Kementan Dorong Hilirisasi Peternakan Lewat Kolaborasi Campus
Jakarta – Kementerian Pertanian mengajak perguruan tinggi, alumni, dan pelaku industri memperkuat sinergi untuk mempercepat hilirisasi peternakan nasional. Oleh karena itu, langkah ini penting agar riset ilmiah bertransformasi menjadi teknologi bernilai tambah serta membuka lapangan kerja baru.
Ajakan ini disampaikan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, pada Seminar Nasional Kafapet Unsoed di Purwokerto, Sabtu (5/9/2026). Selain itu, pemenuhan gizi protein hewani menjadi kunci utama pendorong kualitas sumber daya manusia Indonesia.
“Daging, susu, dan telur berperan penting dalam pemenuhan gizi dan pembangunan generasi Indonesia yang sehat, kuat, dan cerdas. Karena itu, pembangunan peternakan memiliki posisi strategis dalam pembangunan nasional,” ujar Agung.
Ekosistem Hilirisasi Harus Berikan Manfaat Nyata
Agung menekankan bahwa hilirisasi tidak boleh dimaknai sebatas membangun fasilitas pengolahan semata. Selanjutnya, pemerintah terus mendorong pemerataan industri peternakan guna mendekatkan sentra produksi kepada konsumen di berbagai wilayah.
“Hilirisasi harus memberikan manfaat nyata. Produksi harus semakin efisien, pasar semakin luas, dan nilai tambah yang dihasilkan harus dapat dirasakan oleh peternak,” tegasnya.
Oleh sebab itu, riset perguruan tinggi dituntut tidak berhenti sebagai laporan akademik. Namun, hasil penelitian harus menjelmakan teknologi dan model bisnis nyata yang menjawab kebutuhan peternak lokal.
Peran Alumni Jadi Jembatan Sektor Industri
Plt. Rektor Unsoed Prof. Ali Rokhman mendukung penuh upaya integrasi pendidikan tinggi dengan dunia usaha. Sebaliknya, alumni memegang peranan krusial sebagai simpul penghubung antara kampus, pemerintah, dan masyarakat.
“Harus ada link and match antara dunia pendidikan tinggi dan dunia industri. Alumni memiliki jejaring dan pengalaman yang dapat menjadi jembatan antara kampus, pemerintah, industri, dan masyarakat,” ujar Prof. Ali.
“Mari kita jadikan alumni sebagai energi kolaborasi dan hilirisasi sebagai jalan menuju kemandirian serta ketahanan pangan bangsa,” katanya.
Dekan Fakultas Peternakan Unsoed Novie Andri Setianto menambahkan bahwa kebersamaan alumni menjadi kekuatan utama kampus. Pada akhirnya, kemitraan ini menjadi ruang konsolidasi strategis demi kemajuan peternakan nasional.
“Bagi kami, alumni bukan sekadar mahasiswa yang telah lulus, tetapi mahasiswa yang telah menyelesaikan studi tanpa benar-benar meninggalkan kampus. Sejauh apa pun melangkah, kampus Fakultas Peternakan selalu menjadi tempat untuk kembali,” ujar Novie.
Pendampingan Peternak Rakyat untuk Naik Kelas
Ketua Umum Kafapet Unsoed Teguh Sudaryatno menilai subsektor peternakan harus makin adaptif dan efisien. Dengan demikian, sinergi antara alumni di berbagai bidang dapat merumuskan solusi nyata atas tantangan global.
“Seminar nasional ini bukan sekadar forum akademik, tetapi wadah strategis bagi akademisi, praktisi, dan alumni untuk merumuskan solusi nyata bagi kemajuan peternakan nasional,” ujar Teguh.
Dirjen Agung menutup dengan menegaskan pentingnya pendampingan langsung bagi para peternak rakyat. Selain itu, jejaring alumni diharapkan mampu mengawal peternak agar semakin mahir mengelola bisnis dan menembus pasar.
“Banyak peternak kita yang sudah sangat kuat dalam budidaya. Tantangannya adalah mendampingi mereka agar naik kelas menjadi pelaku usaha yang mampu mengelola produksi, mengakses pasar, dan memperoleh nilai tambah yang lebih baik,” jelas Agung.
