Ruang InspirasiUncategorized

Jualan Sejak SMA, Kini Bangun Bisnis dan Puluhan Karyawan

Memulai bisnis sejak duduk di bangku SMA bukanlah perjalanan yang selalu berjalan mulus. Ada masa ketika usaha berkembang, tetapi ada pula saat bisnis menghadapi kerugian dan membuat pemiliknya hampir menyerah.

Hal tersebut dialami Algi Prayoga Aprianto, owner iPhone Tasik dan sejumlah bisnis di bawah Navara Group. Ia memulai perjalanan bisnisnya dengan berjualan iPhone kepada teman-teman sekolah hingga kemudian berkembang menjadi bisnis dengan puluhan karyawan.

Kisah Algi menunjukkan bahwa bisnis iPhone tidak hanya membutuhkan kemampuan menjual produk. Kepercayaan pelanggan, personal branding, pelayanan, pengelolaan tim, hingga keberanian menghadapi kegagalan ikut menentukan perjalanan sebuah usaha.

Memulai Bisnis iPhone dari Bangku SMA

Ketertarikan Algi terhadap dunia bisnis sebenarnya sudah muncul sejak sekolah. Sekitar 2010–2011, ketika iPhone belum terlalu populer di Tasikmalaya, ia melihat adanya peluang dari produk Apple tersebut.

Saat itu, penggunaan iPhone di kalangan pelajar belum sekuat sekarang. Algi yang sudah lebih dahulu menggunakan iPhone kemudian memperkenalkan produk tersebut kepada teman-temannya.

Ia menunjukkan berbagai kelebihan iPhone, terutama kamera yang dianggap menarik bagi anak muda yang gemar mengambil foto dan mengunggahnya ke media sosial.

Dari kebiasaan teman-temannya meminjam iPhone miliknya, Algi mulai melihat peluang bisnis. Ia kemudian mencari unit iPhone dari berbagai sumber dan menjualnya kembali kepada teman-teman sekolah.

Pada masa tersebut, ia bahkan harus mencari barang hingga ke luar kota. Sistem jual beli yang saat itu berkembang melalui komunitas online juga dimanfaatkan untuk mendapatkan produk dengan harga yang memungkinkan untuk dijual kembali.

Awalnya, jumlah pembelinya masih sedikit. Namun, keuntungan dari penjualan tersebut kembali diputar untuk membeli unit berikutnya.

Dengan cara sederhana tersebut, bisnis iPhone Algi perlahan mulai berkembang.

Bisnis iPhone Berlanjut Saat Kuliah

Memasuki masa kuliah pada 2013, Algi tetap menjalankan bisnis iPhone. Ia melihat bahwa teman-temannya di Jawa Tengah belum terlalu familiar dengan produk tersebut.

Momentum itu kemudian menjadi peluang baru.

Ketika libur semester, Algi memanfaatkannya untuk mencari iPhone di Tasikmalaya. Setelah mendapatkan barang yang dipesan, produk tersebut dibawa kembali ketika ia masuk kuliah.

Dari aktivitas tersebut, jumlah penjualan mulai meningkat. Ia bahkan menceritakan pernah menjual sekitar 13 unit iPhone kepada teman-temannya ketika masih kuliah.

Bisnis tersebut kemudian berkembang melalui Instagram. Pelanggan tidak hanya berasal dari lingkungan sekitar, tetapi mulai datang dari berbagai daerah seperti Papua dan Kalimantan.

Pertumbuhan pelanggan dari luar kota membuat Algi mulai berpikir untuk mengembangkan bisnis iPhone dari penjualan online menjadi toko fisik.

Dari Jualan di Rumah hingga Membuka Toko

Setelah menyelesaikan kuliah, Algi masih menjalankan bisnis iPhone dari rumah. Namun, meningkatnya permintaan membuatnya merasa sudah waktunya memiliki toko offline.

Ia kemudian mencari lokasi untuk membuka toko dan akhirnya mendirikan offline store iPhone Tasik.

Pada awal berdirinya toko, jumlah karyawan masih sangat terbatas. Algi juga tidak hanya berperan sebagai pemilik, tetapi ikut menangani berbagai pekerjaan bersama partner bisnisnya.

Mereka terlibat langsung dalam pemasaran, pengiriman barang, pencarian stok, hingga aktivitas operasional lainnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa membangun bisnis dari awal membutuhkan keterlibatan langsung pemilik, terutama ketika jumlah sumber daya masih terbatas.

Jumlah Karyawan Bertambah Seiring Bisnis Berkembang

Perkembangan bisnis membuat jumlah karyawan iPhone Tasik terus bertambah.

