Siasat Bertahan Dunia Usaha di Tengah Perlambatan Global

Jakarta – Dunia usaha nasional kini memilih menginjak pedal rem ekspansi agresif demi menghadapi perlambatan ekonomi global. Fenomena perlambatan ini memaksa korporasi mengubah haluan strategis secara drastis untuk mengamankan posisi finansial mereka. Oleh karena itu, efisiensi ketat dan penguatan daya saing internal menjadi opsi realistis yang paling mendesak saat ini.
Bertahan Melalui Efisiensi Guna Menjaga Likuiditas
Langkah mitigasi yang diambil oleh kalangan industri mencerminkan sikap skeptis yang sehat terhadap situasi pasar eksternal. Sektor manufaktur kini lebih berfokus memperkuat fondasi domestik dibandingkan mengejar pertumbuhan pasar luar negeri yang tidak menentu. Hal ini dilakukan karena ketidakpastian geopolitik global terus menekan rantai pasok dan melemahkan permintaan ekspor.
Wakil Ketua Umum Bidang Perindustrian Kadin Indonesia, Saleh Husin, memaparkan dinamika strategi operasional yang tengah diadopsi para pelaku bisnis saat ini.
“Dunia usaha saat ini lebih mengutamakan efisiensi, menjaga likuiditas, dan diversifikasi pasar dibanding ekspansi agresif. Perusahaan juga mempercepat digitalisasi, memperkuat rantai pasok, serta meningkatkan produktivitas untuk menjaga daya saing,” kata Saleh. Dikutip dari bisnis.com
Meskipun demikian, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur nasional yang bertengger di level 50,0 membuktikan daya tahan industri kita. Angka ini menunjukkan bahwa sektor produksi masih berada di zona ekspansi walaupun pergerakannya cenderung melandai. Selanjutnya, pertumbuhan ekonomi domestik yang stabil diharapkan mampu menjadi bantalan utama yang meredam guncangan eksternal hingga akhir tahun.
“Pertumbuhan ekonomi domestik masih menjadi penopang utama, didukung konsumsi dan investasi, meskipun dunia usaha tetap mewaspadai ketidakpastian global. Kinerja ekonomi Indonesia yang masih tumbuh di atas 5% menjadi modal penting untuk menjaga optimisme pelaku usaha,” ujarnya.
Empat Indikator Utama Berusaha
Sebaliknya, ruang untuk kembali melakukan ekspansi investasi secara besar-besaran masih membutuhkan jaminan kestabilan makroekonomi yang konkret dari pemerintah. Pelaku usaha dipastikan akan bersikap sangat selektif dalam menanamkan modal baru di tengah tren suku bunga tinggi. Selain itu, kejelasan regulasi bisnis menjadi variabel krusial yang menentukan arah kebijakan investasi korporasi ke depan.
“Pelaku usaha akan mencermati empat indikator utama, yaitu PMI manufaktur, pertumbuhan konsumsi rumah tangga, realisasi investasi, dan stabilitas nilai tukar serta suku bunga. Keempat indikator tersebut akan menjadi sinyal apakah momentum pemulihan industri dapat berlanjut hingga akhir tahun atau masih tertahan oleh tekanan global,” tuturnya.
Di sisi lain, optimisme berseberangan justru disuarakan oleh pemerintah yang melihat adanya sinyal ekspansi positif di beberapa klaster industri strategis. Realisasi penanaman modal yang kuat dianggap menjadi bukti bahwa daya tarik pasar domestik tetap terjaga dengan baik. Indikator kuartal pertama memberikan gambaran optimis bahwa ruang pertumbuhan ekonomi baru masih terbuka lebar.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga momentum pertumbuhan melalui berbagai kawasan ekonomi khusus.
“Pertama dari segi investasi kita ketahui di kuartal I itu di atas daripada target investasi. Dan kami masih melihat berbagai sektor itu tetap melakukan ekspansi,” ucap Airlangga dalam konferensi Festival Kemudahan dan Pelindungan Usaha Mikro di Smesco Indonesia, Jakarta Selatan, Senin (29/6/2026).
Magnet Baru Pusat Data
Pemerintah memetakan beberapa wilayah industri penting seperti Batang, Kendal, dan Bintan yang mencatatkan tingkat okupansi kapasitas hampir penuh. Komoditas digital seperti infrastruktur pusat data (data center) kini mencuat sebagai primadona baru yang menyedot modal asing dalam jumlah besar. Sektor ini tumbuh sangat masif seiring dengan percepatan transformasi digital yang terjadi di seluruh kawasan Asia Tenggara.
“Dan juga saya melihat minat dari sektor data center misalnya, itu ada demand tambahan sebesar 1,32 GW atau 1,2 GW yang sedang siap untuk masuk ke Indonesia,” tutupnya.
Pada akhirnya, kesenjangan sudut pandang antara kehati-hatian pengusaha Kadin dan rasa optimisme pemerintah akan diuji oleh waktu. Keberhasilan melewati fase perlambatan ini sangat bergantung pada sinkronisasi kebijakan moneter dan insentif fiskal yang adaptif di lapangan. Tanpa adanya jaminan kepastian hukum yang kokoh, upaya memacu investasi baru berisiko jalan di tempat.



