Berita Terkini

Unhas Kembangkan Platform Sea-to-Table Pacu Ekosistem Kuliner Barrang Caddi

Makassar – Bagaimana jika teknologi digital mutakhir dipaksakan masuk ke wilayah pulau terpencil yang masih minim sinyal internet? Paradoks inilah yang kini sedang dihadapi oleh sekelompok perempuan nelayan di Makassar saat mencoba mengubah nasib lewat aplikasi pintar.

Digitalisasi Kuliner Laut Kepulauan

Tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Hasanuddin (Unhas) berinisiatif mengembangkan platform digital bertajuk Sea-to-Table. Langkah taktis ini dirancang untuk mendongkrak kapasitas bisnis kuliner berbasis hasil laut di Pulau Barrang Caddi, Kecamatan Kepulauan Sangkarrang, Kota Makassar.

Program pemberdayaan yang didanai oleh Program BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun Anggaran 2026 tersebut menyasar Kelompok Mentari yang beranggotakan 10 ibu rumah tangga. Selama ini mereka mengolah hasil tangkapan laut demi menambah pendapatan domestik, namun pergerakan bisnis mereka kerap terganjal oleh rantai pemasaran konvensional dan keterbatasan literasi digital.

Oleh karena itu, kehadiran aplikasi Sea-to-Table diproyeksikan mampu memotong jalur distribusi panjang yang merugikan para produsen di pulau-pulau kecil.

Hambatan Pasar dan Intervensi Teknologi

Ketua Tim Pengabdian Unhas, Prof. Seniwati, menegaskan bahwa wilayah pesisir sebenarnya menyimpan potensi ekonomi melimpah melalui produk olahan laut yang kompetitif. Namun, isolasi geografis membuat produk berkualitas tinggi buatan ibu-ibu nelayan tersebut sulit menjangkau konsumen di daratan utama secara optimal.

“Kami melihat persoalan utama bukan pada kualitas produknya, tetapi pada keterbatasan akses pasar. Karena itu, Sea-to-Table kami rancang sebagai upaya pemberdayaan yang membantu masyarakat memanfaatkan teknologi untuk memperluas pemasaran sekaligus meningkatkan nilai ekonomi produk lokal,” katanya. Dikutip dari idntimes.

Selanjutnya, agenda penyerahan platform digital dan pendampingan lapangan telah sukses digelar pada Sabtu (6/6/2026). Dalam aksi sosial ini, Prof. Seniwati memimpin jajaran akademisi andal yang beranggotakan Prof. Rahmatia, Munif Arif Ranti, Andi Annisar, serta melibatkan sejumlah mahasiswa Unhas.

Penguatan Kapasitas Perempuan Nelayan

Selain menyediakan sistem perangkat lunak, tim akademisi Unhas juga membekali Kelompok Mentari dengan paket pelatihan manajemen usaha yang komprehensif. Kurikulum pengajaran mencakup strategi penentuan harga, teknik penguatan merek (branding), standardisasi kemasan modern, hingga pemanfaatan taktis marketplace.

Selain itu, bantuan fisik berupa fasilitas mesin pembeku (freezer), wajan produksi skala besar, serta timbangan digital diserahkan langsung untuk memodernisasi hulu produksi. Intervensi alat ini diharapkan dapat menjaga tingkat kesegaran bahan baku dan memperbesar kuota produksi harian secara signifikan.

“Yang ingin kami bangun adalah kemandirian masyarakat. Ketika perempuan memiliki keterampilan mengelola usaha, memahami kebutuhan pasar, dan mampu memanfaatkan teknologi sebagai alat untuk berkembang, maka manfaat program akan terus dirasakan meskipun kegiatan pengabdian telah selesai,” jelasnya.

Evaluasi dan Tantangan Konektivitas

Pada akhirnya, hasil pemantauan internal menunjukkan adanya lompatan keterampilan yang positif pada aspek pengemasan produk dan promosi digital di media sosial. Sinergi ini terbukti berhasil memicu iklim wirausaha baru yang memperkokoh struktur keuangan keluarga nelayan secara mandiri.

Sebaliknya, realitas di lapangan masih menyisakan catatan kritis berupa infrastruktur jaringan internet kepulauan yang sangat tidak stabil. Hambatan teknis ini membutuhkan solusi kolaboratif lintas instansi agar transformasi niaga digital yang diinisiasi oleh Unhas tidak terhenti di tengah jalan.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button