Potensi Melimpah, Ekonomi Syariah Indonesia Belum Optimal
Jakarta – Indonesia memiliki modal sangat besar untuk memimpin pasar halal dunia. Namun, aset keuangan yang melimpah tersebut belum mampu dikonversi menjadi daya saing global yang tangguh. Realitas inilah yang menjadi sorotan utama dalam forum Catatan Tengah Tahun Ekonomi Syariah Indonesia 2026 di Universitas Paramadina.
Kepala CSED INDEF, Nur Hidayah, menegaskan hal tersebut secara langsung di hadapan para akademisi. Beliau memaparkan bahwa kesenjangan antara potensi dan realisasi riil saat ini masih sangat lebar.
“Potensi ekonomi syariah Indonesia itu besar, namun belum maksimal,” kata Nur Hidayah.
Urgensi Pergeseran ke Penciptaan Nilai
Selama ini, indikator kesuksesan hanya sering diukur dari pertumbuhan angka kasar semata. Oleh karena itu, Nur menilai pembangunan ekonomi syariah harus segera bergeser ke arah penciptaan nilai baru. Pendekatan ini dipercaya mampu membawa dampak positif yang jauh lebih riil bagi masyarakat bawah.
“Namun di sisi lain, berbagai indikator menunjukkan bahwa potensi tersebut belum sepenuhnya terkonversi menjadi daya saing global,” jelas Nur Hidayah. Dikutip dari kompas.com.
“Kebutuhan untuk menggeser orientasi pembangunan ekonomi syariah dari sekadar pertumbuhan menuju penciptaan nilai sangat penting,” kata dia.
“Keberhasilan ekonomi syariah harus diukur dari kontribusinya terhadap kesejahteraan masyarakat, keberlanjutan lingkungan, dan pembangunan sektoral, bukan hanya besarnya aset ataupun laba,” lanjutnya.
Tantangan Nyata dan Solusi Strategis
Selain itu, beberapa kendala struktural masih terus membayangi laju pertumbuhan industri halal nasional. Masalah utamanya meliputi koordinasi yang rendah antarpemangku kepentingan serta lemahnya hilirisasi industri.
Selanjutnya, pemanfaatan teknologi digital dan instrumen keuangan sosial Islam juga dinilai belum optimal. Berbagai kelemahan ini kemudian dirangkum menjadi rekomendasi taktis dalam buku terbaru keluaran CSED INDEF.
“Berbagai rekomendasi yang disusun dalam setiap bab berupaya menjawab tantangan tersebut melalui agenda jangka pendek, jangka menengah, dan strategi menuju Indonesia Emas 2045,” tegas dia.
Dominasi Sektor Halal di Atas Kertas
Padahal, data Kementerian Keuangan mencatat ekonomi syariah mampu tumbuh 6,21 persen secara tahunan pada Semester I 2026. Pertumbuhan impresif ini utamanya ditopang oleh kinerja sektor halal value chain yang kuat.
Di sisi lain, total aset keuangan syariah nasional kini telah menembus angka fantastis sebesar Rp9.927 triliun. Jumlah tersebut setara dengan kontribusi sekitar 45 persen dari total Produk Domestik Bruto Indonesia.
Selain itu, pembiayaan perbankan syariah juga tumbuh positif sebesar 10,42 persen secara tahunan. Sebaliknya, pemahaman masyarakat yang tecermin dalam Indeks Literasi Ekonomi Syariah pun meningkat ke angka 50,18 persen.
Pada akhirnya, tantangan terbesar kita adalah bagaimana menerjemahkan angka-angka fantastis ini menjadi kesejahteraan yang merata di tingkat tapak.



