Mentan Integrasikan Peternak dan Petani Jagung Lewat Koperasi

Jakarta – Ketergantungan pakan ternak kini diurai melalui pendekatan rantai pasok terintegrasi dari hulu hingga hilir. Oleh karena itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman membangun ekosistem peternakan terpadu dengan menyatukan peternak dan petani jagung dalam satu wadah kelembagaan koperasi.
Langkah ini dirancang agar siklus produksi bahan baku pakan dapat terencana secara matang, terkendali, serta menjawab defisit bahan baku industri secara mandiri. Penegasan tersebut diutarakan Mentan usai Rapat Koordinasi Kemitraan Jagung Pakan bersama perwakilan peternak se-Indonesia di Gedung Kementerian Pertanian.
“Kita membangun sistem closed system dari hulu ke hilir. Tidak seperti dulu. Apa maksudnya? Dari hulu kita membangun kelompok tani bersama peternak, peternak dengan petani jagung menjadi satu kesatuan, membentuk koperasi. Jadi tanam jagung sendiri, dibantu oleh pusat,” kata Mentan di Jakarta, Selasa. Dikutip dari ANTARA.
Menyiapkan Lahan 300 Ribu Hektare dan Cadangan Nasional
Kebutuhan jagung pakan domestik diperkirakan menembus 1,8 juta ton per tahun. Oleh sebab itu, alokasi penanaman diarahkan untuk memitigasi kekurangan stok sekaligus membentuk cadangan penyangga pakan secara berkesinambungan.
Guna menopang ekosistem tertutup tersebut, pemerintah menyiapkan pembukaan sentra budidaya jagung seluas 300.000 hektare. Program perkebunan ini ditargetkan mampu memacu produktivitas rata-rata hingga tujuh ton per hektare demi mengamankan ketersediaan riil di pasar.
Namun, potensi surplus produksi di masa panen raya juga diantisipasi secara terstruktur. Bulog disiagakan sebagai pembeli siaga (off-taker) agar harga beli di tingkat petani tidak runtuh akibat limpahan pasokan.
Selanjutnya, stok simpanan Bulog akan dikembalikan kepada peternak melalui mekanisme Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Pola penyaluran ini menjadi instrumen penyelamat manakala pasokan pakan mengalami kelangkaan di masa paceklik.
Intervensi Harga Bungkil Kedelai Melalui BUMN Pangan
Selain menjaga pasokan jagung, pemerintah mengambil tindakan konkret untuk menstabilkan harga bungkil kedelai. Pasalnya, lonjakan harga bahan baku di bursa komoditas sebelumnya melonjak tajam hingga menembus angka Rp10.000 sampai Rp12.000 per kilogram.
Tekanan harga tersebut terbukti membebani margin keuntungan dan mengerek biaya pokok produksi peternak lokal. Oleh karena itu, intervensi pasar digulirkan melalui penugasan BUMN Holding Pangan ID FOOD dengan mematok batas harga bungkil kedelai sebesar Rp8.630 per kilogram.
Pada akhirnya, kombinasi antara penguatan kemitraan jagung rakyat dan kepastian harga bahan impor menjadi pijakan fundamental pemerintah. Kebijakan ini diharapkan mampu mewujudkan iklim usaha peternakan nasional yang lebih tangguh, berdaya saing, serta berkelanjutan.



