Diskon Persen vs Nominal vs Bundling, Pilih Mana?

Diskon hampir selalu menarik perhatian pelanggan. Ada yang langsung tergoda melihat tulisan “Diskon 20%”, ada yang lebih tertarik dengan “Potongan Rp20.000”, dan ada pula yang merasa lebih untung ketika mendapatkan paket hemat berisi beberapa produk sekaligus.
Bagi pemilik usaha, membuat promo sebenarnya bukan sekadar soal memberikan harga lebih murah. Ada perhitungan yang perlu diperhatikan agar diskon tetap menarik bagi pelanggan tanpa membuat keuntungan bisnis ikut terkikis.
Diskon persen, diskon nominal, dan bundling memiliki cara kerja yang berbeda. Masing-masing bisa digunakan untuk tujuan tertentu, tergantung jenis produk, harga jual, margin keuntungan, kondisi stok, dan kebiasaan pelanggan.
Karena itu, sebelum membuat promo, sebaiknya pahami dulu karakter setiap jenis diskon. Dengan begitu, promo yang dibuat bukan hanya terlihat menarik, tetapi juga punya tujuan yang jelas.
Apa Itu Diskon Persen?
Diskon persen adalah potongan harga yang dihitung berdasarkan persentase tertentu dari harga normal sebuah produk.
Misalnya, sebuah toko menjual sepatu seharga Rp300.000 dan memberikan diskon 20%. Pelanggan mendapatkan potongan Rp60.000 sehingga harga yang harus dibayar menjadi Rp240.000.
Cara seperti ini cukup mudah dipahami. Pelanggan juga bisa langsung melihat persentase keuntungan yang ditawarkan melalui materi promosi.
Kelebihan Diskon Persen
Diskon persen memiliki beberapa kelebihan, terutama dari sisi komunikasi promosi. Angka persentase biasanya mudah ditampilkan pada banner, media sosial, marketplace, maupun materi iklan lainnya.
Beberapa kelebihannya antara lain:
- Mudah dipahami pelanggan.
- Fleksibel untuk berbagai jenis produk.
- Cocok untuk kampanye promosi dalam periode tertentu.
- Mudah digunakan untuk promo besar.
- Bisa menarik perhatian ketika persentase diskonnya cukup tinggi.
Jenis promo ini cukup umum digunakan oleh toko fashion, retail, skincare, kosmetik, dan bisnis lain yang memiliki variasi harga produk.
Kapan Diskon Persen Cocok Digunakan?
Diskon persen dapat digunakan ketika bisnis ingin menonjolkan besarnya potongan harga.
Contohnya:
“Diskon hingga 50% untuk produk pilihan!”
Promo seperti ini dapat diterapkan pada saat cuci gudang, akhir musim, flash sale, payday, atau kampanye khusus lainnya.
Namun, jangan hanya mengejar angka diskon yang terlihat besar. Pemilik usaha tetap perlu menghitung margin setiap produk. Diskon 30% pada satu produk belum tentu memberikan dampak yang sama dengan diskon 30% pada produk lainnya.
Apa Itu Diskon Nominal?
Diskon nominal memberikan potongan dalam jumlah rupiah tertentu, bukan dalam bentuk persentase.
Contohnya, sebuah produk dijual seharga Rp150.000 dan mendapatkan promo:
“Diskon Rp25.000!”
Pelanggan cukup membayar Rp125.000 setelah potongan.
Keuntungan dari diskon nominal adalah pelanggan bisa langsung mengetahui berapa uang yang mereka hemat. Tidak perlu menghitung persentase terlebih dahulu.
Kelebihan Diskon Nominal
Diskon nominal bisa menjadi pilihan menarik untuk bisnis yang ingin memberikan manfaat promo secara langsung.
Beberapa kelebihannya yaitu:
- Jumlah penghematan terlihat jelas.
- Mudah dipahami pelanggan.
- Cocok untuk produk dengan harga tertentu.
- Bisa digabungkan dengan minimum pembelian.
- Dapat digunakan untuk mendorong nilai transaksi.
- Cocok untuk program pelanggan baru maupun pelanggan loyal.
Salah satu contoh yang sering digunakan adalah:
“Belanja minimal Rp200.000, dapat diskon Rp30.000.”
