Koperasi Harus Jadi Wadah Strategis Pengembangan Ekonomi Anggota

Toraja Utara – Menteri Koperasi Ferry Juliantono mengingatkan bahwa keberadaan koperasi tidak boleh berhenti hanya sebagai tempat masyarakat meminjam uang semata. Namun, lembaga ini harus menjadi wadah strategis untuk membangun kekuatan ekonomi anggotanya melalui peningkatan kapasitas usaha, produktivitas, dan akses pasar.
Hal tersebut disampaikan Ferry saat meninjau langsung Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Balo’ta di Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan, pada Minggu. Selanjutnya, ia menekankan bahwa koperasi idealnya memberikan manfaat menyeluruh bagi para anggotanya.
“Kita tidak boleh puas hanya membuat petani mendapatkan pinjaman. Kita harus membuat petani semakin produktif, semakin sejahtera, dan semakin memiliki posisi tawar di pasar,” tegas Ferry dalam keterangan resminya.
Praktik Baik KSP Balo’ta Catat Aset Rp1,9 Triliun
Selain itu, Ferry mencontohkan KSP Balo’ta sebagai praktik baik yang perlu ditiru oleh koperasi lain di Indonesia. Koperasi ini tidak hanya menyalurkan dana, tetapi juga aktif membina anggotanya melalui pengembangan perkebunan percontohan kopi.
Ketua KSP Balo’ta, Dedi Bongga, mengungkapkan bahwa fokus pada pembinaan anggota membuahkan hasil yang sangat nyata. Per Juli 2026, aset koperasi ini telah menembus angka Rp1,9 triliun, atau melonjak drastis sebesar 609 persen dibandingkan tahun 2014.
Saat ini, KSP Balo’ta melayani sekitar 15.000 anggota secara aktif. Keberhasilan ini juga tidak lepas dari dukungan pembiayaan modal kerja dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi yang telah cair sekitar 10 kali dalam satu dekade terakhir.
Percepatan Pembangunan Koperasi Merah Putih di Toraja Utara
Di sisi lain, Bupati Toraja Utara, Frederik Viktor Palimbong, melaporkan bahwa daerahnya kini memiliki sekitar 49 koperasi aktif pascapemekaran. Pemerintah daerah terus mengawal berbagai program penguatan ekonomi kerakyatan di wilayah tersebut.
Terkait program nasional, pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di wilayah Toraja Utara juga terus dikebut. Dari total target 151 unit, sebanyak 19 unit telah rampung 100 persen, sementara empat unit lainnya sedang dalam tahap konstruksi.
Langkah ini sejalan dengan visi pemerintah pusat untuk memastikan koperasi benar-benar menjadi penggerak utama ekonomi kerakyatan. Pada akhirnya, koperasi diharapkan tidak lagi berjalan sekadar sebagai lembaga simpan pinjam biasa.
