Strategi Lepas dari Selat Hormuz demi Ketahanan Energi
Jakarta – Ketergantungan kronis Indonesia pada impor minyak mentah lewat Selat Hormuz kini resmi berakhir. Langkah berani diambil pemerintah demi mengamankan pasokan energi nasional melalui kontrak jangka panjang alternatif.
Diversifikasi Pasokan Minyak Mentah Nasional
Langkah taktis ini diambil guna meredam dampak buruk gejolak geopolitik di Timur Tengah. Oleh karena itu, Indonesia kini memiliki ruang manuver yang jauh lebih aman dan mandiri.
“Kalau persoalan impor crude, sekalipun Selat Hormuz-nya sudah dibuka, tetap kita sudah melakukan kontrak jangka panjang dengan negara-negara lain,” ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat ditemui di Kompleks DPR RI. Dikutip dari sindonews
Namun, kalkulasi ekonomi yang matang tetap menjadi kompas utama kebijakan fiskal pemerintah. Pemerintah akan selalu memilih opsi pasokan energi dengan harga paling kompetitif di pasar.
“Tapi kalau harganya lebih kompetitif, maka tidak menutup kemungkinan juga untuk kita mencoba membuka akses pasar di Middle East,” ujarnya.
Berpaling ke Rusia untuk Sektor Industri
Selain itu, penjajakan baru yang sangat masif sedang diarahkan menuju kawasan Eropa Timur. Indonesia tengah merancang kerja sama impor minyak mentah dari Rusia sebesar 150 juta barel.
Selanjutnya, alokasi pasokan tersebut didesain secara spesifik untuk menyasar kebutuhan domestik yang beragam. Sebagian besar pasokan tersebut dibidik untuk menggerakkan mesin-mesin industri strategis nasional.
Menariknya, kendali distribusi energi ini tidak lagi berpusat sepenuhnya pada PT Pertamina (Persero). Sebaliknya, Lemigas akan memegang peran vital untuk menyalurkan minyak langsung kepada pelaku bisnis.
Pada akhirnya, kesiapan pasokan bahan baku industri petrokimia hingga pupuk akan sangat menentukan daya saing ekonomi kita. Keberanian mendiversifikasi mitra dagang global ini menjadi fondasi penting ketahanan fiskal di masa depan.



