Adopsi AI Berpotensi Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi Nasional 1 Persen

Jakarta – Di tengah awan mendung perlambatan ekonomi global, teknologi kecerdasan buatan (AI) justru memicu secercah harapan baru. Pemerintah memproyeksikan transformasi digital ini mampu menyuntikkan tambahan PDB nasional secara signifikan.
Strategi Fondasi di Tengah Gejolak Global
Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kemenko Perekonomian, Ferry Irawan, menilai digitalisasi sebagai instrumen penyelamat. Langkah taktis ini diambil demi menjaga resiliensi pasar domestik dari tekanan eksternal.
“Kalau ini bisa kita dorong terus, tambahan pertumbuhan ekonominya antara 0,8 persen sampai 1 persen,” ujar Ferry, dikutip Sabtu (18/7/2026).
Selanjutnya, lonjakan pertumbuhan tersebut akan ditopang oleh ekosistem pusat data (data center) yang kian ekspansif. Selain itu, optimalisasi infrastruktur digital diproyeksikan bakal memantik investasi baru serta menaikkan produktivitas sektoral.
Kolaborasi Global dan Penguatan UMKM
Pemerintah tidak hanya berfokus pada korporasi besar. Sebaliknya, akselerasi transformasi digital menyasar modernisasi lini usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar berdaya saing tinggi.
Oleh karena itu, kemitraan strategis dengan berbagai lembaga multilateral mulai dari OECD, BRICS, hingga ASEAN terus diperluas. Hubungan internasional ini dinilai krusial untuk menyerap standardisasi tata kelola terbaik dunia.
“Tata kelola yang kuat menjadi kunci untuk menarik lebih banyak investasi serta menjadikan transformasi digital dan ekonomi hijau sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru,” katanya.
Proyeksi Positif Lembaga Finansial Internasional
Ketangguhan fundamental Indonesia terbukti memikat kepercayaan global. Meskipun outlook kawasan Asia dipangkas menjadi 5 persen, IMF secara konsisten tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada angka 5 persen.
Senada dengan hal itu, Asian Development Bank (ADB) bahkan memasang angka lebih optimis sebesar 5,2 persen. Kontras dengan proyeksi pertumbuhan Asia Tenggara secara umum yang justru dikoreksi turun menjadi 4,6 persen.
Pada akhirnya, kesuksesan pemanfaatan AI akan diuji oleh komitmen eksekusi kebijakan regulasi di lapangan. Mampukah Indonesia mengubah prediksi positif di atas kertas ini menjadi lompatan ekonomi digital yang inklusif?



