Lazada Kalah dari Shopee? Ini Penyebab dan Faktanya
Lazada pernah menjadi salah satu marketplace terbesar di Asia Tenggara. Dengan dukungan investasi Alibaba, platform ini memiliki modal besar, teknologi, dan jaringan logistik untuk memperluas bisnisnya. Namun, persaingan e-commerce terus berubah. Shopee tumbuh agresif, sementara TikTok Shop menghadirkan cara berbelanja baru melalui video pendek, kreator, dan siaran langsung.
Perubahan tersebut membuat posisi Lazada semakin tertantang. Marketplace yang dahulu menjadi salah satu pemain utama kini harus bersaing lebih keras untuk mempertahankan perhatian konsumen dan menarik penjual.
Lantas, mengapa Lazada kalah bersaing dengan Shopee dan TikTok Shop? Apakah masalahnya terletak pada strategi pemasaran, pengalaman pengguna, atau perubahan perilaku konsumen?
Perjalanan Lazada memberikan pelajaran penting bagi pelaku bisnis digital tentang pentingnya inovasi, kemampuan membaca pasar, dan kecepatan beradaptasi.
Perjalanan Lazada dari Pemain Besar Menjadi Penantang
Lazada tumbuh ketika internet dan penggunaan smartphone mulai mengubah kebiasaan masyarakat dalam berbelanja. Konsumen yang sebelumnya harus datang langsung ke toko kini bisa membeli barang melalui aplikasi atau situs web.
Namun, membangun marketplace bukan sekadar menyediakan katalog produk. Perusahaan juga perlu menghadirkan sistem pembayaran, layanan pelanggan, pengelolaan pesanan, dan pengiriman yang dapat diandalkan.
Lazada mengembangkan berbagai layanan tersebut untuk membangun kepercayaan konsumen sekaligus mempermudah penjual menjalankan bisnis secara online.
Perkembangannya menarik perhatian Alibaba. Pada April 2016, perusahaan teknologi asal Tiongkok itu mengumumkan investasi sekitar US$1 miliar untuk mengambil saham pengendali Lazada. Alibaba kemudian menambah investasinya pada 2017 dan 2018 sehingga total investasi yang diumumkan mencapai sekitar US$4 miliar.
Dukungan tersebut memperkuat posisi Lazada di Asia Tenggara. Perusahaan memiliki sumber daya untuk mengembangkan teknologi, memperluas jaringan logistik, serta membangun layanan seperti LazMall yang mempertemukan konsumen dengan berbagai merek resmi.
Pada masa itu, masa depan Lazada terlihat menjanjikan. Namun, dukungan modal besar tidak otomatis menjamin sebuah perusahaan akan terus memimpin pasar.
Persaingan e-commerce bergerak cepat. Ketika Lazada memperkuat bisnisnya, para pesaing justru menghadirkan pendekatan yang semakin sesuai dengan kebiasaan konsumen digital.
Shopee Mengubah Cara Konsumen Berbelanja Online
Salah satu pesaing terbesar Lazada adalah Shopee. Diluncurkan pada 2015 oleh Sea Group, Shopee mengembangkan layanan yang berorientasi pada pengguna smartphone.
Shopee tidak hanya berusaha menyediakan produk sebanyak mungkin. Platform ini juga membangun pengalaman belanja yang membuat konsumen tertarik untuk membuka aplikasi secara berulang.
Berbagai voucher, promosi tanggal kembar, permainan interaktif, dan penawaran khusus menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan aktivitas pengguna. Konsumen tidak harus selalu membuka aplikasi karena membutuhkan barang tertentu. Mereka juga bisa datang karena tertarik pada promo yang sedang berlangsung.
Strategi ini memberikan keuntungan bagi Shopee. Semakin sering konsumen menggunakan aplikasi, semakin besar peluang mereka menemukan produk baru dan melakukan pembelian.
Shopee juga memperoleh manfaat dari efek jaringan. Ketika jumlah penjual bertambah, pilihan produk semakin beragam. Kondisi tersebut menarik lebih banyak pembeli, yang kemudian mendorong penjual lain untuk bergabung.
