RI Belum Masuk 10 Besar Produsen Kriya Dunia

Makassar – Pasar kerajinan global bergulir manis dengan potensi ekonomi mencapai Rp500 triliun per tahun. Namun, ironisnya Indonesia justru masih absen dari jajaran 10 besar produsen kriya global utama. Fakta tersebut memicu otokritik tajam mengenai optimalisasi tata kelola industri kreatif nasional saat ini.
Potensi Unik Kriya Nusantara yang Belum Tergali
Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian, menegaskan pentingnya pemda dan Dekranasda bergerak cepat melakukan kurasi produk lokal. Indonesia sebenarnya diberkahi keberagaman kultural tinggi yang tecermin langsung lewat keunikan produk kriya pada setiap wilayah. Selain itu, aspek kearifan lokal ini dinilai menjadi nilai jual yang sangat langka.
“Artinya, Indonesia, kita banyak sekali potensi yang luar biasa, tapi belum tergali,” kata Tito. Dikutip dari antaranews.
Evaluasi Daya Saing Global Industri Kreatif
Pernyataan tersebut disampaikan langsung saat penutupan rangkaian HUT ke-46 Dekranas di Makassar, Sulawesi Selatan. Mendagri menceritakan salah satu contoh sukses inovasi pengolahan limbah cangkang mutiara di Raja Ampat. Oleh karena itu, strategi serupa harus direplikasi massal demi mendongkrak kesejahteraan perajin daerah.
Selanjutnya, kekuatan utama kerajinan domestik terletak pada keberagaman bahan baku tradisional yang sangat spesifik. Karakteristik ini dipengaruhi oleh letak geografis serta keunikan budaya dari masing-masing suku bangsa.
“Keunggulan Indonesia adalah Indonesia the most diverse handicraft in the world. Jadi, yang paling beragam di dunia, itu adalah Indonesia,” ujar Tito.
Impak Penyelenggaraan Terhadap Ekonomi Makro Daerah
Di lain sisi, agenda akbar ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat konsolidasi internal. Kemendagri mengapresiasi kolaborasi apik Pemprov Sulsel dan Pemkot Makassar yang berhasil menggerakkan roda ekonomi bawah. Pada akhirnya, kesuksesan pameran ini membuktikan bahwa kerajinan nasional memiliki prospek investasi menjanjikan.
