Pemerintah Bangun Tiga Pabrik Tepung Telur Nasional
Jakarta – Pemerintah menyiapkan pembangunan tiga pabrik pengolahan tepung telur dan tepung daging. Langkah strategis ini hadir sebagai jalan keluar permanen dalam membenahi tata niaga peternakan nasional.
Selain itu, fasilitas pengolahan ini ditujukan untuk menjaga stabilitas harga di tingkat peternak. Program hilirisasi ini juga ditargetkan dapat menekan ketergantungan pangan terhadap produk impor secara signifikan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pabrik tersebut dirancang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Rantai pasok ini menghubungkan ketersediaan pakan, kepastian penyerapan panen, hingga penciptaan produk olahan berdaya simpan tinggi.
“Kami sudah telepon Menteri BUMN dan Menteri Perdagangan. Kita sepakat membangun ekosistem ternak, terutama pembangunan pabrik pengolahan tepung telur dan tepung daging. Insyaallah, mudah-mudahan tahun depan sudah bisa mulai. Targetnya 1,5 tahun selesai, maksimal dua tahun,” ujar Mentan Amran, Jum’at (9/10)
Kebutuhan Investasi dan Penghentian Impor
Oleh karena itu, pemerintah segera menindaklanjuti rencana ini dengan menyusun studi kelayakan secara mendalam. Kebutuhan modal diperkirakan menembus angka Rp200 miliar sampai Rp250 miliar per unit pabrik.
Namun, pemerintah memastikan negara akan mengawal langsung pembangunan fasilitas penting ini. Pihak swasta tetap diberi ruang untuk berkolaborasi tanpa menggeser kendali otoritas publik.
“Ini solusi permanen, fundamental. Kalau pabriknya berdiri, impor tepung telur kita hentikan. Kita sudah sepakat. Harapannya, setelah ekosistem ini berdiri, persoalan yang sama tidak terus berulang,” tegasnya.
“Kalau ada swasta mau bergandengan, silakan. Tapi negara ada di sampingnya,” katanya.
Selanjutnya, industri pengolahan ini diproyeksikan mampu menjadi bantalan pasar saat produksi ayam dan telur melimpah ruah. Petani jagung turut mendapatkan kepastian pasar untuk hasil panen mereka.
“Keuntungannya adalah meningkatkan kesejahteraan peternak, mengurangi kerugian yang sering terjadi pada bulan-bulan tertentu, dan mengurangi belanja devisa untuk impor. Ini keputusan mendasar, kita bangun ekosistem peternakan yang terintegrasi satu sama lain,” tegasnya.
Dukungan Pelaku Usaha Peternakan Rakyat
Di sisi lain, kalangan peternak mandiri menyambut positif percepatan pembangunan sentra pengolahan modern tersebut. Kehadiran industri manufaktur skala besar ini dipandang menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga napas usaha peternak rakyat.
Pelaku usaha peternakan dari PT Bereh Poultry Indonesia, Ii Cahyadi, menyebut peternak kecil tidak sanggup membiayai pabrik berskala besar sendirian. Oleh sebab itu, intervensi pemerintah menjadi kunci utama dalam persaingan dagang global.
“Industri itu tidak mungkin ditangani sendiri oleh swasta, peternak-peternak kecil, ataupun koperasi karena membutuhkan skala yang masif. Kita juga harus berhadapan dengan BUMN dari negara lain, baik India maupun China,” ujarnya.
“Alhamdulillah, hari ini beliau langsung memberikan persetujuan. Itu sangat melegakan bagi kami. Jadi, bukan hanya solusi jangka pendek, tetapi lebih dari itu, program pabrik ini diharapkan bisa mengatasi persoalan penyerapan produk peternak,” kata Cahyadi.
Pada akhirnya, agenda industrialisasi peternakan ini diarahkan untuk memperkuat ketahanan konsumsi protein hewani seluruh masyarakat secara berkelanjutan.
“Intinya bagaimana ekonomi bergerak dan bagaimana peternak jangan dipersulit. Pakan tersedia dengan baik, kemudian harga telur dan daging stabil. Kita ingin peternak untung dan kesejahteraannya meningkat,” ujarnya.