E-Commerce Indonesia Masih Terpusat, Ekonomi Digital Belum Merata
Akses internet di tanah air meluas dengan sangat pesat belakangan ini. Namun, lonjakan nilai transaksi digital rupanya belum mencerminkan keadilan ekonomi yang merata di seluruh wilayah.
Riset terbaru NEXT Indonesia Center menunjukkan aktivitas e-commerce masih terfokus di Pulau Jawa. Baik penjual maupun pembeli daring mayoritas menumpuk di kawasan perkotaan padat penduduk.
Infrastruktur Hambat Pemerataan Pasar Digital
Peneliti NEXT Indonesia Center, Reza Pratama mengatakan, besarnya nilai transaksi e-commerce nasional belum mencerminkan pemerataan ekonomi digital. Menurut analisisnya, jaringan internet saja tidak cukup tanpa sokongan logistik yang mumpuni.
Oleh karena itu, stabilitas sinyal, daya beli, dan tingkat literasi digital masyarakat mendesak untuk segera diperbaiki. Kondisi riil di lapangan menunjukkan bahwa ketimpangan ini berisiko memperlebar jarak kesejahteraan antar-daerah.
“Internet memang dapat diakses dari berbagai wilayah, tetapi aktivitas e-commerce tetap bergantung pada kemudahan pengiriman barang, kestabilan sinyal, kemampuan masyarakat berbelanja, dan pemahaman digital. Tanpa perbaikan di aspek tersebut, ekonomi digital berpotensi memperlebar ketimpangan kesejahteraan,” ujar Reza dalam keterangan tertulis, Minggu (12/7).
Dominasi Perkotaan dan Sektor Kreatif Daerah
Berdasarkan data Susenas Maret 2025, sekitar 54 juta penduduk atau 19,18% populasi aktif belanja daring. Sebaliknya, masyarakat yang memanfaatkan internet untuk berjualan hanya mencapai 9,7 juta orang atau 3,43%.
Selanjutnya, data wilayah menunjukkan Kabupaten Sleman memimpin rasio penjual daring tertinggi, yakni 10,10% penduduk. Posisi berikutnya diraih Kota Salatiga (9,25%), Kota Yogyakarta (9,13%), Kota Batu (8,92%), dan Kota Malang (8,67%).
Sementara itu, Kota Yogyakarta mencatat rasio pembeli tertinggi nasional sebesar 36,98%, disusul ketat oleh Kota Depok (36,96%). Daerah penyangga ibu kota seperti Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Tangerang Selatan, dan Bekasi turut mendominasi daftar teratas belanja daring.
Pada akhirnya, Yogyakarta dan Sleman dinilai paling sukses menjaga keseimbangan konsumsi serta produksi digital. Keberhasilan tersebut didorong oleh kuatnya ekosistem pariwisata serta ekonomi kreatif setempat.
