Berita Terkini

Solusi Protein Desa: Panen Bioflok Mekarsari Topang Makan Gratis

Lahan sempit bukan lagi penghalang untuk mencetak kemandirian pangan di tingkat tapak. Di Desa Mekarsari, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, panen lele berbasis sistem bioflok menjadi bukti nyata efisiensi teknologi budidaya air tawar.

Langkah inovatif ini digerakkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Program tersebut tidak hanya menekan biaya operasional, tetapi juga menciptakan sumber ekonomi baru bagi warga lokal.

Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya KKP, Tb Haeru Rahayu, menegaskan bahwa bioflok hadir sebagai solusi efisiensi di tengah keterbatasan sumber daya.

“Air hanya dimasukkan di awal hingga masa panen, penambahan dilakukan kalau memang diperlukan saja. Selain hemat pakan, sistem ini juga tidak butuh lahan luas dan efisien dalam penggunaan air,” ujar Dirjen Tebe di Jakarta, Rabu (13/5).

Efisiensi Teknologi dan Diversifikasi Pasar

Selain efisiensi pakan dan air, penerapan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) menjadi benteng utama kelayakan produk. Regulasi ini memastikan hasil panen tetap higienis, berdaya saing, serta aman dikonsumsi masyarakat luas. Oleh karena itu, KKP terus memperluas jangkauan program ini ke 100 titik yang tersebar di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, hingga Jawa Timur.

Pemerintah merancang bantuan sarana ini sebagai stimulan agar perekonomian warga dapat bergerak mandiri. Selain itu, pasokan protein lele ini ditargetkan masuk ke dalam rantai pasok program nasional.

“Program ini kami titipkan sebagai modal kerja awal masyarakat. Harapannya bisa terus berkembang dan bergulir secara mandiri untuk mendukung peningkatan ekonomi masyarakat serta mendukung program Makan Bergizi Gratis,” tambah Tebe.

Dukungan serupa datang dari kalangan legislator. Anggota Komisi IV DPR RI, Rajiv, menilai pemanfaatan teknologi tepat guna di desa harus dibarengi dengan pengelolaan hasil panen yang berkelanjutan.

“Mudah-mudahan hasilnya bisa berkah dan dipakai kembali untuk pengembangan usaha. Kalau bisa ke depan masyarakat punya bioflok mandiri dan usahanya terus berkembang,” ujar Rajiv.

Solusi Keramba dan Rantai Pasok Gizi

Bagi warga sekitar Waduk Saguling, kehadiran teknologi ini memberikan alternatif usaha yang lebih terukur. Alih teknologi ini menggeser ketergantungan masyarakat dari Keramba Jaring Apung (KJA) menuju sistem terkontrol.

Ketua Unit Perikanan, Peternakan, dan Pangan KDMP Mekarsari, Elpan, menyambut positif perubahan pola budidaya tersebut.

“Dengan hadirnya bioflok ini menjadi solusi untuk masyarakat. Risiko kematian ikan lebih rendah dan pengelolaannya lebih bisa dikontrol. Ke depan kami ingin mengembangkan produk olahan seperti abon, filet, dan kerupuk agar pemberdayaan masyarakat semakin berkembang,” jelasnya.

Pada akhirnya, integrasi dari hilir ke hulu menjadi penentu utama keberlanjutan program perikanan tematik ini. Keselarasan antara produksi pembudidaya dan serapan pasar, termasuk keterlibatan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), akan menguji seberapa jauh bioflok mampu menopang ketahanan pangan nasional secara mandiri.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button