Pada awalnya, bisnis tersebut hanya memiliki sekitar dua karyawan. Ketika membuka toko di lokasi yang lebih besar pada 2022, Algi menambah jumlah karyawan.

Dalam transkrip, Algi menjelaskan bahwa jumlah tim kemudian berkembang hingga sekitar 22 orang, dengan beberapa fungsi seperti marketing, frontliner, dan finance.

Perkembangan tersebut berjalan seiring dengan meningkatnya penjualan. Jika pada awal bisnis penjualan harian berada di kisaran beberapa unit, kini penjualan disebut dapat mencapai sekitar 5–10 unit per hari, meskipun jumlah tersebut dapat berubah tergantung kondisi hari biasa maupun musim ramai.

Perjalanan ini memperlihatkan bagaimana bisnis iPhone yang awalnya dijalankan secara sederhana dapat berkembang menjadi organisasi dengan tim yang lebih besar.

Tidak Berhenti di Bisnis iPhone

Keberhasilan membangun iPhone Tasik kemudian membuka jalan bagi Algi untuk mengembangkan bisnis lainnya.

Ia mendirikan beberapa usaha yang berada dalam kelompok Navara, di antaranya Navara Cafe, Seblak Navara, dan Navara Gold.

Dengan berkembangnya bisnis, hasil yang diperoleh tidak hanya digunakan untuk kebutuhan operasional. Algi juga menyebut sejumlah pencapaian pribadi dan keluarga, seperti membantu memberangkatkan orang tua umrah, membeli aset, menambah persediaan handphone, serta memperluas jangkauan bisnis.

Bagi Algi, pertumbuhan bisnis juga harus diiringi dengan perencanaan jangka panjang. Salah satu bentuknya adalah menyiapkan tabungan dan deposito untuk kebutuhan masa depan.

Personal Branding Menjadi Bagian Penting dalam Bisnis

Salah satu prinsip yang dipegang Algi dalam menjalankan bisnis adalah pentingnya personal branding.

Menurutnya, pelanggan tidak hanya membeli produk. Mereka juga membeli kepercayaan terhadap penjual atau bisnis yang menyediakan produk tersebut.

Karena itu, Algi memilih untuk tetap terlibat langsung dalam membangun citra bisnisnya.

Personal branding membuat pelanggan dapat mengenali sosok di balik sebuah bisnis. Ketika pelanggan melihat aktivitas, pencapaian, dan keterlibatan pemilik, kepercayaan terhadap bisnis juga dapat terbentuk.

Dalam konteks bisnis iPhone, kepercayaan menjadi faktor penting karena produk yang dijual memiliki nilai transaksi yang relatif besar.

Dengan demikian, membangun personal branding bukan sekadar memperkenalkan diri, tetapi juga menunjukkan tanggung jawab dan kredibilitas kepada pelanggan.

After Sales Menentukan Pelanggan Kembali

Selain personal branding, Algi menekankan pentingnya pelayanan setelah transaksi atau after sales.

Menurutnya, produk yang bagus tidak akan cukup apabila pelanggan mendapatkan pelayanan yang mengecewakan.

Karena itu, ia mengingatkan tim agar memperhatikan cara berkomunikasi, keramahan, kebersihan, dan pelayanan kepada pelanggan.

Pengalaman pelanggan setelah pembelian dapat memengaruhi keputusan mereka untuk kembali berbelanja. Jika pelanggan merasa puas, peluang terjadinya pembelian ulang atau repeat order dapat semakin terbuka.

Pelajaran ini tidak hanya berlaku untuk bisnis iPhone. Hampir semua jenis usaha membutuhkan pelayanan yang konsisten agar pelanggan tidak berhenti pada satu kali transaksi.

Menghadapi Persaingan dan Perubahan Pasar

Pertumbuhan sebuah bisnis juga menghadirkan tantangan baru. Semakin banyak orang yang masuk ke dunia bisnis, persaingan otomatis menjadi semakin ketat.

Algi menyebut kompetitor, perubahan harga, stok lama, masalah persediaan, serta sumber daya manusia sebagai beberapa tantangan yang harus dihadapi.

Karena itu, bisnis perlu terus melakukan evaluasi dan inovasi.

Bagi bisnis iPhone, perubahan produk dan kebutuhan konsumen membuat pemilik usaha harus memahami kondisi pasar. Tidak cukup hanya mengandalkan keberhasilan masa lalu.

Bisnis yang sebelumnya ramai tetap harus mempertahankan kualitas pelayanan, melakukan pemasaran, menjaga stok, serta memastikan tim mampu bekerja sesuai kebutuhan perusahaan.

