Berita Terkini

BPJS Ketenagakerjaan Dorong Kemandirian Ekonomi Penerima Manfaat di Jayapura

Jayapura – BPJS Ketenagakerjaan terus memperluas jangkauan perlindungan jaminan sosial bagi seluruh pekerja formal maupun informal di Papua. Namun, perlindungan tersebut kini diperkuat dengan program pemberdayaan ekonomi agar dana santunan memberikan dampak jangka panjang.

Hal ini disampaikan oleh Joko Sutarto saat ditemui media di Kota Jayapura, Jumat (4/9/2026). Selain itu, momentum peringatan Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2026 menjadi ajang penegasan komitmen pelayanan BPJS Ketenagakerjaan.

“Kami berharap, para pekerja dapat bekerja dengan tenang. Jika sewaktu-waktu terjadi kecelakaan kerja, maka keluarga tidak bingung lagi, untuk biaya perawat. Karena akan ditanggung oleh BPJS Ketenagakerjaan sampai sembuh dan gratis tidak memungut biaya apapun,” katanya.

Inovasi Program PeKa untuk Kemandirian Usaha Keluarga

Melalui konsep Value Beyond Protection dan prinsip 3M (Melayani, Melindungi, Memberdayakan), BPJS Ketenagakerjaan Cabang Papua Jayapura resmi meluncurkan program Pemberdayaan Keluarga (PeKa). Oleh karena itu, dana santunan kematian yang diterima ahli waris diarahkan agar tidak habis untuk kebutuhan konsumtif belaka.

Penerima manfaat dibimbing secara intensif untuk mengelola dana jaminan sosial menjadi modal usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mandiri. Selanjutnya, skema ini dirancang untuk menciptakan bantalan ekonomi keluarga yang berkelanjutan.

“Kami ingin memastikan santunan yang diterima memiliki kemanfaatan ekonomi jangka panjang. Dana tersebut hendaknya tidak dihabiskan untuk kebutuhan konsumtif jangka pendek, melainkan menjadi bantalan ekonomi keluarga,” ujar Bambang didampingi Kepala Cabang BPJS Ketenagakerjaan Papua Jayapura, Sirta Mustakiem.

Sinergi Lintas Sektor dan Bukti Sukses Ahli Waris

Pelaksanaan program PeKa melibatkan sinergi strategis bersama Bank Indonesia, OJK, serta sektor perbankan. Pada akhirnya, sebanyak 15 ahli waris di wilayah Jayapura telah mendapatkan pendampingan dan sukses menjalankan usaha mandiri.

Salah satu kisah sukses datang dari Ablend, ahli waris dari almarhum Adolof Rumkorem. Di sisi lain, ia mengalokasikan santunan untuk membangun rumah kontrakan, usaha es, hingga produksi olahan keladi lokal.

“Setiap hari saya mampu memproduksi hingga 500 bungkus kue keladi yang dititipkan ke berbagai kios dengan harga lima ribu rupiah per bungkus,” kata Ablend.

Hasil dari pengelolaan usaha produktif ini bahkan mampu membiayai pendidikan putranya. Sebab itu, program ini terbukti memberikan dampak nyata hingga ke jenjang pendidikan tinggi.

“Saat ini anak saya ada yang kuliah S2 di Universitas Gajah Mada (UGM),” ujar Ablend.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button