Pendekatan Top-Down Mendesak untuk Kebijakan Keuangan Syariah

Jakarta -Penurunan tingkat literasi dan inklusi keuangan syariah dalam Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 menjadi alarm keras bagi industri. Direktur Next Policy Yusuf Wibisono berpendapat bahwa strategi pengembangan berbasis bottom-up yang selama ini berjalan telah mencapai titik jenuh. Oleh karena itu, pemerintah perlu mengambil alih kemudi melalui pendekatan top-down yang lebih agresif.
“Menurut saya, turunnya tingkat literasi dan inklusi keuangan syariah mengindikasikan bahwa pendekatan bottom-up yang selama ini berperan dominan dalam pengembangan keuangan syariah telah mencapai titik jenuh,” kata Yusuf, Kamis (13/8/2026) lalu. Dikutip dari republika.
Yusuf menjelaskan bahwa sebagian masyarakat mulai meninggalkan produk syariah akibat keterbatasan opsi produk, jaringan yang kurang luas, serta kualitas layanan yang belum memuaskan. Selain itu, pangsa pasar perbankan syariah yang stagnan di kisaran 7,5 persen selama tiga dekade menunjukkan bahwa sosialisasi saja tidak cukup.
“Hal ini harus direspons dengan serius dan cepat, yaitu dengan mulai lebih banyak mendorong pendekatan top-down dalam pengembangan keuangan syariah. Tanpa dukungan kebijakan top-down, keuangan syariah sulit tumbuh lebih cepat lagi. Bahkan, ke depan pertumbuhannya berpotensi meredup yang terlihat dari indikasi turunnya literasi dan inklusi keuangan syariah,” terangnya.
“Meski hal tersebut bisa jadi benar, namun menurut saya, faktor utama hal ini karena pengembangan perbankan syariah selama ini masih sangat didominasi oleh pendekatan bottom-up dan masih minim dukungan pemerintah. Ke depan, menurut saya, jika kita ingin serius mengembangkan perbankan syariah, maka agenda terpentingnya adalah meningkatkan market share perbankan syariah. Untuk itu, pendekatan top-down perlu semakin diperbesar porsinya,” jelasnya.
Strategi Reverse Engineering dan Opsi Kebijakan Afirmatif
Menurut Yusuf, strategi masa depan harus diubah secara total melalui metode reverse engineering. Pemerintah perlu mendongkrak pangsa pasar terlebih dahulu melalui regulasi tegas, sehingga kualitas layanan dan literasi akan terdorong secara otomatis.
“Kita harus melakukan reverse engineering, yaitu melalui kebijakan top-down, kita besarkan market share perbankan dan keuangan syariah, dan dengan meningkatnya market share ini maka produk dan layanan industri akan semakin baik dan lengkap sehingga akan mendorong literasi dan inklusi keuangan syariah,” ungkapnya.
Beberapa langkah konkret dapat ditempuh, mulai dari pembatasan penerbitan sukuk negara ritel yang menggerus Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan syariah, hingga pengalihan payroll Aparatur Sipil Negara (ASN) ke bank syariah. Selain itu, langkah yang paling masif adalah mengonversi bank BUMN berskala tertentu menjadi institusi syariah penuh.
“Industri perbankan dan keuangan syariah membutuhkan kehadiran sukuk negara untuk pengelolaan likuiditas mereka, namun penerbitan sukuk negara yang sangat masif, bahkan hingga penerbitan sukuk ritel, telah menggerus potensi dana untuk DPK (Dana Pihak Ketiga) perbankan syariah dan juga investor sukuk korporasi,” tuturnya.
“Langkah yang paling progresif adalah konversi bank BUMN menjadi bank syariah, katakan misalnya bank BUMN yang terkecil, yaitu BTN (Bank Tabungan Negara). Jika BTN dikonversi menjadi bank syariah, sebagaimana kasus konversi bank pembangunan daerah di Aceh, NTB, dan juga Riau-Kepri, hal ini akan sangat signifikan. Market share perbankan syariah akan langsung menembus 10 persen,” terangnya.
Perubahan Metodologi Pendataan SNLIK 2026
Data SNLIK 2026 mencatat angka literasi keuangan syariah turun ke 43,07 persen dari sebelumnya 43,42 persen pada 2025. Sementara itu, inklusi keuangan syariah terkoreksi menjadi 13,24 persen. Sebaliknya, indeks konvensional justru terus melonjak drastis.
Namun, Badan Pusat Statistik (BPS) mengonfirmasi bahwa penurunan angka ini turut dipengaruhi oleh pembaruan metodologi pendataan. Cakupan survei 2026 kini menjangkau hingga tingkat provinsi secara lebih rinci, sehingga menghasilkan potret lapangan yang lebih realistis dan komprehensif.



