Mendag Budi Santoso Dorong Kolaborasi BRICS Hadapi Fragmentasi Ekonomi Global

Tembok proteksionisme global kian tinggi di tengah lesunya sistem perdagangan berbasis aturan. Oleh karena itu, Indonesia secara tegas mengajak blok ekonomi BRICS untuk menemukan pola kolaborasi baru guna memperkuat ketahanan ekonomi bersama.
Menteri Perdagangan RI Budi Santoso menyampaikan ajakan strategis ini pada Pertemuan Tingkat Menteri BRICS di Jaipur, India. Selanjutnya, forum bergengsi tersebut menjadi ajang penting untuk merespons keterpecahan rantai pasok dan geopolitik dunia.
Menyikapi Fragmentasi dan Risiko Proteksionisme Perdagangan Dunia
Dalam dua dekade terakhir, rentetan krisis geopolitik hingga energi telah memperlihatkan betapa rentannya integrasi global. Namun, alih-alih memperkuat transparansi, sejumlah negara justru memanfaatkan instrumen tarif dan rantai pasok sebagai alat tekanan.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran mendalam terhadap efektivitas Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Oleh karena itu, Indonesia mengingatkan bahaya laten dari eskalasi perpecahan ekonomi antarnegara.
“Pertanyaannya adalah apakah kita akan beradaptasi dengan membangun tembok yang lebih tinggi, atau justru menemukan cara baru untuk berkolaborasi. Momen ini penting bagi BRICS untuk mendorong sinergi dan kesejahteraan bersama. Indonesia menantikan kolaborasi dengan seluruh mitranya dengan mengedepankan keterbukaan, rasa percaya diri, dan komitmen yang solid dalam menjalin kemitraan,” kata Mendag Busan.
“Kita harus tetap melihat risiko di balik itu. Dunia bisa menjadi semakin terpecah, rapuh, dan sulit menghadapi tantangan bersama,” kata Mendag Busan.
Optimisme Pasar Domestik dan Ketahanan Ekonomi Indonesia
Meskipun lanskap global tidak menentu, Indonesia tetap optimistis mampu menjaga daya tahan ekonominya. Selain didukung pasar domestik yang luas, kekuatan tenaga kerja muda serta kelimpahan sumber daya alam menjadi benteng pertahanan utama.
Selanjutnya, strategi ini diperkuat melalui komitmen hilirisasi industri dan perluasan perjanjian dagang bilateral maupun regional. Langkah konkret tersebut diambil agar ekspansi akses pasar internasional tetap terbuka lebar.
“Bagi Indonesia, ini berarti memadukan kerja sama multilateral yang kuat dengan kemitraan praktis di bidang perdagangan untuk menghasilkan capaian yang nyata. Bersama-sama, kami dapat membangun jaringan perdagangan, investasi, dan ekonomi yang tangguh sehingga mampu menghadapi tantangan dan menyambut peluang di masa depan,” kata Mendag Busan.
Penguatan Sistem Multilateral dan Pemberdayaan UMKM Global
Sebaliknya, India selaku pemegang Presidensi BRICS 2026 menegaskan pentingnya memperkuat fondasi perdagangan inklusif. Prioritas utama difokuskan pada pemberdayaan UMKM, keterlibatan perempuan, dan digitalisasi keuangan.
Pada akhirnya, sinergi yang solid antarnegara anggota diharapkan dapat menciptakan sistem perdagangan yang adil. Kerangka kerja ini menjadi kunci utama dalam memulihkan stabilitas perekonomian dunia.
“Hari ini, kita mengedepankan empat prioritas, yaitu memperkuat sistem perdagangan multilateral dengan Organisasi Perdagangan Dunia sebagai inti, membangun rantai nilai global yang tangguh, mendorong UMKM agar semakin berdaya saing di pasar internasional, serta memperluas akses terhadap perdagangan, pembiayaan, dan layanan digital,” ujar Piyush.



