷺ dalam mengatasi kemiskinan?
Jawabannya tidak hanya berupa doa atau bantuan sesaat. Ada dorongan untuk bekerja, kewajiban zakat, pengembangan wakaf, serta penguatan solidaritas sosial.
Islam Tidak Mengajarkan Umatnya Menyerah pada Kemiskinan
Islam mengajarkan umatnya untuk bertakwa kepada Allah sekaligus berikhtiar dalam menjalani kehidupan. Kemiskinan bukan sesuatu yang dicari atau dijadikan alasan untuk berhenti berusaha.
Rasulullah ﷺ bahkan memohon perlindungan kepada Allah dari kefakiran.
Dalam sebuah doa, beliau bersabda:
اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekafiran dan kefakiran.” (HR. An-Nasa’i).
Hal ini menunjukkan bahwa kemiskinan merupakan kondisi yang perlu dihadapi dengan ikhtiar. Karena itu, Islam mengajarkan manusia untuk bekerja, mencari penghasilan yang halal, membantu sesama, dan membangun sistem sosial yang mampu melindungi masyarakat yang lemah.
1. Bekerja Menjadi Solusi Utama Mengatasi Kemiskinan
Salah satu pesan penting dari Rasulullah ﷺ adalah dorongan untuk bekerja dan memperoleh penghasilan dari usaha sendiri.
Nabi ﷺ bersabda:
مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada makanan dari hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Al-Bukhari).
Pesan tersebut sangat relevan sampai hari ini. Untuk keluar dari kemiskinan, seseorang perlu memiliki kesempatan untuk bekerja dan menghasilkan pendapatan secara halal.
Pekerjaan tidak harus selalu berupa pekerjaan kantoran atau profesi yang terlihat bergengsi. Pekerjaan tangan, perdagangan, pertanian, peternakan, jasa, dan berbagai usaha halal lainnya tetap memiliki kemuliaan selama dilakukan dengan cara yang benar.
Dalam materi sumber juga disebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah menggembala kambing. Nabi Daud AS juga digambarkan sebagai sosok yang bekerja dengan keterampilannya, termasuk membuat baju besi.
Karena itu, masyarakat perlu mengubah cara pandang terhadap pekerjaan. Jangan sampai pekerjaan halal justru dianggap rendah hanya karena tidak terlihat mewah.
2. Menghilangkan Gengsi terhadap Pekerjaan Halal
Salah satu persoalan yang masih dapat ditemukan di tengah masyarakat adalah anggapan bahwa pekerjaan tertentu terlalu rendah untuk dilakukan.
Padahal, selama pekerjaan tersebut halal dan dilakukan dengan jujur, tidak ada alasan untuk merasa malu.
Rasulullah ﷺ bahkan menjelaskan bahwa seseorang yang bekerja keras untuk menjaga kehormatan dirinya lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain.
Beliau bersabda bahwa seseorang yang mengambil tali, mencari kayu bakar, kemudian menjualnya untuk memenuhi kebutuhannya, lebih baik daripada meminta-minta kepada manusia. (HR. Al-Bukhari).
Pesannya sederhana: jangan gengsi bekerja selama pekerjaan itu halal.
Di sisi lain, masyarakat juga perlu membantu membuka akses pelatihan, pendidikan keterampilan, pembiayaan usaha, dan lapangan kerja agar orang yang sedang kesulitan ekonomi memiliki jalan untuk bangkit.
3. Zakat sebagai Solusi Mengurangi Kemiskinan
Selain mendorong orang miskin untuk bekerja, Islam juga memberikan tanggung jawab kepada orang yang memiliki kelebihan harta.
Salah satunya melalui zakat.
Allah ﷻ berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 103 tentang zakat sebagai sarana membersihkan dan menyucikan harta.
Rasulullah ﷺ juga menjelaskan kepada Mu’adz bin Jabal ketika mengutusnya ke Yaman bahwa zakat diambil dari orang-orang kaya dan diberikan kepada orang-orang fakir.
Artinya, zakat bukan sekadar bentuk kebaikan sukarela. Bagi yang telah memenuhi ketentuannya, zakat merupakan kewajiban yang harus ditunaikan.
Jika dikelola dengan baik dan disalurkan kepada orang-orang yang berhak, zakat dapat menjadi salah satu instrumen penting untuk membantu masyarakat yang sedang mengalami kesulitan.
Karena itu, kesadaran membayar zakat dan pengelolaan zakat yang amanah menjadi bagian penting dalam upaya mengatasi kemiskinan.
