Berita Terkini

Mendag Dorong Pelaku Usaha Lakukan Diversifikasi Impor Bahan Baku

Jakarta – Ketergantungan industri manufaktur pada pasokan dari segelintir mitra dagang dapat memicu kerentanan rantai pasok. Oleh karena itu, Menteri Perdagangan Budi Santoso mendorong para pelaku usaha nasional untuk mendiversifikasi negara asal impor bahan baku serta barang modal.

Langkah perluasan mitra tersebut dinilai sangat mendesak demi memangkas risiko hegemoni mitra dagang tertentu. Menurut Mendag, ketergantungan yang terlampau pekat terhadap satu negara pemasok berpotensi melemahkan posisi tawar industri domestik di kancah global.

“Yang perlu dipikirkan adalah ketika 91 persen impor barang modal dan bahan baku itu semuanya impor, berarti kita harus memperluas supplier-nya. Jangan sampai kita tergantung pada satu dua supplier, karena ketika kita tergantung pada satu dua supplier berarti daya tawar dia semakin kuat. Itu tentu berbahaya buat kita,” ujar Budi Santoso di Jakarta, Jumat.

Fondasi Industri Manufaktur Menopang Ekspor

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, struktur ekspor nasional saat ini didominasi sektor industri pengolahan sebesar 82 persen. Selebihnya, kontribusi ekspor berasal dari sektor pertambangan, minyak dan gas bumi, serta pertanian.

Kinerja sektor manufaktur juga terus mencatatkan pertumbuhan positif. Selain itu, komposisi arus barang masuk ke tanah air memperlihatkan bahwa mayoritas pergerakan impor ditujukan untuk menopang proses manufaktur barang bernilai tambah.

“Kalau kita lihat di sektor industri pengolahan pun juga tumbuh 7,87 persen. Jadi kita cukup berkembang. Ini sejalan juga dengan struktur impor kita. Impor kita itu 91 persen itu bahan baku penolong dan barang modal, sedangkan 8,7 persen adalah barang konsumsi,” katanya.

Pemerintah menargetkan pasar domestik dapat menjadi ruang bertumbuh bagi produk lokal. Selanjutnya, pasar global diarahkan menjadi arena ekspansi untuk mendongkrak kapasitas ekspor nasional secara berkelanjutan.

Dinamika Kinerja Impor Nasional 2026

Peningkatan arus masuk barang modal mengindikasikan penguatan aktivitas produksi di berbagai pabrik dalam negeri. Pada Mei 2026, impor barang modal tercatat melonjak 21,12 persen secara bulanan setelah tumbuh 6,33 persen pada April 2026.

Secara keseluruhan, nilai impor Indonesia pada Mei 2026 mencapai 24,81 miliar dolar AS. Kendati turun 1,59 persen dibandingkan bulan sebelumnya, angka tersebut naik 22,16 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Penurunan bulanan tersebut dipicu oleh penurunan impor barang konsumsi sebesar 8,42 persen. Selain itu, arus masuk bahan baku penolong juga mengalami penyusutan sebesar 5,72 persen.

Secara kumulatif sepanjang Januari hingga Mei 2026, nilai impor nasional menembus 111,33 miliar dolar AS atau naik 15,24 persen. Kenaikan tersebut ditopang oleh pertumbuhan impor migas sebesar 27,89 persen serta sektor nonmigas sebesar 13,16 persen.

Peta Komoditas dan Asal Negara Pemasok

Berdasarkan golongan penggunaan barang, seluruh komponen impor membukukan pertumbuhan tahunan yang solid. Impor barang modal memimpin dengan kenaikan 17,53 persen, disusul barang konsumsi 17,05 persen, serta bahan baku penolong 14,41 persen.

Kenaikan impor nonmigas tertinggi terjadi pada armada kendaraan udara beserta komponennya yang melonjak 808,56 persen. Peningkatan berikutnya disusul oleh komoditas semen dan batuan, bijih logam, bahan bakar mineral, serta aneka produk kimia.

Namun, pasokan nonmigas Indonesia saat ini masih bertumpu pada pasar tradisional seperti Tiongkok, Jepang, dan Australia dengan pangsa gabungan 52,68 persen. Sebaliknya, lonjakan pasokan tertinggi mulai bergerak dinamis dari negara nontradisional seperti Meksiko, Perancis, hingga Spanyol.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button