Berita Terkini

HIPMI Sambut Akselerasi IEU-CEPA Demi Daya Saing Global

Jakarta – Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) menyambut positif percepatan ratifikasi kesepakatan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). Langkah strategis ini dinilai mampu membuka peluang perdagangan dan investasi yang jauh lebih luas bagi industri nasional.

Ketua Umum BPP HIPMI Ade Jona Prasetyo menegaskan bahwa IEU-CEPA tidak boleh sekadar dipandang sebagai instrumen penurunan tarif. Kesepakatan perdagangan ini harus dimanfaatkan sebagai momentum emas untuk memperluas jangkauan ekspor.

“Target kita bukan hanya menjual lebih banyak barang ke Eropa. Kita ingin semakin banyak perusahaan Indonesia yang naik kelas, memiliki standar global, dan membangun jaringan bisnis internasional,” ujar Ade Jona dalam keterangannya, Sabtu (22/8/2026). Dikutip dari IDNTimes.

Akses Pasar Eropa Terbuka dan Tantangan Standar Tinggi

Pemerintah menargetkan ratifikasi IEU-CEPA rampung pada semester II-2026 agar implementasinya dapat berjalan efektif pada awal 2027. Perjanjian ini diproyeksikan bakal menghapus tarif lebih dari 98 persen pos tarif perdagangan.

Selain itu, nilai perdagangan barang antara Indonesia dan Uni Eropa tercatat mencapai sekitar 27,3 miliar euro pada 2024. Berbagai produk unggulan seperti kopi, kakao, karet, tekstil, alas kaki, hasil perikanan, furnitur, hingga komponen elektronik berpeluang besar menembus pasar Eropa.

Namun demikian, kemudahan akses pasar ini tidak secara otomatis mendongkrak volume ekspor nasional. Pasar Eropa dikenal memiliki standar yang sangat ketat terkait kualitas, sertifikasi, ketertelusuran produk, hingga aspek keberlanjutan.

“Tarif boleh turun, tetapi kalau produk kita belum memenuhi standar, biaya sertifikasinya tinggi atau pengusaha tidak memiliki akses kepada buyer, peluangnya tidak akan maksimal,” katanya.

Kesiapan Dunia Usaha dan Potensi Investasi Hijau

HIPMI mendorong pemerintah dan pelaku usaha untuk segera merumuskan langkah konkret sebelum implementasi berlaku. Percepatan sertifikasi, pembiayaan ekspor yang kompetitif, perluasan business matching, serta peningkatan kapasitas produksi menjadi kunci utama persaingan.

“Banyak pengusaha kita punya produk yang bagus. Tantangannya sering berada pada skala produksi, konsistensi kualitas, pembiayaan, sertifikasi dan akses pasar. Kalau hambatan ini bisa kita pecahkan, akan lebih banyak pengusaha Indonesia yang mampu menjadi eksportir,” jelas Ade Jona.

Di sisi lain, IEU-CEPA berpotensi besar menarik aliran investasi dari Eropa ke sektor manufaktur, teknologi, energi hijau, kendaraan listrik, hingga farmasi. Investasi ini diharapkan membawa transfer teknologi dan meningkatkan kompetensi tenaga kerja lokal.

“Kita ingin hubungan ekonomi Indonesia-Eropa berjalan dua arah. Produk Indonesia semakin banyak masuk Eropa, sementara investasi dan teknologi Eropa masuk untuk memperkuat kapasitas industri kita,” ujarnya.

Oleh karena itu, manfaat perundingan ini harus dirasakan hingga ke tingkat UMKM dan pelaku usaha di daerah. Keberhasilan IEU-CEPA nantinya tidak hanya diukur dari angka ekspor, tetapi juga dari lahirnya eksportir baru yang berdaya saing global.

“IEU-CEPA membuka pintu yang besar. Sekarang tugas kita memastikan pengusaha Indonesia memiliki kapasitas untuk masuk, bersaing, dan tumbuh di pasar global,” tandasnya.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button