Lazada tentu juga memiliki program promosi. Namun, persaingan tidak hanya ditentukan oleh besarnya diskon. Kemudahan penggunaan, variasi produk, pengalaman berbelanja, dan kemampuan mempertahankan pelanggan ikut menentukan kekuatan sebuah marketplace.
Pelajaran bagi pelaku UMKM: jangan hanya memikirkan cara mendatangkan pembeli. Bangun pula pengalaman yang membuat pelanggan ingin kembali membeli produkmu.
TikTok Shop Membawa Persaingan ke Dunia Konten
Pada marketplace konvensional, konsumen biasanya mencari produk terlebih dahulu. Mereka mengetik nama barang, membandingkan harga, lalu memilih penjual.
TikTok Shop menawarkan jalur yang berbeda. Konsumen bisa menemukan produk ketika menonton video, menyaksikan ulasan kreator, atau mengikuti siaran langsung penjual.
Perubahan ini penting karena produk dapat menarik perhatian calon pembeli sebelum mereka memiliki niat untuk berbelanja. Video demonstrasi, pengalaman pengguna, dan rekomendasi kreator dapat memunculkan kebutuhan yang sebelumnya tidak terpikirkan.
Model ini dikenal sebagai social commerce atau perdagangan sosial. Sementara itu, penjualan melalui video pendek dan siaran langsung merupakan bagian dari perkembangan content commerce.
Momentum Works melaporkan bahwa perdagangan berbasis konten menghasilkan GMV sekitar US$49,7 miliar di Asia Tenggara pada 2025, setara dengan sekitar 32% GMV e-commerce berbasis platform. Angka tersebut memperlihatkan semakin pentingnya konten dalam mendorong transaksi digital.
Bagi penjual kecil, perkembangan ini sekaligus membuka peluang. Produk sederhana pun berpotensi mendapatkan perhatian apabila ditampilkan melalui konten yang menarik, demonstrasi yang jelas, dan penjelasan manfaat yang meyakinkan.
Tokopedia dan Perubahan Peta E-Commerce Indonesia
Selain Shopee dan TikTok Shop, Lazada juga menghadapi persaingan dari Tokopedia.
Tokopedia berdiri pada 2009 dengan tujuan mempertemukan penjual dan pembeli melalui internet. Platform ini berkembang bersama kebutuhan pasar Indonesia, termasuk membantu pedagang menjangkau konsumen di luar wilayah tempat mereka berjualan.
Pada 2021, Tokopedia bergabung dengan Gojek dalam pembentukan GoTo. Perubahan besar berikutnya terjadi ketika TikTok dan GoTo mengumumkan kemitraan strategis pada Desember 2023 untuk menggabungkan bisnis TikTok Shop Indonesia dengan Tokopedia.
Transaksi tersebut diselesaikan pada Januari 2024, dengan TikTok menjadi pemegang saham pengendali bisnis e-commerce gabungan.
Kombinasi ini mempertemukan dua kekuatan berbeda. Tokopedia membawa pengalaman marketplace dan basis penjual, sedangkan TikTok memiliki ekosistem konten, kreator, dan pengguna yang dapat menjadi sumber penemuan produk.
Bagi Lazada, persaingan menjadi semakin kompleks. Shopee memiliki basis perdagangan yang besar, sementara TikTok Shop dan Tokopedia menggabungkan aktivitas konten dengan transaksi e-commerce.
Artinya, Lazada harus bersaing bukan hanya dengan aplikasi belanja lainnya, tetapi juga dengan cara baru konsumen menemukan barang dan mengambil keputusan pembelian.
Data Pasar: Seberapa Jauh Lazada Tertinggal?
Untuk memahami posisi Lazada, kita perlu melihat skala transaksi di pasar e-commerce Asia Tenggara.
