Berita Terkini

Kementan dan BRIN Suntik Rp40 Triliun Pacu Produktivitas Pertanian

Jakarta – Di tengah bayang-bayang krisis iklim global, ketahanan isi piring 280 juta rakyat Indonesia tidak bisa lagi digantungkan pada metode kuno dan spekulasi cuaca. Langkah mahapenting diambil saat Kementerian Pertanian (Kementan) merangkul Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan amunisi Rp40 triliun—sebuah pertaruhan anggaran raksasa demi memaksa tanah domestik melahirkan produktivitas berlipat ganda melalui sains.

Kolaborasi ini menandai babak baru setelah swasembada komoditas pokok seperti padi dan jagung pakan dianggap mulai stabil. Kementan kini mengalihkan radar strategisnya ke komoditas lini kedua yang selama ini menjadi beban neraca impor atau justru memiliki potensi ekspor tinggi, mulai dari bawang putih, kedelai, tebu, hingga kopi dan kakao. Pengintegrasian seluruh laboratorium pertanian di 38 provinsi menjadi karpet merah bagi para periset untuk langsung menguji hasil inovasi mereka di lahan skala luas, bukan lagi sekadar simulasi di atas meja laboratorium.

Anggaran jumbo Rp40 triliun ini membawa konsekuensi akuntabilitas yang tinggi. Alih-alih melakukan uji coba berskala mikro, kerja sama ini langsung menyasar pengawasan makro pada kluster lahan ribuan hektare dengan basis keunggulan komparatif wilayah (agro-climate). Target paling ambisius diletakkan di pundak BRIN: mendongkrak produksi bawang putih nasional hingga mencapai angka fantastis 35 ton per hektare untuk memutus rantai ketergantungan impor. Tantangannya kini berada pada mekanisasi dan implementasi smart farming berbasis AI dan robotik agar sains tersebut dapat diadopsi dengan mudah oleh petani tradisional di lapangan.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan keterbukaan fasilitasnya demi menyukseskan integrasi riset ini.

“Hari ini kita tanda tangan MoU (dengan BRIN), kita kolaborasi, yang pertama seluruh lab, kantor Kementerian Pertanian yang berada di tiap provinsi, 38 provinsi, itu bebas digunakan oleh para peneliti dari BRIN seluruh Indonesia,” kata Amran. Dikutip dari detik.com

Beliau juga memaparkan skala proyeksi pembinaan berbasis anggaran besar tersebut agar dampaknya masif.

“Jadi anggaran kita besar, total anggaran kita kan kurang lebih Rp 40 triliun, besar sekali. Nah ini nanti sambil membina petani. Jadi bukan percobaan satu hektare dua hektare, ini 10.000 (hektare), 5.000 (hektare) kita awasi bersama, 2.000 hektare seperti itu,” paparnya.

Fokus pengembangan komoditas ke depan dipastikan bergeser ke sektor-sektor yang memiliki permintaan pasar global tinggi.

“Pertama, padi sudah selesai. Jagung sudah swasembada untuk pakan. Ke depan kita fokus kedelai, bawang putih, kakao, mete, tebu, dan seterusnya yang demand-nya tinggi tingkat dunia dan bisa meningkatkan kesejahteraan petani dengan cepat,” tutur Amran.

Lebih lanjut, Amran menjelaskan pentingnya memetakan geografi dan kultur lokal sebelum mengeksekusi komoditas pertanian.

“Jadi kita menanam atau mengembangkan komoditas berdasarkan keunggulan komparatif suatu tempat. Iklimnya agro-climate-nya cocok, budaya culture masyarakatnya oke, kita kembangkan di situ,” ujarnya.

Terkait target hasil, Mentan memasang batas psikologis yang cukup realistis untuk komoditas tertentu.

“Ya kalau saya, kalau mintanya saya ya minimal 5 ton (per hektare). Tapi kalau 3-4 ton (per hektare) itu sudah bagus,” tutur Amran.

Sementara itu, Kepala BRIN, Arif Satria, menyatakan kesiapan lembaga riset tertinggi negara tersebut dalam mengawal ketahanan pangan multidimensi.

“Kita akan memberikan dukungan untuk tercapainya ketahanan pangan. Karena pangan tidak hanya soal padi, tapi pangan luas sekali, tidak hanya perkebunan, tapi juga hortikultura, tapi juga peternakan, dan dimensi pangan yang lainnya,” ujar Arif.

Secara khusus, Arif menyoroti target ekstrem dari pemerintah untuk komoditas bawang putih lokal.

“Ini kita ditargetkan untuk bisa produksi bawang putih itu 35 ton per hektare. Ini angka yang fantastis, kita ingin mengalahkan negara-negara lain yang sudah bisa menghasilkan 35 ton per hektare,” tutur Arif.

Arif optimistis bahwa kekuatan multidisplin ilmu di BRIN akan mampu menopang target-target swasembada baru Kementan.

“Kita di BRIN tidak hanya di bidang pertanian, banyak bidang-bidang lain non-pertanian yang bisa mendukung pertanian. Baik untuk mesin pertanian, kemudian untuk AI, untuk bidang genomik yang bisa menghasilkan varietas-varietas yang lebih unggul dengan teknologi lebih canggih, kemudian juga untuk robotik dan kemudian juga untuk berbagai smart farming yang membutuhkan disiplin ilmu yang lebih luas lagi,” paparnya.

Ia menambahkan bahwa seluruh modal intelektual periset siap diterjunkan penuh ke sektor hulu.

“Oleh karena itu dengan kolaborasi ini insyaallah ilmu-ilmu yang ada di BRIN, periset-periset yang ada di BRIN itu bisa kita kerahkan untuk mensupport suksesnya pembangunan pertanian di Indonesia,” jelas Arif lagi.

Suntikan dana Rp40 triliun dan kolaborasi sains-kebijakan ini adalah langkah taktis yang wajib dikawal. Namun, sebuah pertanyaan mendasar tetap tersisa: mampukah birokrasi dan riset canggih ini menyentuh akar rumput, atau justru inovasi mulia ini kembali terasing dalam tumpukan dokumen jurnal ilmiah tanpa pernah benar-benar mengubah nasib cangkul para petani kita?

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button