Ruang Inspirasi

Sejarah Oatside: Dari Bisnis Rumahan hingga Pasar Asia

Sejarah Brand Oatside: Dari Eksperimen Rumahan hingga Pasar Asia

Susu oat atau oat milk kini bukan lagi minuman yang hanya dikenal oleh kalangan tertentu. Di banyak kedai kopi, supermarket, hingga toko online, susu berbahan dasar oat semakin mudah ditemukan. Minuman ini sering dipilih sebagai alternatif susu sapi, terutama oleh konsumen yang ingin mencoba produk plant-based.

Di balik semakin populernya susu oat, muncul sejumlah merek yang mencoba menawarkan rasa dan pengalaman berbeda. Salah satunya adalah Oatside, brand susu oat asal Singapura yang dalam beberapa tahun terakhir berkembang cukup pesat di kawasan Asia.

Menariknya, perjalanan Oatside tidak dimulai dari perusahaan besar. Produk ini justru berawal dari eksperimen di rumah ketika pandemi Covid-19. Sang pendiri, Benedict Lim, mencoba membuat susu oat sendiri karena merasa produk yang tersedia di pasaran belum sesuai dengan selera yang ia inginkan.

Dari percobaan sederhana tersebut, Oatside kemudian tumbuh menjadi bisnis minuman yang produknya sudah dipasarkan di sejumlah negara Asia, termasuk Indonesia.

Awal Mula Oatside dan Ide Membuat Susu Oat

Ide membuat Oatside berawal dari kebiasaan Benedict Lim menikmati kopi dengan susu. Ia menyadari bahwa beberapa produk susu nabati yang tersedia saat itu belum memberikan rasa dan tekstur seperti yang ia harapkan.

Bagi orang yang sudah terbiasa minum susu sapi, tekstur susu nabati yang terlalu encer atau rasanya kurang familiar bisa menjadi tantangan tersendiri. Hal inilah yang kemudian mendorong Lim untuk bereksperimen membuat susu oat versinya sendiri.

Saat masa lockdown pandemi, Lim mulai mengembangkan berbagai resep susu oat dari rumah. Ia tidak langsung menemukan formula yang dianggap pas. Menurut laporan Tatler Asia, Lim bahkan mencoba sekitar 50 versi resep sebelum mendapatkan formula yang sesuai dengan keinginannya.

Proses tersebut juga tidak berlangsung sebentar. Pengembangan produk membutuhkan waktu lebih dari satu tahun karena Lim ingin menghasilkan susu oat dengan rasa yang enak sekaligus tekstur yang lebih creamy.

Dari sini terlihat bahwa sebuah produk yang akhirnya terlihat sederhana di rak supermarket ternyata bisa melewati proses pengembangan yang panjang.

Benedict Lim, Sosok di Balik Brand Oatside

Sebelum membangun Oatside, Benedict Lim bukanlah orang yang benar-benar baru dalam dunia bisnis makanan dan minuman.

Ia memiliki pengalaman bekerja di The Kraft Heinz Company, salah satu perusahaan makanan dan minuman multinasional. Berdasarkan profil LinkedIn yang dikutip dalam sejumlah publikasi, Lim pernah menduduki posisi Chief Financial Officer Heinz ABC Indonesia & Papua Nugini pada 2019 hingga 2020.

Sebelumnya, ia juga pernah menjabat sebagai Head of Merger & Acquisition di Singapura mulai 2017.

Latar belakang Lim juga cukup kuat di bidang ekonomi dan keuangan. Ia merupakan lulusan University of Cambridge, Inggris. Setelah menyelesaikan pendidikan ekonominya, Lim sempat bekerja sebagai Investment Professional di Bain Capital, London.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi bekal ketika ia memutuskan keluar dari jalur karier korporasi dan membangun bisnisnya sendiri.

Keputusan tersebut memperlihatkan bahwa membangun usaha baru tidak selalu berarti seseorang harus memulai tanpa pengalaman. Pengetahuan yang diperoleh dari pekerjaan sebelumnya justru bisa menjadi modal penting ketika masuk ke dunia kewirausahaan.

Resep Oatside Dibuat dengan Fokus pada Rasa

Salah satu hal yang menjadi perhatian Oatside adalah bagaimana membuat susu oat yang tetap terasa familiar bagi konsumen.

Melalui situs resminya, Oatside menjelaskan bahwa sebagian produk plant-based milk memiliki tekstur yang tidak terlalu creamy. Selain itu, rasanya terkadang dianggap berbeda dari susu sapi yang sudah lebih dulu akrab di lidah konsumen.

Oatside mencoba mengambil pendekatan berbeda.

Produk mereka dikembangkan dengan karakter rasa malt dan nutty, serta tekstur yang lebih creamy. Tujuannya adalah membuat susu oat yang tidak hanya dipilih karena dianggap sebagai alternatif susu sapi, tetapi juga karena memang terasa enak ketika diminum.

Pendekatan terhadap rasa ini menjadi penting karena industri makanan dan minuman pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang tren. Konsumen bisa mencoba sebuah produk karena penasaran, tetapi rasa yang cocok dengan selera akan sangat menentukan apakah mereka mau membelinya lagi.

Bagi pelaku usaha, hal ini menjadi pelajaran menarik. Mengikuti tren pasar memang penting, tetapi menciptakan produk yang benar-benar disukai pelanggan jauh lebih penting untuk membangun bisnis dalam jangka panjang.

Mengapa Oatside Memilih Membangun Pabrik Sendiri?