Salah satu indikator yang digunakan adalah Gross Merchandise Value (GMV), yaitu nilai transaksi barang atau jasa yang terjadi melalui suatu platform. GMV bukan pendapatan bersih ataupun laba perusahaan, tetapi dapat memberikan gambaran tentang skala perdagangan.
Menurut laporan Momentum Works yang dirilis pada April 2026, GMV e-commerce berbasis platform di Asia Tenggara mencapai US$157,6 miliar pada 2025, tumbuh 22,8% dibandingkan tahun sebelumnya. Shopee tetap menjadi pemimpin regional, sedangkan TikTok Shop tumbuh pesat dan mempersempit jarak dengan pesaingnya.
| Platform | GMV 2024 | GMV 2025 |
|---|---|---|
| Shopee | US$66,8 miliar | US$83,2 miliar |
| TikTok Shop | US$22,6 miliar | US$45,6 miliar |
| Lazada | US$12,8 miliar | US$18,0 miliar |
Sumber: Momentum Works, laporan Ecommerce in Southeast Asia 2026. GMV TikTok Shop pada tabel tidak mencakup GMV Tokopedia sebagai angka terpisah.
Data tersebut perlu dibaca dengan cermat. GMV Lazada justru meningkat pada 2025, dari US$12,8 miliar menjadi US$18 miliar. Jadi, tidak tepat jika dikatakan bisnis Lazada sudah mati atau seluruh transaksinya terus menurun.
Namun, Lazada tetap menghadapi kesenjangan skala yang besar dibandingkan Shopee. Sementara itu, pertumbuhan TikTok Shop menunjukkan betapa cepatnya model perdagangan berbasis konten berkembang.
Pasar Indonesia juga masih sangat penting. Pada 2025, GMV e-commerce berbasis platform di Indonesia mencapai sekitar US$57,7 miliar. Angka ini menjadikan Indonesia pasar terbesar di Asia Tenggara berdasarkan nilai transaksi platform.
Mengapa Lazada Kalah Bersaing?
Ada beberapa faktor yang membantu menjelaskan mengapa Lazada menghadapi tekanan persaingan, meskipun masih memiliki dukungan Alibaba dan bisnis yang berjalan.
1. Perubahan perilaku konsumen
Konsumen kini tidak hanya mencari barang melalui kolom pencarian marketplace. Mereka juga menemukan produk dari video, ulasan pengguna, rekomendasi kreator, dan siaran langsung.
Platform yang mampu menggabungkan penemuan produk dengan transaksi memiliki lebih banyak kesempatan untuk memengaruhi keputusan pembelian.
2. Persaingan mendapatkan perhatian pengguna
Dalam bisnis digital, jumlah pengguna saja tidak cukup. Perusahaan juga perlu membuat pengguna aktif kembali.
Shopee mengandalkan berbagai fitur dan promosi, sedangkan TikTok Shop memanfaatkan konten yang dikonsumsi pengguna setiap hari. Strategi tersebut membuat aktivitas belanja menyatu dengan kebiasaan menggunakan smartphone.
3. Efek jaringan dan skala bisnis
Marketplace yang memiliki banyak penjual, pembeli, dan pilihan produk dapat memperoleh keuntungan dari efek jaringan. Semakin besar ekosistemnya, semakin mudah platform tersebut menarik peserta baru.
Skala besar juga dapat membantu perusahaan menyebarkan biaya teknologi dan operasional kepada lebih banyak transaksi. Sebaliknya, platform yang tertinggal perlu bekerja lebih keras untuk menarik pelanggan dan mempertahankan penjual.
4. Strategi bisnis yang berbeda
Lazada memiliki LazMall, yang menekankan produk dari merek resmi dan pengalaman berbelanja yang lebih tepercaya. Pendekatan ini memiliki nilai bagi konsumen yang mengutamakan keaslian produk.
Namun, fokus pada produk bermerek bukan satu-satunya cara memenangkan pasar. Platform juga perlu mempertimbangkan harga, variasi produk, kemudahan berbelanja, promosi, dan cara konsumen menemukan barang.
Lazada perlu memastikan bahwa keunggulannya tetap relevan bagi kelompok konsumen yang ingin dilayani.
