Ruang Inspirasi

Pertobatan dari Riba: Kisah Pasangan yang Kehilangan Segalanya Namun Diganti Allah dengan Keberkahan yang Tak Terduga

Ketika Pertobatan dari Riba Mengubah Arah Hidup

Tidak semua orang berani meninggalkan sumber penghasilan yang sudah mapan. Terlebih jika pekerjaan tersebut mampu menghasilkan pendapatan besar setiap bulan. Namun bagi pasangan Zi Gusriadi dan Liza Agustina, keputusan untuk melakukan pertobatan dari riba menjadi titik balik yang mengubah seluruh perjalanan hidup mereka.

Sebelum berhijrah, keduanya bekerja di industri yang berkaitan erat dengan pembiayaan dan kredit kendaraan. Penghasilan mereka terbilang tinggi. Kehidupan tampak nyaman dari luar, tetapi kenyataannya tidak demikian.

Rumah tangga mereka sering diliputi pertengkaran. Anak-anak sulit diarahkan. Ketenangan hidup terasa jauh. Meskipun uang terus mengalir, keberkahan seakan tidak hadir dalam kehidupan mereka.

Semua berubah ketika mereka mulai memahami bahaya riba dalam Islam.

Ketakutan Akan Bertemu Allah Dalam Keadaan Bermaksiat

Perjalanan hijrah mereka bermula ketika berbagai kajian tentang riba terus muncul di media sosial. Berulang kali mereka mendengar peringatan mengenai dosa riba yang begitu besar.

Salah satu kalimat yang paling mengguncang hati mereka adalah tentang bagaimana seseorang yang terlibat dalam riba seakan menantang perang terhadap Allah dan Rasul-Nya.

Kalimat lain yang tidak kalah mengena adalah ketika mereka menyadari bahwa penghasilan yang diperoleh dari jalan yang tidak halal berpotensi menjadi makanan yang masuk ke tubuh anak-anak mereka.

Saat itulah muncul pertanyaan besar:

“Bagaimana jika besok kami meninggal dunia, sementara kami belum sempat bertaubat?”

Pertanyaan sederhana itu menjadi awal dari keputusan besar yang mengubah segalanya.

Meninggalkan Pekerjaan dengan Penghasilan Tinggi

Keputusan untuk berhenti bekerja tentu tidak mudah.

Zi Gusriadi telah menghabiskan sekitar 12 tahun bekerja di perusahaan pembiayaan. Sementara istrinya juga berkarier di sektor otomotif.

Ketika mereka memutuskan berhenti, banyak orang meragukan pilihan tersebut.

Sebagian teman bahkan menganggap keputusan itu terlalu nekat.

Bagaimana mungkin seseorang meninggalkan pekerjaan mapan demi usaha yang belum jelas hasilnya?

Namun pasangan ini memilih satu hal yang mereka yakini:

Lebih baik hidup sederhana dengan rezeki halal daripada bergelimang harta yang tidak membawa keberkahan.

Kehilangan Rumah, Mobil, dan Kenyamanan Hidup

Salah satu konsekuensi dari pertobatan dari riba yang mereka jalani adalah keberanian untuk melepaskan berbagai aset yang masih terkait dengan sistem riba.

Rumah yang dibeli melalui skema kredit akhirnya dijual dan dikembalikan prosesnya. Mereka memilih tinggal di rumah kontrakan.

Mobil juga dijual untuk melunasi berbagai kewajiban yang ada.

Semua dilakukan agar mereka bisa memulai hidup baru dengan hati yang lebih tenang.

Banyak orang mungkin menganggap langkah tersebut sebagai kemunduran.

Namun bagi mereka, itu adalah proses pembersihan.

Mereka percaya bahwa Allah sedang membantu membersihkan harta yang selama ini bercampur dengan perkara yang tidak halal.

Modal Tinggal Rp700.000

Setelah seluruh proses tersebut, kondisi keuangan mereka benar-benar terpuruk.

Modal yang tersisa hanyalah sekitar Rp700.000.

Jumlah yang sangat kecil untuk memulai sebuah usaha.

Namun mereka tidak menyerah.

Dengan modal seadanya, mereka merintis usaha kuliner yang kemudian dikenal dengan nama Kedai Sambal Dadak.

Di hari pertama berjualan, hasil yang didapat sangat jauh dari harapan.

Omzet mereka hanya Rp10.000.

Satu termos nasi yang dibawa ke lokasi jualan bahkan pulang kembali dalam keadaan hampir tidak terjual.

Namun mereka tetap bertahan.

Hidup Dalam Keterbatasan

Masa-masa awal usaha penuh dengan perjuangan.

Mereka berjualan di lokasi kaki lima tanpa tenda karena tidak mampu membelinya.

Saat hujan turun, mereka tidak bisa berjualan.

Mereka tidur hanya beberapa jam setiap hari.

Setelah menutup lapak dini hari, mereka harus berbelanja bahan baku ke pasar, mempersiapkan masakan, dan kembali berjualan.

Semua dikerjakan berdua.

Tidak ada kemewahan.

Tidak ada kenyamanan.

Yang ada hanyalah keyakinan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan usaha hamba-Nya yang berusaha mencari rezeki halal.

Ujian Terberat Saat Menjelang Persalinan

Salah satu momen paling mengharukan dalam perjalanan mereka terjadi ketika Liza akan melahirkan anak keempat.