Pernah Ditipu dan Hampir Menyerah

Di balik perkembangan bisnisnya, Algi juga pernah mengalami pengalaman yang membuatnya kehilangan semangat.

Ia menceritakan pernah mengalami penipuan ketika membeli barang dari seorang seller. Peristiwa tersebut terjadi pada Januari 2021 dan membuatnya mengalami kerugian yang menurutnya cukup besar pada saat itu.

Ia bahkan datang ke Jakarta untuk mencari orang tersebut, tetapi tidak berhasil menemukannya.

Kerugian itu sempat membuat Algi berpikir untuk berhenti berjualan. Ia merasa keuntungan bisnisnya akan sulit digunakan untuk menutup kerugian yang dialami.

Namun, pengalaman tersebut akhirnya tidak menjadi akhir perjalanan bisnisnya.

Justru dari pengalaman itu muncul pelajaran bahwa seorang pengusaha harus siap menghadapi risiko dan tidak boleh berhenti hanya karena mengalami satu kegagalan.

Semakin Besar Bisnis, Semakin Besar Tanggung Jawab

Salah satu pelajaran penting yang disampaikan Algi adalah bahwa pencapaian bukanlah garis akhir.

Ketika sebuah bisnis semakin besar, tanggung jawab pemilik juga semakin besar.

Ia menggambarkan prinsip tersebut melalui pengelolaan stok. Ketika jumlah persediaan mencapai banyak unit, pemilik dan tim harus semakin serius memantau barang tersebut.

Artinya, pertumbuhan bisnis tidak cukup hanya dilihat dari bertambahnya omzet, aset, toko, atau jumlah karyawan. Pertumbuhan juga membawa tanggung jawab baru yang harus dikelola.

Semakin besar bisnis, semakin besar pula usaha yang diperlukan untuk mempertahankannya.

Doa, Ilmu, dan Kemauan untuk Terus Belajar

Dalam perjalanan bisnisnya, Algi juga menempatkan doa sebagai bagian penting dalam kehidupannya.

Ia mengatakan bahwa dirinya berusaha untuk tetap berdoa dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.

Selain doa, ia juga menekankan pentingnya pendidikan dan mencari ilmu, terutama bagi mahasiswa dan anak muda yang ingin masuk ke dunia bisnis.

Menurutnya, ilmu yang diperoleh melalui pendidikan, organisasi, dan proses belajar dapat menjadi bekal ketika seseorang memasuki dunia kerja maupun bisnis.

Dengan demikian, membangun bisnis tidak hanya membutuhkan keberanian untuk memulai. Pengetahuan dan kemampuan untuk terus belajar juga diperlukan agar seseorang mampu menghadapi berbagai perubahan.

Dari Jualan iPhone ke Membangun Bisnis yang Lebih Besar

Perjalanan Algi Prayoga Aprianto memperlihatkan bagaimana bisnis iPhone yang dimulai sejak bangku SMA dapat berkembang menjadi bisnis dengan tim yang jauh lebih besar.

Perjalanannya tidak hanya berisi cerita tentang penjualan dan pertumbuhan usaha. Ada pula pengalaman tertipu, hampir menyerah, menghadapi kompetitor, mengelola karyawan, menjaga pelanggan, hingga membangun bisnis lainnya.

Salah satu pesan yang paling kuat dari kisah tersebut adalah bahwa pencapaian bukanlah alasan untuk berhenti berkembang.

Ketika bisnis semakin besar, pemilik justru harus meningkatkan tanggung jawab dan usaha. Personal branding perlu dijaga, pelayanan harus diperhatikan, tim perlu diarahkan, dan bisnis harus terus beradaptasi.

Bagi anak muda yang sedang merintis usaha, kisah ini menjadi gambaran bahwa bisnis dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana. Bahkan dari menjual beberapa unit produk kepada teman sekolah, sebuah usaha dapat berkembang apabila peluang dikelola dan prosesnya terus dijalankan.

Algi sendiri memiliki harapan agar iPhone Tasik dan Navara Group tidak hanya dikenal di Tasikmalaya, tetapi dapat berkembang ke berbagai daerah di Indonesia melalui pembukaan cabang dan perluasan bisnis.

Pada akhirnya, perjalanan membangun bisnis bukan tentang seberapa cepat seseorang mencapai kesuksesan, melainkan bagaimana ia terus belajar, menghadapi masalah, menjaga kepercayaan pelanggan, dan bertanggung jawab atas bisnis yang telah dibangun.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button