Pelanggan yang awalnya hanya ingin membeli produk senilai Rp170.000 bisa saja menambahkan barang lain agar mencapai batas minimum pembelian.
Dengan cara tersebut, diskon bukan hanya menjadi alat untuk menarik perhatian, tetapi juga dapat membantu menaikkan nilai belanja dalam satu transaksi.
Kapan Diskon Nominal Lebih Sesuai?
Diskon nominal bisa digunakan ketika bisnis memiliki target nilai transaksi tertentu.
Misalnya, rata-rata pelanggan biasanya berbelanja sekitar Rp150.000. Bisnis kemudian memberikan voucher Rp25.000 dengan minimum pembelian Rp200.000.
Pelanggan yang memang membutuhkan tambahan produk bisa terdorong untuk memasukkan barang lain ke keranjang agar mendapatkan potongan.
Namun, strategi ini tetap perlu dihitung. Jangan sampai nilai diskon terlalu besar dibandingkan tambahan keuntungan yang diperoleh dari kenaikan transaksi.
Apa Itu Promo Bundling?
Bundling adalah strategi menjual dua atau lebih produk dalam satu paket dengan harga khusus.
Contohnya:
“Paket Hemat: Shampoo + Conditioner Rp100.000.”
Jika kedua produk tersebut dibeli secara terpisah, misalnya totalnya Rp120.000, pelanggan mendapatkan harga paket yang lebih hemat.
Bundling tidak hanya berbicara tentang potongan harga. Strategi ini juga memberikan kemudahan karena pelanggan mendapatkan beberapa produk yang sudah dipasangkan dalam satu paket.
Kelebihan Promo Bundling untuk Bisnis
Bundling dapat membantu bisnis meningkatkan jumlah barang yang terjual dalam satu transaksi.
Beberapa manfaatnya antara lain:
- Meningkatkan jumlah produk dalam satu transaksi.
- Membantu menggerakkan produk yang kurang diminati.
- Meningkatkan nilai transaksi.
- Memudahkan pelanggan memilih produk yang saling melengkapi.
- Membantu bisnis membuat paket penjualan yang lebih menarik.
Strategi ini dapat diterapkan pada bisnis makanan, minuman, fashion, skincare, kosmetik, hampers, toko oleh-oleh, hingga retail.
Contoh Bundling yang Mudah Diterapkan
Misalnya sebuah kedai kopi menjual kopi seharga Rp20.000 dan roti seharga Rp15.000.
Daripada hanya menjual kopi, pemilik usaha dapat membuat paket:
Kopi + Roti = Rp30.000
Pelanggan mendapatkan dua produk sekaligus, sedangkan bisnis memiliki peluang meningkatkan nilai transaksi.
Bundling juga cocok untuk produk yang memang saling melengkapi, seperti:
- Kamera + kartu memori.
- Baju + celana.
- Shampoo + conditioner.
- Kopi + pastry.
- Laptop + mouse.
- Facial wash + moisturizer.
Kuncinya adalah membuat kombinasi yang masuk akal. Jangan menggabungkan produk secara asal hanya karena ingin menghabiskan stok.
Perbedaan Diskon Persen, Nominal, dan Bundling
Ketiga strategi tersebut sama-sama dapat digunakan untuk meningkatkan penjualan, tetapi tujuan penggunaannya bisa berbeda.
Diskon persen lebih cocok ketika bisnis ingin menonjolkan besarnya potongan harga. Misalnya, “Diskon 30%” atau “Diskon hingga 50%”.
Diskon nominal lebih cocok ketika bisnis ingin menunjukkan jumlah uang yang langsung dihemat pelanggan atau mendorong mereka mencapai minimum pembelian.
Sementara itu, bundling lebih cocok ketika bisnis ingin meningkatkan jumlah produk yang dibeli dalam satu transaksi atau menggabungkan beberapa produk yang saling berkaitan.
Jadi, tidak ada satu jenis promo yang selalu cocok untuk semua bisnis. Pilihan promo perlu disesuaikan dengan tujuan dan kondisi usaha.
Cara Memilih Jenis Diskon yang Cocok
Sebelum membuat promo, jangan hanya bertanya, “Diskon berapa persen yang menarik?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apa yang ingin dicapai dari promo ini?”
