Rapimnas Kadin 2026 Perkuat Fondasi Ekonomi Hadapi Risiko Global

Jakarta – Dunia usaha nasional bersiap menghadapi ketidakpastian lanskap perekonomian internasional. Oleh karena itu, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia resmi merumuskan rekomendasi strategis dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) 2026.
Langkah ini merupakan konsolidasi menyeluruh dari Komisi A, B, dan C bersama perwakilan pengurus 38 provinsi. Selain itu, segenap asosiasi dan himpunan dunia usaha turut menyatukan arah demi mengokohkan fondasi ekonomi domestik.
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie menegaskan bahwa Rapimnas kali ini berlangsung di tengah fase new normal. Kondisi tersebut dibayangi oleh tensi geopolitik, dinamika perubahan iklim, serta tingginya volatilitas pasar keuangan global.
Kendati demikian, Kadin menilai daya tahan perekonomian Indonesia saat ini tetap berada dalam tren yang sangat positif.
“Kita dalam pertumbuhan 5,5%. Inflasi terjangkau. Jadi secara fundamental kita bisa katakan kita tidak dalam keadaan yang sama dengan masa krisis 1998 atau tahun 2020-an,” ungkap Anindya dalam konferensinpers Rapimnas Kadin 2026 di Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Tiga Rekomendasi Utama Dunia Usaha untuk Pemerintah
Guna menjaga kesinambungan pertumbuhan tersebut, Kadin merumuskan tiga agenda prioritas yang akan diserahkan kepada pemerintah. Rekomendasi pertama menekankan pentingnya penguatan bantalan ekonomi dari tekanan goncangan dunia.
Bantalan ini berfokus pada penjagaan likuiditas arus kas usaha, stabilitas fiskal di daerah, serta perlindungan daya beli rumah tangga. Langkah tersebut dinilai mendesak agar daya serap pasar terhadap sektor riil rakyat tidak tertekan.
Selanjutnya, rekomendasi kedua mewajibkan kepastian pasokan bahan baku bagi produksi rakyat melalui skema rantai pasok terintegrasi dari hulu ke hilir.
“Bahan baku untuk produksi rakyat itu juga mesti dijaga untuk produksi secara umum. Jadi di sini kita cermati rantai pasok yang closed loop, artinya dari hulu ke hilir itu terintegrasi,” paparnya.
Sementara itu, butir rekomendasi ketiga menuntut kepastian berusaha demi mendorong perluasan daya saing produk manufaktur lokal di kancah internasional. Upaya ini diwujudkan lewat optimalisasi pakta dagang kemitraan internasional seperti CEPA atau FTA.
Di samping itu, Kadin menggaungkan kampanye Buy from Indonesia guna memacu ekspor, serta gerakan Buy Indonesia untuk menarik arus investasi modal.
“Buy from Indonesia ini artinya untuk kita meningkatkan ekspor keluar dan artinya juga membeli saham Indonesia, membeli surat utang negara, lalu juga melakukan foreign direct investment,” jelasnya.
Strategi Operasional 5D dan Pembentukan Delapan Pokja
Sebagai peta jalan implementasi taktis, Kadin menerapkan rumusan operasional 5D. Kerangka ini meliputi Disiplin dan desentralisasi fiskal, Deregulasi birokrasi, Debbottlenecking investasi, Danantara sebagai pendorong utama, serta Dukungan UMKM naik kelas.
Selain itu, Kadin mendirikan 8 Kelompok Kerja (Pokja) untuk periode 2027. Pokja ini akan menjalankan mekanisme audit performa secara berkala setiap kuartal.
“Kita melihat dalam keadaan new normal tadi tidak bisa lagi kita hanya berharap setiap tahun sekali kita kumpul di Rapimnas. Tapi harus istilahnya seperti live evaluation. Jadi setiap 3 bulan kita akan evaluasi lewat 8 Pokja ini,” jelasnya.
Kedelapan organ kerja tersebut berfokus pada penguatan kapasitas usaha rakyat, pembenahan logistik, hilirisasi energi, adopsi teknologi terapan, ketahanan industri pertahanan, diplomasi perdagangan internasional, penguatan organisasi daerah, hingga penegakan kedaulatan pangan nasional.
Pada akhirnya, dokumen peta jalan strategis ini akan diserahkan secara resmi kepada Kepala Negara.
“Tentu semua itu kita menunggu konfirmasi final. Sampai sekarang kita mendapat konfirmasi dari Pak Seskab bahwa perwakilan Kadin akan diterima oleh Pak Presiden hari Sabtu besok untuk menyampaikan hasilnya,” imbuhnya.



