Lebih dari Sekadar Logo: Menakar Masa Depan Ekosistem Halal

Jakarta – Konsep produk halal kini mengalami pergeseran paradigma yang sangat mendasar di panggung global. Label halal tidak lagi dianggap sebagai stempel administratif ataupun pajangan formalitas semata pada kemasan. Sebaliknya, aspek tersebut kini telah bermutasi menjadi sebuah ekosistem gaya hidup modern yang menuntut adanya transparansi, integritas tinggi, dan tata kelola berkelanjutan.
Demi merespons dinamika pergeseran ini, harian Republika menggelar Islamic Finance Dialogue (IFD) 2026 di Jakarta. Acara tersebut dilaksanakan pada Rabu (1/7/2026) di Soehanna Hall, The Energy Building, SCBD. Selain itu, forum strategis ini menjadi wadah kolaborasi penting bagi regulator, pelaku industri, serta akademisi nasional.
Mengintegrasikan Keuangan Syariah dan Gaya Hidup
Integrasi nilai universal halal ke dalam industri keuangan syariah kini menjadi kebutuhan yang sangat mendesak. Sinergi kuat lintas sektor ini diyakini mampu membangun fondasi kokoh bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Selanjutnya, langkah nyata tersebut diharapkan dapat menghadirkan kemaslahatan nyata bagi seluruh lapisan masyarakat luas.
“Tema ini mengajak kita semua untuk melihat halal sebagai nilai esensial yang melampaui sekadar sertifikasi formal. Halal harus menjadi fondasi integritas, kepercayaan, dan keberlanjutan dalam ekosistem ekonomi syariah Indonesia,” ujar Direktur Republika, Rangga Danu. Dikutip dari republika.co.id
Sesi diskusi utama menghadirkan jajaran pejabat negara yang berkompeten di bidang transformasi ekonomi. Forum ini melibatkan Staf Ahli Menteri Bidang Transformasi Digital dan Inovasi Pariwisata Kementerian Pariwisata, Masruroh. Selain itu, hadir pula Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM RI, Riza Damanik.
Kolaborasi Hulu-Hilir Demi Daya Saing Global
Sesi diskusi panel mengupas tuntas strategi taktis penguatan ekosistem industri produk halal dari hulu ke hilir. Diskusi tersebut menghadirkan VP Business & Strategy Department Head Islamic Ecosystem Bank Syariah Indonesia, Yosita Nur Wirdayanti. Selain itu, Direktur Utama LPPOM, Muti Arintawati, serta Plt. Direktur Industri Produk Halal KNEKS, Putu Rahwidhiyasa, turut membedah masalah ini.
Seluruh narasumber sepakat bahwa pertumbuhan inklusif hanya bisa dicapai melalui penguatan kolaborasi yang terarah dan konsisten. Pengembangan kapasitas pelaku usaha mikro harus didukung penuh oleh lembaga sertifikasi dan sektor perbankan syariah. Oleh karena itu, sinergi ini diharapkan mampu mendongkrak daya saing produk lokal di kancah perdagangan internasional.
Pada akhirnya, gelaran IFD 2026 diharapkan mampu menjadi pemantik utama lahirnya gagasan dan inovasi baru. Semangat ini sejalan dengan tema besar Anugerah Syariah Republika 2026 mengenai esensi kebermanfaatan sosial ekonomi. Melalui komitmen berkelanjutan, Indonesia berpeluang besar untuk mengukuhkan posisinya sebagai pusat ekosistem halal dunia.