Berikut beberapa hal yang bisa dipertimbangkan.
1. Tentukan Tujuan Promo
Setiap promo sebaiknya memiliki tujuan yang jelas.
Apakah ingin:
- Meningkatkan jumlah transaksi?
- Menaikkan nilai belanja pelanggan?
- Menghabiskan stok lama?
- Memperkenalkan produk baru?
- Menarik pelanggan baru?
- Meningkatkan penjualan produk tertentu?
- Mendorong pelanggan membeli lebih dari satu produk?
Jika tujuannya berbeda, bentuk promonya juga bisa berbeda.
Misalnya, jika ingin menghabiskan stok produk tertentu, diskon persen bisa digunakan. Jika ingin meningkatkan jumlah barang per transaksi, bundling mungkin lebih relevan.
2. Hitung Margin Keuntungan
Ini bagian yang tidak boleh dilewatkan.
Jangan menentukan diskon hanya karena angka tersebut terlihat menarik di mata pelanggan.
Misalnya, sebuah produk dijual Rp100.000, tetapi keuntungan yang diperoleh hanya Rp15.000. Memberikan potongan Rp20.000 tentu perlu dipertimbangkan dengan matang.
Sebelum menentukan promo, hitung harga pokok produk, biaya operasional, biaya promosi, dan margin keuntungan.
Dengan begitu, bisnis tidak hanya ramai transaksi, tetapi juga tetap memiliki ruang keuntungan.
3. Perhatikan Harga Produk
Harga produk dapat memengaruhi cara pelanggan melihat sebuah promo.
Pada produk dengan harga tinggi, diskon persen dapat menghasilkan nominal penghematan yang cukup besar.
Contohnya, diskon 20% untuk produk seharga Rp500.000 berarti pelanggan menghemat Rp100.000.
Sementara untuk produk dengan harga lebih rendah, diskon nominal terkadang lebih mudah dikomunikasikan.
Karena itu, lihat harga produk sebelum menentukan format promo.
4. Perhatikan Kondisi Stok
Stok yang terlalu lama tersimpan tentu membutuhkan perhatian.
Jika ada produk yang kurang bergerak, bisnis dapat mempertimbangkan bundling dengan produk yang lebih laris.
Misalnya, produk A selalu cepat terjual, sementara produk B masih banyak tersimpan. Keduanya bisa dijadikan satu paket dengan harga khusus.
Cara ini dapat membantu produk yang kurang diminati mendapatkan kesempatan untuk ikut terjual.
Tetap pastikan paket tersebut masuk akal bagi pelanggan dan tidak mengorbankan margin secara berlebihan.
5. Kenali Kebiasaan Pelanggan
Data transaksi sebelumnya bisa memberikan banyak petunjuk.
Perhatikan apakah pelanggan biasanya membeli satu produk, beberapa produk sekaligus, atau sering membeli produk tertentu.
Jika pelanggan cenderung membeli satu barang, bundling dapat dicoba untuk menawarkan produk tambahan.
Jika pelanggan cukup sensitif terhadap harga, diskon persen atau nominal dapat menjadi salah satu pilihan yang dapat diuji.
Jangan membuat promo hanya berdasarkan perkiraan. Semakin banyak data transaksi yang dimiliki, semakin mudah bisnis memahami pola pembelian pelanggan.
Jangan Hanya Melihat Jumlah Produk yang Terjual
Promo yang berhasil bukan selalu promo yang menghasilkan jumlah penjualan paling tinggi.
Misalnya, sebuah toko memberikan diskon 30% dan jumlah transaksi meningkat tajam. Sekilas, promo tersebut terlihat berhasil.
Namun, bagaimana dengan keuntungan?
Jika potongan harga terlalu besar, keuntungan yang tersisa mungkin jauh lebih kecil. Karena itu, evaluasi promo sebaiknya tidak hanya melihat jumlah barang terjual.
Perhatikan juga:
- Omzet.
- Margin keuntungan.
- Laba.
- Nilai transaksi rata-rata.
- Jumlah transaksi.
- Produk yang paling banyak terjual.
- Biaya promo.
Dari sini, pemilik usaha dapat melihat gambaran yang lebih lengkap.
Catat Semua Transaksi Promo
Setiap transaksi selama periode promosi sebaiknya dicatat dengan rapi.
