Berita Terkini

Keuangan Syariah Terbukti Lebih Tangguh Menghadapi Badai Krisis

Jakarta – Ketangguhan sejati sebuah sistem keuangan baru benar-benar teruji saat krisis ekonomi melanda. Ketika sistem konvensional kerap goyah oleh gelombang gejolak moneter, sistem keuangan berbasis syariah justru menunjukkan daya tahan yang jauh lebih stabil dan konsisten.

Fondasi Aset Riil dan Mekanisme Berbagi Risiko

Sistem keuangan syariah memiliki daya tahan unggul karena tidak memutar uang dalam spekulasi hampa, melainkan berjangkar kuat pada sektor riil. Selain itu, skema risk-sharing atau berbagi risiko menjadi benteng pertahanan yang menjaga stabilitas lembaga keuangan syariah saat gejolak ekonomi terjadi.

“Dari segi resiliensi atau ketahanannya, ternyata ekonomi syariah, terutama keuangan syariah atau bank syariah terbukti lebih tangguh dibandingkan yang konvensional, khususnya di masa-masa krisis. Jadi, kalau kita mau melihat ketangguhan ekonomi syariah, buktikan di waktu krisis,” ujar Mahbubi dalam Islamic Economics Summer School (IESS) 2026 yang diselenggarakan Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah Universitas Indonesia (PEBS UI), Rabu (29/7/2026). Dikutip dari republika.

Selanjutnya, pertumbuhan sektor ini di tingkat global menunjukkan tren positif yang konsisten secara historis. Saat keuangan konvensional tumbuh di bawah 10 persen per tahun, sektor syariah sanggup mencetak pertumbuhan dua digit hingga berkisar 20 persen saban tahunnya.

Kepastian Harga Berbasis Akad Meredam Dampak Suku Bunga

Salah satu alasan mendasar yang membuat perbankan syariah begitu kukuh terletak pada skema asset-backed dan risk-sharing. Oleh karena itu, skema pembiayaan ini tidak mudah terguncang oleh kebijakan penyesuaian atau kenaikan suku bunga di pasar moneter.

“Dia (perbankan syariah) tidak terdampak dengan peningkatan suku bunga karena ada kejelasan dari sisi harga di awal, dan sebagainya,” ujarnya.

Fenomena ini pernah terbukti secara nyata sewaktu krisis moneter melanda kawasan Asia pada tahun 1998 silam. Pada periode kelam tersebut, Malaysia menjadi saksi bisu peralihan besar-besaran nasabah dari perbankan konvensional menuju perbankan syariah.

“Contohnya pengalaman kami di Malaysia tahun 1998, ketika ada krisis moneter dunia, itu menjadi titik balik dimana nasabah-nasabah bank konvensional shift atau switch ke bank syariah,” katanya.

Dominasi Pasar Malaysia dan Luasnya Potensi Demografi Indonesia

Hasilnya, keberhasilan transisi tersebut mendorong porsi pangsa pasar perbankan syariah di Malaysia kini menembus angka 47 persen. Menariknya, daya pikat perbankan syariah di jiran tersebut turut memikat nasabah non-Muslim karena mengedepankan kepastian harga, keadilan, serta maqasid syariah.

Namun, di tingkat global, total aset keuangan syariah yang berkisar 5 hingga 6 triliun dolar AS sebenarnya masih berada di bawah 1 persen dari total aset finansial dunia. Kondisi ini memperlihatkan bahwa ruang ekspansi industri syariah global masih sangat terbuka lebar.

Bagi Indonesia, kondisi demografi sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia merupakan modal sosial yang sangat berharga. Berdasarkan laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2025/2026, Indonesia kini menduduki peringkat keempat dunia di bawah Malaysia, UEA, dan Arab Saudi.

“Dalam konteks Indonesia, kita memiliki kekuatan dari sisi demographic factor, dimana mayoritas masyarakat kita muslim, dan termasuk juga negara dengan muslim terbesar di dunia. Sehingga ini momentum dari sisi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia maupun di dunia,” ujar Mahbubi.

Pada akhirnya, efektivitas penetrasi keuangan syariah di tanah air akan diuji oleh seberapa lincah regulator dan perbankan mengonversi potensi demografi menjadi inklusi keuangan yang nyata. Mampukah industri syariah nasional memanfaatkan momentum krisis global untuk merebut porsi utama dalam ekosistem keuangan nasional?

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button