Berita Terkini

Penguatan Rantai Dingin Dongkrak Pendapatan Nelayan Nasional

Jakarta – Laut Indonesia menyimpan kekayaan ikan melimpah. Namun, potensi besar tersebut belum otomatis mengangkat taraf kesejahteraan nelayan pesisir. Rata-rata pendapatan nelayan saat ini masih berkisar Rp2,5 juta per bulan, jauh di bawah standar layak keluarga.

Anggota Komisi IV DPR RI, Prof. Rokhmin Dahuri, menilai angka tersebut mengindikasikan kekeliruan tata kelola perikanan nasional.

“Harusnya minimum pasungan pendapatan nelayan itu minimal Rp4,4 juta. Ini masih Rp2,5 juta. Jadi masih ada sesuatu yang salah dengan cara kita memanajemen perikanan,” kata Rokhmin dalam Seminar bertajuk “Penguatan Rantai Dingin untuk Mendukung Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP), Kesejahteraan Nelayan, dan Ketahanan Pangan Indonesia” di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2, Jakarta, Kamis, 10 September 2026.

Solusi Rantai Dingin Atasi Susut Mutu Ikan

Masalah utama nelayan bukan sekadar kapasitas produksi tangkapan. Selain itu, keterbatasan fasilitas pendingin memicu penurunan mutu hingga menyebabkan komoditas terbuang sia-sia sebelum tiba di pasar.

“Ikan itu komoditas yang highly perishable, sangat mudah busuk. Lalu aplikasi rantai dingin kita itu sedikit sekali,” kata Rokhmin, yang pernah menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan pada era Presiden Abdurrahman Wahid ini.

Data menunjukkan bahwa dari 15 juta ton produksi perikanan, kurang dari 12 persen yang terkelola sistem pendingin. Akibatnya, susut hasil tangkapan atau fish loss mencapai angka 20 hingga 25 persen.

“Mutu ikan dari laut sampai ke darat itu sudah terjun bebas. Jadi harga jualnya biasanya rendah. Sudah begitu ada fish loss, sekitar 20 sampai 25 persen hasil tangkapan ikan di Indonesia itu terbuang begitu saja,” ujarnya.

Oleh karena itu, Indonesia dinilai membutuhkan fasilitas pendingin yang fleksibel dan ramah lingkungan.

“Kita perlu rantai dingin, tetapi harus kita pilih sistem dan teknologi yang low carbon, atau kalau bisa zero carbon, no emission at all,” tegasnya.

“Indonesia ini the largest archipelago on earth. Harusnya sistem cold storage yang permanen kurang relevan. Bagus yang mobile,” ujarnya.

Pilihan Teknologi Penyimpanan Portabel Hemat Energi

Advisor TITAN Indonesia dari PT DS Solutions International, Kelvin Lim, turut menyoroti kebiasaan pelaku usaha perikanan. Sebaliknya, penggunaan kontainer pendingin standar dinilai kurang efisien untuk operasional harian.

“Banyak pelaku usaha yang berkembang, ketika butuh solusi penyimpanan dingin, refleksnya langsung membeli reefer container karena paling mudah ditemukan di pasaran. Tapi ini keliru sejak awal,” katanya.

Solusi alternatif hadir melalui perangkat pendingin portabel bertenaga surya guna memangkas konsumsi listrik bulanan secara signifikan.

“Kami tidak sedang menjual kontainer pendingin. Kami menjual efisiensi biaya operasional yang terukur, bukan janji,” ujar Kelvin.

Ekosistem Terintegrasi Kampung Nelayan Merah Putih

Kementerian Kelautan dan Perikanan menyelaraskan teknologi tersebut melalui skema Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP). Selanjutnya, program ini dirancang membangun ekosistem pascapanen terpadu di kawasan pesisir.

Ketua Satgas Pembangunan KNMP 2026 Dr. Ir. Ridwan Mulyana menegaskan bahwa nilai tambah ekonomi harus berpusat langsung pada masyarakat pesisir.

“Pembangunan sektor kelautan dan perikanan harus memastikan hasil tangkapan nelayan diperhatikan mutunya. Hasil tangkapan harus dipastikan mutunya, didistribusikan secara efisien dan dipasarkan dengan nilai ekonomi yang tinggi,” kata Ridwan.

Pada akhirnya, integrasi rantai pasok menjadi kunci utama keberlanjutan sektor perikanan nasional.

“Melalui integrasi tersebut, kita ingin memastikan tiga hal utama, yaitu kuantitas produk terjamin, kualitasnya tetap terjaga, dan waktu pengiriman juga dapat dipenuhi secara tepat waktu,” ujar Ridwan.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button