Pencatatan membantu bisnis membandingkan kondisi sebelum, selama, dan setelah promo.
Misalnya, setelah menjalankan bundling, ternyata pelanggan membeli lebih banyak produk dalam satu transaksi. Informasi tersebut dapat menjadi bahan untuk membuat paket serupa.
Sebaliknya, jika sebuah promo tidak memberikan hasil sesuai target, bisnis dapat mengevaluasi kembali harga, periode, produk, atau cara komunikasinya.
Data sederhana seperti ini sangat berguna untuk mengambil keputusan pada promo berikutnya.
Gunakan Aplikasi Kasir untuk Mengelola Promo
Semakin banyak transaksi yang dimiliki sebuah bisnis, semakin merepotkan jika semuanya dicatat secara manual.
Aplikasi kasir dapat membantu mencatat transaksi, penjualan, dan stok dengan lebih teratur. Data tersebut kemudian dapat digunakan untuk melihat produk yang paling banyak terjual maupun mengevaluasi hasil promosi.
Salah satu pilihan yang dapat digunakan UMKM adalah Kasir Pintar, yang membantu pencatatan transaksi sekaligus pengelolaan data penjualan dan stok.
Dengan sistem pencatatan yang lebih rapi, pemilik usaha dapat melihat apakah diskon persen, diskon nominal, atau bundling memberikan hasil yang sesuai dengan target.
Bisakah Diskon Persen, Nominal, dan Bundling Digabung?
Bisa saja, selama perhitungannya tetap aman bagi bisnis.
Misalnya, sebuah toko membuat paket bundling dengan harga khusus, kemudian memberikan tambahan voucher nominal untuk pelanggan yang mencapai minimum pembelian tertentu.
Namun, jangan terlalu banyak memberikan potongan sekaligus. Promo yang terlalu agresif bisa membuat pelanggan terbiasa menunggu diskon dan akhirnya enggan membeli pada harga normal.
Lebih baik setiap promo memiliki alasan dan periode yang jelas.
Bisnis juga bisa menguji beberapa jenis promo pada waktu yang berbeda. Hasilnya kemudian dibandingkan berdasarkan data transaksi.
Jadi, Diskon Mana yang Cocok untuk Bisnis?
Pemilihannya kembali pada tujuan bisnis.
Jika ingin menonjolkan besarnya potongan harga, diskon persen bisa dipertimbangkan.
Jika ingin menunjukkan penghematan dalam jumlah rupiah atau mendorong pelanggan mencapai minimum transaksi, diskon nominal dapat digunakan.
Sementara jika ingin meningkatkan jumlah produk dalam satu transaksi, menggabungkan produk yang saling melengkapi, atau membantu menggerakkan stok tertentu, bundling dapat menjadi pilihan.
Tidak perlu terpaku pada satu jenis promo. Bisnis dapat mencoba beberapa pendekatan dan melihat hasilnya melalui data transaksi.
Yang penting, jangan sampai promo hanya terlihat ramai di luar tetapi ternyata kurang sehat dari sisi keuntungan.
Kesimpulan
Diskon bukan sekadar cara menjual produk dengan harga lebih murah. Jika dirancang dengan baik, promo dapat membantu bisnis meningkatkan transaksi, menaikkan nilai belanja, memperkenalkan produk, sekaligus menggerakkan stok.
Diskon persen, diskon nominal, dan bundling memiliki fungsi yang berbeda. Diskon persen dapat digunakan untuk menonjolkan besarnya potongan, diskon nominal memberikan penghematan yang mudah dipahami, sedangkan bundling dapat membantu pelanggan membeli beberapa produk sekaligus.
Sebelum menentukan promo, lihat terlebih dahulu tujuan bisnis, harga produk, margin keuntungan, kondisi stok, dan kebiasaan pelanggan.
Jangan lupa mencatat hasil setiap promo. Sebab, bisnis yang memiliki data transaksi yang rapi akan lebih mudah mengetahui strategi mana yang perlu dilanjutkan, diperbaiki, atau dihentikan.
Pada akhirnya, promo yang baik bukan hanya promo yang membuat pelanggan merasa hemat. Promo yang baik juga harus membuat bisnis tetap sehat dan mampu tumbuh secara berkelanjutan.