Berita Terkini

Barantin Bidik Posisi Leader Pasar Ikan Hias Dunia

Serpong – Pasar internasional tidak lagi sekadar mencari komoditas yang murah, melainkan menuntut jaminan keamanan hayati dan ketertelusuran yang ketat. Di tengah pergeseran paradigma global ini, Badan Karantina Indonesia (Barantin) langsung tancap gas merombak total sistem pengawasan demi mengamankan posisi Indonesia sebagai pemain utama perdagangan bebas dunia, khususnya pada sektor ikan hias.

Dalam pembukaan pameran Nusatic, Nusapet, dan Nusahorti 2026 di Serpong, Jumat (12/2026), Kepala Barantin Abdul Kadir Karding menegaskan bahwa penerapan biosekuriti kini telah bergeser dari kewajiban regulasi menjadi instrumen utama pembentuk kepercayaan pasar. Langkah ini krusial mengingat kekayaan varietas hayati Indonesia yang melimpah kerap kali terganjal restriksi non-tarif di pintu masuk negara tujuan akibat isu higienitas dan legalitas asal-usul komoditas.

Menjawab tantangan tersebut, Barantin melakukan transformasi radikal pada aspek operasional. Pendekatan inspeksi manual yang usang kini digantikan dengan sistem berbasis risiko (risk-based approach). Birokrasi dokumen berbasis kertas juga dipangkas dan diintegrasikan ke dalam ekosistem digital (digital traceability), sementara model pengawasan pasif post-border digeser secara agresif menjadi tindakan preventif pre-border.

Akselerasi ini terbukti membuahkan hasil di lapangan. Melalui penguatan sistem Cara Karantina Ikan yang Baik (CKIB), Barantin berhasil meloloskan 128 Instalasi Karantina Ikan Hias domestik hingga diakui oleh otoritas kepabeanan ketat sekelas General Administration of Customs China (GACC). Peran Barantin kini tidak hanya menjadi “penjaga gerbang” yang kaku, melainkan berfungsi sebagai fasilitator perdagangan yang mendampingi pelaku usaha guna mempercepat proses clearance sekaligus menekan biaya logistik secara signifikan.

“Pasar melihat yang pertama adalah kualitas, kedua biosekuriti, ketiga ketertelusuran, keempat ini yang penting adalah kepercayaan. Menurut saya Indonesia ini sudah memiliki kepercayaan jadi bukan hanya potensi viarietas yang banyak tapi juga Indonesia telah melakukan perbaikan di berbagai bidang sehingga dipercaya pasar Internasional di bidang ikan hias,” ujar Karding. Dikutip dari karantinaindonesia.go.id

Beliau juga menambahkan bahwa jika tata kelola ini sudah konsisten, seluruh ekosistem harus fokus mendorong agar Indonesia bisa menjadi leader dalam perdagangan ikan hias.

Guna memastikan kebijakan ini berjalan kedap celah, Barantin memperkuat koordinasi lintas sektoral dengan menggandeng Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Pertanian, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), legislatif, serta para pelaku usaha dan eksportir di hulu.

Digitalisasi karantina dan sertifikasi CKIB bukan sekadar dokumen formalitas di atas kertas, melainkan tiket emas bagi komoditas lokal untuk meraih premium harga yang lebih tinggi di pasar dunia. Tantangan sesungguhnya kini berada pada konsistensi pelaku usaha skala kecil untuk mengadopsi standar biosekuriti digital ini agar gelombang perdagangan bebas tidak balik menggulung potensi ekonomi domestik kita.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button