Berita Terkini

Menjawab Tantangan Pengangguran Muda Lewat Ekraf Menuju 2045

Jakarta – Sektor ekonomi kreatif kini menjadi tumpuan utama untuk memotong rantai pengangguran usia produktif di Indonesia. Namun, mampukah ribuan sarjana baru bertransformasi menjadi pencipta lapangan kerja di tengah disrupsi teknologi yang kian agresif?

Relevansi Gen Z dan Disrupsi Digital

Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya, menantang para wisudawan Institut STIAMI ke-49 untuk mengambil peran strategis tersebut. Langkah konkret ini dinilai mendesak mengingat dominasi anak muda dalam struktur demografi nasional memerlukan kanalisasi ekonomi yang produktif serta inovatif.

Saat menghadiri wisuda di Gedung Balai Samudera Jakarta pada Kamis (2/7/2026), Teuku Riefky memaparkan data bahwa pegiat ekonomi kreatif didominasi oleh Gen Z dan milenial hingga mencapai 63 persen pada tahun 2025. Fakta empiris ini menunjukkan keunggulan bawaan generasi muda sebagai digital native yang lincah menangkap peluang pasar global.

“Ekonomi kreatif pada dasarnya adalah tentang anak muda dan gagasan. Sebagai digital native yang kreatif, visioner, dan adaptif, generasi Z dan Milenial memiliki kemampuan besar untuk menghasilkan gagasan inovatif yang melampaui batas budaya maupun negara. Oleh karena itu, di tengah era disrupsi digital ini, para wisudawan ditantang untuk mengoptimalkan potensi tersebut agar tidak sekadar menjadi pencari kerja, melainkan mampu menciptakan lapangan kerja baru,” ujar Teuku Riefky di Jakarta, Kamis (2/7). Dikutip dari ekraf.go.id.

Strategi Asta Ekraf dan Program Flagship 2027

Selanjutnya, kementerian terkait telah menyiapkan bantalan regulasi melalui delapan kebijakan strategis yang dinamakan Asta Ekraf. Payung kebijakan ini dirancang komprehensif mulai dari perluasan akses pembiayaan, infrastruktur, hingga kolaborasi hexahelix.

Selain itu, pemerintah juga menjanjikan akselerasi nyata melalui Program Flagship Ekraf 2027 yang mencakup aktivasi desa kreatif serta pembangunan creative hub. Sinergi ekosistem ini diharapkan mampu memfasilitasi talenta muda di hulu agar siap bersaing di hilir industri global.

“Generasi muda harus menjadi agen perubahan yang menghubungkan ilmu dari kampus ke masyarakat, industri, hingga pasar global. Untuk itu, para wisudawan saya titipkan tiga pesan penting menuju Indonesia Emas 2045, yaitu terus belajar menghadapi perubahan cepat, berani ciptakan peluang jadilah pencipta lapangan kerja, serta menjaga integritas dengan karakter yang kuat,” tegas Menteri Ekraf.

Menyiapkan Sumber Daya Unggul Berintegritas

Sebaliknya, keberhasilan agenda besar ini tidak dapat bertumpu pada kebijakan makro pemerintah semata. Dunia akademis dituntut adaptif mereformasi kurikulum agar selaras dengan kebutuhan industri sirkular yang dinamis.

Merespons visi optimis tersebut, pihak universitas menyatakan komitmen penuh untuk mencetak lulusan yang tidak hanya piawai secara teknis, tetapi juga memiliki ketahanan moral yang kokoh di lapangan.

“Kami bangga dan mendukung penuh arahan dari Kementerian Ekonomi Kreatif, dan kami berharap para wisudawan ke-49 mampu menangkap peluang di sektor kreatif ini untuk menjadi akselerator SDM yang unggul serta berintegritas,” ujar Rektor Institut STIAMI, Sylvia Murni.

Pada akhirnya, bonus demografi tahun 2045 akan menjadi berkah atau justru bencana sosial sangat tergantung pada kesiapan kompetensi para sarjana baru hari ini. Menghadapi kompetisi yang ketat, keberanian melahirkan inovasi mandiri merupakan kunci utama menjaga kedaulatan ekonomi bangsa.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button