4. Wakaf Produktif untuk Solusi Kemiskinan Jangka Panjang
Solusi berikutnya adalah wakaf.
Berbeda dengan bantuan yang sifatnya habis setelah diberikan, wakaf dapat dirancang agar manfaatnya terus berlangsung. Dalam materi sumber, wakaf dijelaskan sebagai upaya mempertahankan pokok harta dan mengalirkan manfaatnya.
Konsep ini sangat menarik jika diterapkan dalam kehidupan modern.
Wakaf tidak harus selalu dipahami sebatas tanah untuk masjid atau makam. Dengan pengelolaan yang baik, wakaf dapat diarahkan untuk mendukung pendidikan, kesehatan, anak yatim, masyarakat miskin, hingga pembiayaan usaha kecil.
Misalnya, sebuah aset wakaf dikelola secara produktif. Hasil pengelolaannya kemudian digunakan untuk membiayai pendidikan anak yatim atau membantu masyarakat kurang mampu.
Dengan demikian, manfaat wakaf dapat dirasakan dalam jangka panjang.
5. Menguatkan Kepedulian dan Solidaritas Sosial
Kemiskinan tidak selalu bisa diselesaikan hanya oleh individu. Ada kalanya seseorang membutuhkan dukungan dari keluarga, tetangga, komunitas, lembaga, dan masyarakat di sekitarnya.
Rasulullah ﷺ memberikan contoh kuat mengenai pentingnya berbagi makanan dan memperhatikan orang yang membutuhkan.
Beliau bersabda:
“Siapa yang memiliki makanan yang cukup untuk dua orang, hendaklah ia mengajak orang ketiga. Siapa yang memiliki makanan yang cukup untuk empat orang, hendaklah ia mengajak orang kelima dan keenam.”
Pesan tersebut menunjukkan pentingnya kepedulian sosial. Jangan sampai seseorang menikmati makanan yang berlebihan sementara orang yang tinggal tidak jauh darinya justru kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.
Semangat seperti ini bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari lingkungan keluarga, perumahan, sekolah, masjid, hingga komunitas.
Kemiskinan Membutuhkan Kerja Sama
Persoalan kemiskinan tidak cukup diatasi dengan slogan.
Orang yang mampu bekerja perlu mendapatkan kesempatan untuk bekerja. Pelaku usaha dan pemerintah perlu ikut membuka lapangan pekerjaan. Orang yang memiliki kelebihan harta perlu menunaikan zakat dan memperbanyak sedekah. Sementara itu, wakaf produktif dapat dikembangkan untuk memberikan manfaat jangka panjang.
Materi sumber juga menekankan pentingnya menghidupkan kembali lembaga zakat, program wakaf, serta jaminan sosial yang sesuai dengan ketentuan syariat.
Di tingkat paling sederhana, kepedulian itu bisa dimulai dari lingkungan sekitar.
Apakah kita mengetahui kondisi tetangga? Apakah ada keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari? Apakah ada anak yatim yang membutuhkan bantuan? Apakah ada janda, penyandang disabilitas, atau orang yang kehilangan pekerjaan yang membutuhkan dukungan?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut sebenarnya mengingatkan kita bahwa mengatasi kemiskinan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau lembaga sosial. Ada bagian yang bisa dilakukan oleh setiap orang.
Mengatasi Kemiskinan dengan Semangat Islam
Pada akhirnya, solusi Nabi Muhammad ﷺ dalam menghadapi kemiskinan mengajarkan keseimbangan.
Orang yang mengalami kesulitan ekonomi didorong untuk bekerja dan berusaha. Orang yang memiliki harta diperintahkan menunaikan kewajibannya. Masyarakat diajak membangun kepedulian. Sementara wakaf dapat dikembangkan sebagai salah satu bentuk pemberdayaan jangka panjang.
Jadi, mengatasi kemiskinan dalam Islam bukan hanya memberikan bantuan ketika seseorang sudah jatuh miskin. Lebih dari itu, umat perlu membangun lingkungan yang mendorong kemandirian, membuka kesempatan kerja, menunaikan zakat, mengembangkan wakaf, dan memperkuat kepedulian sosial.
Semangat inilah yang perlu terus dihidupkan. Sebab, masyarakat yang kuat bukan hanya masyarakat yang memiliki banyak orang kaya, tetapi juga masyarakat yang tidak membiarkan orang-orang lemah berjalan sendirian.
Sumber:
Intisari dari Khutbah Jumat Dr Murad Bakhrishah di https://www.alukah.net/

