Tata Kelola Zakat Indonesia Jadi Teladan Ekosistem Global
Jakarta – Pengelolaan filantropi Islam nasional kian memperkuat pengaruhnya di ranah internasional. Sekretaris Jenderal World Zakat and Waqf Forum (WZWF), Datuk Mohd Ghazali Md Noor, menilai tata kelola zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Indonesia memegang peranan sangat strategis. Sektor ini menjadi motor penggerak ekosistem keuangan sosial Islam dunia.
Kiprah Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI serta Badan Wakaf Indonesia (BWI) dinilai membawa dampak nyata lintas batas negara. Pengakuan ini mempertegas kepemimpinan Indonesia dalam industri filantropi Islam global.
“Saya melihat bahwa arah Indonesia untuk menjadi negara yang memiliki peran penting dalam dunia Islam mendapatkan harapan besar berkat kapasitas intelektual serta sokongan Presiden dengan ada dua badan yang khusus yaitu Baznas dan juga Badan Wakaf Indonesia,” katanya dalam keterangan di Jakarta, Selasa(20/10/2026).
Menggerakkan Ekonomi Lewat Skema Zakat Produktif
Selain kepemimpinan institusi, kontribusi nyata terlihat dari penyaluran program pemberdayaan masyarakat di lapangan. Baznas secara konsisten mengonversi dana sosial menjadi modal usaha berkelanjutan.
“Di Indonesia, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) telah mengembangkan berbagai program zakat produktif yang mencakup kewirausahaan, pengembangan pertanian, dukungan bagi usaha mikro, serta pemberdayaan ekonomi berbasis masyarakat,”kata dia.
Oleh karena itu, penguatan standar operasional secara internasional terus didorong demi memperbesar jangkauan manfaat zakat. Ghazali menggarisbawahi urgensi penerapan Zakat Core Principles (ZCP) sebagai acuan tata kelola bersama.
“Pengenalan Zakat Core Principles (ZCP) atau Prinsip-Prinsip Inti Zakat, yang dikembangkan melalui inisiatif internasional dengan melibatkan Bank Indonesia, Baznas, dan Islamic Research and Training Institute dari Bank Pembangunan Islam (Islamic Development Bank), merupakan tonggak penting dalam menetapkan prinsip-prinsip bersama untuk penyelenggaraan operasional dan pengawasan zakat yang efektif,” ucap Ghazali.
Padukan Teknologi dan Kolaborasi Antarnegara
Namun demikian, Ghazali mengingatkan bahwa digitalisasi bukanlah satu-satunya jawaban atas transformasi sosial. Perubahan berkelanjutan hanya terjadi ketika teknologi berjalan beriringan dengan akuntabilitas kelembagaan serta niat tulus mengangkat martabat masyarakat miskin.
Di samping itu, kolaborasi lintas negara menjadi kebutuhan mendesak guna memitigasi bencana iklim serta kerentanan ekonomi global. Penanganan isu kemiskinan saat ini sudah melampaui batas-batas teritorial wilayah.
“Marilah kita memperkuat tata kelola, merangkul inovasi yang bertanggung jawab, serta memperluas kolaborasi antarlembaga dan antarnegara. Marilah kita membangun ekosistem zakat global yang berlandaskan prinsip-prinsip bersama, keunggulan profesional, dan rasa saling percaya,” kata Datuk Mohd Ghazali Md Noor.
Selanjutnya, Ketua Baznas RI Sodik Mudjahid menegaskan komitmen lembaganya dalam mengokohkan pilar ekonomi syariah nasional. Upaya tersebut diwujudkan lewat bantuan sertifikasi halal bagi usaha mikro serta edukasi ZIS secara masif.
“Baznas juga mendorong tentang industri halal. Beberapa pengusaha kecil kita dukung untuk mendapatkan legalitas industri halal. Baznas tentu mobilisasi zakat, infak, sedekah. Baznas juga memberikan literasi tentang zakat, infak, sedekah,” tutur Sodik Mudjahid.