Dalam membangun bisnisnya, Benedict Lim juga mengambil keputusan yang cukup besar. Ia memilih membangun fasilitas produksi sendiri dan tidak sepenuhnya bergantung kepada produsen pihak ketiga.

Dilansir dari South China Morning Post, keputusan tersebut berkaitan dengan keinginan Lim untuk mengembangkan proses ekstraksi oat secara khusus.

Dengan memiliki fasilitas produksi sendiri, Oatside memiliki kendali lebih besar terhadap proses pembuatan produknya. Strategi ini memungkinkan perusahaan mengatur proses produksi agar sesuai dengan karakter produk yang ingin mereka hasilkan.

Keputusan tersebut tentu membutuhkan investasi dan perencanaan yang tidak kecil. Namun, bagi sebuah bisnis yang ingin membangun produk dengan karakter khusus, kontrol terhadap proses produksi bisa menjadi bagian penting dari strategi perusahaan.

Saat ini, Oatside memproduksi minumannya di Asia. Fasilitas produksinya berada di Jawa Barat, Indonesia, sementara bahan oat yang digunakan berasal dari Australia.

Oatside Masuk Indonesia dan Memperluas Pasar Asia

Oatside mulai memasuki pasar Indonesia pada 2022. Kehadirannya ikut memperkaya pilihan susu nabati yang tersedia bagi konsumen Indonesia.

Indonesia sendiri menjadi salah satu pasar yang menarik bagi industri oat milk di kawasan Asia-Pasifik. Berdasarkan data yang dikutip dari Mordor Intelligence, pasar oat milk Asia-Pasifik diproyeksikan mengalami pertumbuhan pada periode 2026 hingga 2031. Indonesia juga disebut sebagai salah satu pasar dengan pertumbuhan tercepat di kawasan tersebut.

Pertumbuhan ini tidak terlepas dari semakin beragamnya kebutuhan konsumen. Susu oat tidak hanya digunakan untuk diminum secara langsung, tetapi juga banyak digunakan sebagai campuran kopi dan berbagai minuman lainnya.

Coffee shop menjadi salah satu tempat yang membantu memperkenalkan susu oat kepada masyarakat. Konsumen yang awalnya hanya mencoba oat milk dalam segelas kopi bisa kemudian tertarik membeli produknya untuk dikonsumsi di rumah.

Setelah hadir di Indonesia, Oatside juga memperluas pasar ke beberapa negara Asia lainnya, seperti Malaysia, Thailand, Filipina, Jepang, dan Korea.

Perkembangan tersebut menunjukkan bagaimana sebuah produk dengan konsep yang cukup sederhana bisa memiliki peluang untuk berkembang ketika mampu membaca kebutuhan pasar.

Pelajaran Bisnis dari Perjalanan Oatside

Perjalanan Oatside memberikan beberapa pelajaran menarik bagi pelaku usaha, terutama mereka yang sedang mengembangkan produk makanan dan minuman.

Pertama, ide bisnis bisa muncul dari masalah sederhana yang dialami sendiri. Benedict Lim awalnya hanya merasa belum menemukan susu oat dengan rasa dan tekstur yang sesuai seleranya. Dari masalah kecil tersebut, ia melihat peluang untuk menciptakan produk baru.

Kedua, produk yang bagus membutuhkan proses. Lim tidak langsung menemukan formula yang tepat. Puluhan percobaan dan waktu lebih dari satu tahun digunakan untuk mengembangkan produk sebelum akhirnya Oatside dipasarkan.

Ketiga, memahami konsumen sangat penting. Oatside tidak hanya menawarkan konsep plant-based, tetapi juga berusaha menjawab kebutuhan konsumen yang menginginkan susu dengan rasa enak dan tekstur creamy.

Keempat, keberanian mengambil keputusan strategis juga menjadi bagian penting dalam membangun bisnis. Pilihan untuk memiliki fasilitas produksi sendiri membuat perusahaan memiliki kontrol lebih besar terhadap proses pembuatan produknya.

Yang tidak kalah penting, perjalanan Oatside menunjukkan bahwa bisnis besar bisa berawal dari sesuatu yang sederhana. Tidak semua usaha langsung lahir dalam bentuk pabrik besar, kantor megah, atau modal yang sangat besar.

Kadang-kadang, semuanya dimulai dari sebuah masalah kecil, rasa penasaran, lalu keberanian untuk mencoba.

Dari Dapur Rumah ke Bisnis Minuman Berskala Asia

Kisah Oatside pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang popularitas susu oat. Ada proses panjang di balik sebuah produk yang sekarang mudah ditemukan di berbagai tempat.

Benedict Lim memulainya dari eksperimen di rumah ketika pandemi. Ia mencoba berbagai resep, mencari rasa yang tepat, kemudian membangun sistem produksi sendiri hingga akhirnya membawa produknya ke pasar yang lebih luas.

Bagi calon pengusaha, kisah ini bisa menjadi pengingat bahwa peluang bisnis sering kali muncul dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Tren pasar memang dapat membuka pintu. Namun, produk yang mampu bertahan biasanya membutuhkan lebih dari sekadar mengikuti tren. Ada riset, proses, keberanian mengambil keputusan, dan yang paling penting, usaha memahami apa yang benar-benar diinginkan konsumen.

Oatside menjadi salah satu contoh bagaimana ide sederhana tentang susu oat dapat berkembang menjadi brand yang menjangkau berbagai pasar di Asia.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button