Saat itu usaha memang mulai berjalan, tetapi kondisi keuangan belum cukup kuat.

Biaya operasi caesar tidak mampu mereka bayar.

Di sisi lain, kondisi persalinan tergolong sulit karena ketuban pecah lebih dahulu dan proses kelahiran berlangsung sangat lama.

Dalam keadaan penuh rasa sakit dan keterbatasan, Liza hanya bisa berserah diri kepada Allah.

Ia berdoa agar Allah mengampuni dosa-dosanya jika memang ajal menjemput saat proses melahirkan.

Namun Allah berkehendak lain.

Persalinan berjalan dengan selamat.

Ibu dan bayi sama-sama sehat.

Peristiwa tersebut semakin menguatkan keyakinan mereka bahwa pertolongan Allah selalu datang pada waktu terbaik.

Merasakan Keberkahan Setelah Meninggalkan Riba

Seiring waktu, mereka mulai merasakan perubahan yang tidak hanya terlihat dari sisi ekonomi.

Hubungan rumah tangga menjadi lebih harmonis.

Anak-anak lebih mudah dididik.

Kesehatan keluarga membaik.

Mereka merasakan kedekatan yang lebih kuat dengan Allah.

Setiap masalah terasa memiliki jalan keluar.

Setiap doa seakan lebih mudah dikabulkan.

Mereka menyadari bahwa keberkahan tidak selalu identik dengan jumlah uang yang dimiliki.

Keberkahan justru hadir dalam ketenangan hati, kesehatan keluarga, dan kemudahan menjalani kehidupan.

Dari Omzet Rp10.000 Menjadi Ratusan Juta Rupiah

Perlahan tetapi pasti, usaha kuliner mereka berkembang.

Omzet harian yang awalnya hanya Rp10.000 meningkat menjadi ratusan ribu rupiah. Kemudian naik menjadi jutaan rupiah per hari.  Mereka tetap disiplin dalam mengelola keuangan. Keuntungan usaha tidak langsung dihabiskan untuk gaya hidup. Sebagian besar disimpan dan diputar kembali untuk pengembangan bisnis.

Hasilnya luar biasa.

Dalam waktu sekitar dua tahun, mereka berhasil mengumpulkan tabungan hingga miliaran rupiah tanpa berutang.

Mereka membuka cabang baru, memperluas usaha, dan terus mengembangkan bisnis secara bertahap. Semuanya dilakukan tanpa pinjaman berbasis riba.

Membangun Bisnis Halal dan Membuka Lapangan Kerja

Saat ini usaha mereka berkembang menjadi beberapa cabang dengan puluhan karyawan.

Mereka tidak hanya fokus mencari keuntungan. Tetapi ada nilai-nilai yang terus dijaga sejak awal merintis usaha.

Beberapa prinsip yang mereka pegang antara lain:

  • Tidak menunda pembayaran gaji karyawan.
  • Tidak menunda pembayaran kepada pemasok.
  • Mengutamakan ibadah di atas urusan bisnis.
  • Menyisihkan sebagian rezeki untuk sedekah.
  • Mengutamakan bakti kepada orang tua.
  • Menjalankan usaha dengan prinsip halal dan transparan.

Mereka percaya bahwa keberhasilan usaha bukan semata hasil strategi bisnis, melainkan juga karena keberkahan dari Allah.

Sedekah Subuh yang Selalu Dijaga

Ada satu kebiasaan yang tidak pernah mereka tinggalkan sejak masa sulit,yaitu sedekah subuh.

Meskipun saat itu kondisi ekonomi sangat terbatas, mereka tetap menyisihkan sebagian kecil uang setiap pagi untuk disedekahkan.

Menurut mereka, harta hanyalah titipan. Di dalam setiap rezeki yang Allah berikan terdapat hak orang lain yang harus ditunaikan. Kebiasaan sederhana ini terus dipertahankan hingga usaha mereka berkembang besar.

Pelajaran Berharga dari Kisah Pertobatan dari Riba

Perjalanan Zi Gusriadi dan Liza Agustina menunjukkan bahwa meninggalkan riba bukanlah jalan yang mudah.

  • Ada pengorbanan besar yang harus dilakukan.
  • Ada kenyamanan yang harus dilepaskan.
  • Ada masa-masa sulit yang harus dihadapi.

Namun kisah mereka juga membuktikan bahwa rezeki halal selalu memiliki keberkahan yang berbeda.

Pertobatan dari riba tidak selalu membuat seseorang langsung kaya.

Tetapi pertobatan yang tulus dapat menghadirkan ketenangan, kemudahan, dan keberkahan yang mungkin tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Pada akhirnya, mereka memahami satu hal penting:

Keberhasilan bukan tentang seberapa banyak harta yang dimiliki, melainkan seberapa dekat seseorang kepada Allah dan seberapa berkah rezeki yang diperolehnya.

Semoga kisah ini menjadi inspirasi bagi siapa saja yang sedang berjuang meninggalkan riba dan berusaha meniti jalan rezeki yang halal.

 

Sumber:
Fokusinajaofficial. (2025, May 13). Taubat dari Riba. Pasangan ini Ngalamain Fase dilaundry, Harus Rela Kehilangan Harta dan Uang [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=xov7Ao_fPwQ

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button