Kemitraan UMKM–Perusahaan Besar Tembus Rp177 Miliar Sepanjang 2025

JAKARTA — Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mencatat sebanyak 1.219 UMKM telah menjalin kemitraan dengan perusahaan besar sepanjang 2025. Kerja sama tersebut membukukan nilai transaksi mencapai Rp177,1 miliar.
Selain itu, kemitraan UMKM dengan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) juga mencatatkan komitmen investasi dengan nilai signifikan, yakni mencapai Rp8,77 triliun.
Deputi Bidang Usaha Kecil Kementerian UMKM, Temmy Satya Permana, mengatakan penguatan kemitraan menjadi strategi utama pemerintah dalam mendorong usaha kecil naik kelas serta terintegrasi dalam rantai pasok nasional maupun global.
“Penguatan usaha kecil tidak bisa berjalan sendiri. Karena itu, kami mendorong kemitraan konkret antara usaha kecil dengan usaha menengah, usaha besar, BUMN, hingga PMDN dan PMA agar pengusaha kecil memiliki akses pasar yang berkelanjutan,” ujar Temmy di Jakarta, Kamis. Dikutip dari antaranews.com
Selain kemitraan langsung, Kementerian UMKM juga mengoptimalkan pemanfaatan platform digital milik BUMN. Melalui PaDi UMKM, tercatat sebanyak 143.136 penjual telah terdaftar dengan total nilai transaksi mencapai Rp1,8 triliun hingga kuartal III 2025.
Sementara itu, ajang Inabuyer B2B2G Expo 2025 berhasil mempertemukan 832 UMKM dengan mitra usaha melalui skema business matching, dengan nilai transaksi tercatat mencapai Rp7 miliar.
Temmy menegaskan bahwa digitalisasi menjadi kunci penguatan usaha kecil. Upaya tersebut tidak hanya mendorong UMKM masuk ke platform digital, tetapi juga memperkuat aspek produksi, peningkatan kualitas produk, serta tata kelola dan manajemen usaha agar mampu memenuhi kebutuhan pasar dan industri.
Dari sisi produksi, Kementerian UMKM telah membangun Rumah Produksi Bersama (RPB) di 16 lokasi untuk meningkatkan nilai tambah 12 komoditas unggulan daerah. Sementara pada aspek pembiayaan, program BISLAF (Bisnis Layak Funding) telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp7,28 miliar kepada 410 usaha kecil.
Menjelang 2026, Kementerian UMKM akan memperkuat program pengembangan UMKM secara end-to-end, mulai dari hulu produksi hingga hilir pemasaran, dengan penekanan pada keberlanjutan kemitraan usaha kecil.
“Kami akan memperdalam kualitas kemitraan agar tidak hanya bersifat transaksional, tetapi benar-benar terintegrasi dalam rantai pasok jangka panjang,” kata Temmy.
Langkah tersebut ditempuh melalui penguatan produksi dan hilirisasi, percepatan digitalisasi usaha, perluasan akses pembiayaan dan investasi, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM).
Dari sisi regulasi, Kementerian UMKM juga tengah menyiapkan Peraturan Menteri terkait penyediaan ruang promosi UMKM di infrastruktur publik, pelindungan dan peningkatan daya saing UMKM berbasis digital, serta klasifikasi dan tingkat perkembangan UMKM.
“Kami ingin usaha kecil tidak hanya bertahan, tetapi mampu naik kelas, masuk ke ekosistem industri dan perdagangan nasional, serta menjadi bagian penting dalam penguatan ekonomi daerah dan nasional,” pungkas Temmy.



