Berita Terkini

Warung Pangan Solusi Akses Stok Pasar Tradisional

Jakarta – Di balik riuk pikuk pasar rakyat yang tersebar di 514 kabupaten dan kota seluruh Indonesia, tersimpan nestapa tersembunyi yang membuat pedagang kecil selalu kalah langkah dibanding ritel modern. Ketika ritel besar dengan mudah mengamankan harga grosir langsung dari industri, jutaan pedagang pasar tradisional justru tersangkut dalam rantai distribusi berbelit yang mencekik margin profit.

Akses Logistik Adil untuk Pasar Rakyat

Persoalan distribusi pangan hingga kini masih menjadi tantangan utama yang memicu lonjakan harga di tingkat konsumen. Panjangnya mata rantai perdagangan kerap kali membuat harga bahan pokok melonjak tajam sebelum akhirnya sampai di tangan masyarakat.

Pemerintah bersama BUMN pangan mulai mengintervensi ketimpangan ini dengan memperkuat jaringan Warung Pangan. Langkah strategis tersebut dihadirkan untuk memangkas rantai pasok sekaligus menjaga keterjangkauan harga secara berkelanjutan.

Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan (Wamenko Pangan) Hanif Faisol Nurofiq menegaskan ketimpangan akses logistik antara pasar tradisional dan modern harus segera diakhiri.

“Kita memiliki pasar tradisional yang cukup banyak, menyebar di 514 kabupaten/kota. Sementara yang kemudian mendapat akses ke grosir dan industri itu biasanya pasar-pasar modern. Pasar-pasar tradisional ini setengah mati untuk mendapat akses stok barang yang akan dipasarkan,” kata Hanif dalam konferensi pers di Pasar Tebet Timur, Jakarta Selatan, Senin (20/7/2026). Dikutip dari bisnis.com

“Mudah-mudahan Warung Pangan ini terus bisa diperlebar, terutama menjangkau pada pasar-pasar tradisional. Kita tidak membeda-bedakan perlakuan dengan pasar modern. Tapi biasanya pasar modern ini lebih terstruktur dari logistiknya. Pasar tradisional ini saya merasakan sendiri karena saya juga orang desa, susahnya kita mencari stok untuk kita jual,” tutur Hanif.

Digitalisasi Rantai Pasok ID Food

Guna menjawab hambatan stok dan lambatnya distribusi, PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau ID Food menghadirkan ekosistem digital Warung Pangan. Melalui aplikasi ini, para pedagang pasar tradisional dapat memesan pasokan kebutuhan pokok secara langsung secara real time.

Selain itu, ID Food juga memperkuat infrastruktur fisik dengan membangun Stock Point sebagai pusat distribusi lintas pasar. Fasilitas khusus ini telah beroperasi di wilayah strategis Jabodetabek seperti Bekasi, Bogor, Tangerang, dan Cikarang demi mempercepat arus barang.

Target ekspansi agresif pun dipasang untuk merangkul puluhan ribu pedagang kaki lima hingga pemilik lapak pasar dalam ekosistem resmi ini.

Direktur Komersial ID Food Dwi Sutoro mengungkapkan potensi pertumbuhan jaringan mitra yang saat ini telah menampung 8.000 pedagang.

“Kami berharap bahwa akhir 2026 ini, dengan kampanye dan support yang masif dari kementerian, bisa mempunyai mitra sekitar 25.000–27.000 di akhir tahun ini,” kata Dwi.

“Bisnis ini adalah bagian dari strategi kami untuk mengembangkan coverage bisnis. Seperti namanya, ID Food sekarang akan banyak masuk ke dalam consumer pack, atau istilahnya barang-barang konsumen yang dipakai oleh konsumen,” ucapnya.

Menguji Konsistensi Intervensi Pangan Nasional

Inisiatif digitalisasi dan pemangkasan rantai pasok ini menyimpan harapan besar untuk menciptakan stabilitas harga pangan nasional. Jika ekosistem Warung Pangan berjalan optimal, pemerintah tidak perlu lagi mengandalkan operasi pasar darurat setiap kali gejolak harga melanda.

Namun, keberhasilan program ini di lapangan akan sangat bergantung pada efisiensi logistik Stock Point dan kemudahan birokrasi, termasuk kepemilikan NIB bagi para pedagang kecil.

Pada akhirnya, kesiapan pemerintah dan BUMN dalam menjaga kelancaran stok beras, minyak goreng, hingga gula akan menjadi pembuktian nyata. Mampukah Warung Pangan benar-benar membebaskan pasar tradisional dari jeratan mafia rantai pasok dan menjadikan harga pangan tetap adil bagi seluruh rakyat?

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button