5. Tekanan untuk menghasilkan keuntungan
Bisnis e-commerce membutuhkan investasi besar untuk teknologi, promosi, layanan pelanggan, dan logistik. Mengejar pertumbuhan dengan diskon terus-menerus bukan strategi yang selalu berkelanjutan.
Karena itu, perusahaan harus menyeimbangkan pertumbuhan transaksi dengan efisiensi operasional dan profitabilitas.
Menariknya, Momentum Works mencatat bahwa Lazada telah menstabilkan GMV dan mencapai EBITDA positif pada 2024. Perusahaan juga mengembangkan kemampuan kecerdasan buatan serta memperkuat pendekatan berbasis kualitas produk.
Apakah Lazada Akan Bangkit Kembali?
Lazada belum bisa dianggap selesai. Perusahaan ini masih memiliki dukungan Alibaba, pengalaman operasional di Asia Tenggara, teknologi, dan jaringan logistik.
Ada beberapa langkah yang berpotensi memperkuat posisinya.
-
Memperbaiki pengalaman pengguna. Proses pencarian, pembayaran, pengiriman, dan pengembalian barang harus semakin mudah.
-
Memanfaatkan kecerdasan buatan. Teknologi AI dapat membantu pencarian produk, rekomendasi yang lebih relevan, dan efisiensi kerja penjual.
-
Memperkuat hubungan dengan merek. Fokus pada produk autentik dan layanan yang baik dapat menjadi pembeda dari pesaing.
-
Mengembangkan perdagangan berbasis konten. Video produk dan siaran langsung dapat membantu konsumen menemukan barang dengan cara yang lebih menarik.
-
Menjaga efisiensi bisnis. Pertumbuhan transaksi perlu disertai pengelolaan biaya yang sehat.
Tentu, keberhasilan strategi tersebut tidak bisa dijamin. Persaingan tetap ketat dan konsumen dapat berpindah platform apabila menemukan harga, layanan, atau pengalaman belanja yang lebih sesuai.
Namun, data terbaru memperlihatkan bahwa GMV Lazada meningkat pada 2025. Karena itu, kisah Lazada lebih tepat dipahami sebagai perjuangan mempertahankan daya saing di tengah perubahan industri, bukan kisah perusahaan yang sudah bangkrut.
Pelajaran Bisnis yang Bisa Diambil UMKM
Perjalanan Lazada memberikan pelajaran berharga bagi pelaku UMKM. Bisnis yang pernah unggul tidak otomatis akan terus memimpin apabila perubahan pasar bergerak lebih cepat daripada kemampuan beradaptasinya.
Ada tiga hal yang bisa diterapkan oleh pemilik usaha.
Pertama, jangan hanya mengandalkan kejayaan masa lalu. Produk yang dahulu laris belum tentu tetap diminati. Pelaku usaha perlu memperhatikan perubahan kebutuhan pelanggan dan perilaku belanja.
Kedua, ikuti perkembangan saluran pemasaran. Toko online, marketplace, media sosial, video pendek, dan siaran langsung bisa saling melengkapi. Pilih saluran yang sesuai dengan produk, kemampuan operasional, dan karakter konsumen.
Ketiga, jangan mengejar omzet tanpa menghitung keuntungan. Diskon besar mungkin meningkatkan penjualan, tetapi biaya promosi, komisi platform, pengemasan, dan pengiriman dapat menggerus margin. Bisnis yang sehat harus memperhatikan omzet sekaligus laba.
Pada akhirnya, persaingan e-commerce bukan hanya tentang siapa yang memiliki modal terbesar. Perusahaan juga harus mampu memahami pelanggan, menawarkan pengalaman yang relevan, dan mengelola bisnis secara berkelanjutan.
Lazada masih memiliki kesempatan untuk memperkuat posisinya. Namun, dukungan modal saja tidak cukup. Perusahaan perlu terus membuktikan bahwa layanannya mampu menjawab kebutuhan konsumen yang terus berubah.
