Berita Terkini

Kemen-Trans Ajak Pesantren Kelola Potensi Ekonomi Kawasan Transmigrasi

Lamongan – Kementerian Transmigrasi kini merombak total paradigma lama program transmigrasi. Lembaga ini membuka pintu kolaborasi bagi kalangan pesantren untuk menggarap potensi ekonomi kawasan transmigrasi di penjuru negeri.

Peluang emas tersebut disampaikan Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi, di Lamongan, Jawa Timur. Saat itu, ia menghadiri Seminar Nasional Persatuan Santri Alumni Sunan Drajat di Pondok Pesantren Sunan Drajat.

Oleh karena itu, fokus program tidak lagi bertumpu pada perpindahan warga antarpulau semata. Pemerintah saat ini menitikberatkan langkah strategis pada penguatan roda ekonomi warga lokal secara berkesinambungan.

“Sekarang orientasi transmigrasi bukan untuk memindahkan penduduk, tetapi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang ada di kawasan transmigrasi,” terang Wamen asal Lamongan tersebut.

Peluang Mengelola Jutaan Hektare Lahan Produktif

Kementerian Transmigrasi menguasai modal lahan produktif yang luar biasa besar. Total aset tanah tersebut menyentuh angka 3,1 juta hektare pada 612 kawasan di luar Pulau Jawa dan Bali.

Selanjutnya, sebanyak 154 titik telah dipatok sebagai kawasan prioritas nasional hingga 2029 mendatang. Namun, pemerintah menegaskan tidak ingin memonopoli pengelolaan seluruh hamparan lahan tersebut.

Kemitraan strategis kini dibuka luas melalui legalitas Izin Pelaksanaan Transmigrasi. Skema usaha ini menyasar kolaborasi aktif bersama entitas pesantren, alumni, maupun korporasi profesional.

“Kalau dari santri mau berminat kerja sama dengan Kementerian Transmigrasi, sangat boleh,” ujarnya.

Viva Yoga memaparkan potensi ekonomi kawasan transmigrasi mencakup perkebunan, pertambangan, pertanian, peternakan, hingga pariwisata. Sektor usaha tersebut siap dikembangkan sesuai karakteristik wilayah setempat.

“Mulai dari perkebunan, pertambangan, pertanian, peternakan hingga pariwisata. Kalau seluruh potensi dan produk unggulan di kawasan transmigrasi dipegang oleh para santri Pondok Pesantren Sunan Drajat, mantap itu,” tegasnya.

Komoditas Lokal Tembus Pasar Ekspor Dunia

Kekuatan ekonomi dari kawasan transmigrasi telah dibuktikan lewat penetrasi produk ke pasar mancanegara. Wilayah transmigrasi terbukti menghasilkan komoditas berdaya saing global tinggi.

Sebagai contoh, durian asal Sigi berhasil menembus pasar Asia Timur. Selain itu, pasokan rajungan dari Maluku kini rutin mengisi pasar konsumen Amerika Serikat.

Komoditas rempah unggulan juga mencatatkan capaian serupa. Tanaman pala dari Teluk Bintuni dan lada asal Luwu Timur mempertegas besarnya potensi ekonomi kawasan transmigrasi.

Oleh sebab itu, keterlibatan aktif santri dipandang sebagai katalis penting. Kolaborasi ini diyakini mampu memperkuat ekosistem rantai pasok industri nasional.

Kesiapan Pesantren Menjawab Tawaran Transformasi

Direktur Perekonomian Pondok Pesantren Sunan Drajat, Gus Anas Alhifni, menyambut positif tawaran kemitraan tersebut. Pesantren telah memiliki rekam jejak panjang di sektor pertanian, industri garam, ritel, dan pariwisata.

Meskipun demikian, keberhasilan usaha tidak hanya bergantung pada modal materi dan keluasan tanah. Keandalan sumber daya manusia serta ketangguhan mentalitas wirausaha menjadi kunci keberlanjutan.

“Transmigrasi itu kaitannya dengan kemandirian. Berdiri tegak itu karena punya ilmu dan mental yang kuat,” tutur Gus Anas.

Gus Anas meminta kalangan santri tidak ragu menjemput peluang usaha baru di daerah transmigrasi. Mentalitas pantang menyerah adalah fondasi utama memajukan ekonomi umat.

“Kalau mentalnya sudah kuat dan tidak mudah menyerah, peluang bisnis sekecil apa pun di kawasan transmigrasi pasti bisa dioptimalkan untuk kemaslahatan masyarakat,” katanya.

Pandangan senada ditegaskan Kepala Dinas Tenaga Kerja Lamongan, Mokhammad Zamroni. Generasi muda pesantren dituntut memiliki etos kerja baja menghadapi persaingan bebas.

“Harus menjadi petarung, punya komitmen dan tidak mudah putus asa. Persaingan sangat luar biasa. Kalau tidak memiliki etos kerja dan inovasi, komitmen kita akan tergilas,” katanya.

Reorientasi Transmigrasi Lewat Konsep Baru

Direktur Perencanaan Teknis Pengembangan Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi, Andi Wijaya, menilai agenda transmigrasi masih sangat relevan. Pendekatan baru mengarahkan kawasan transmigrasi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi modern.

“Transmigrasi masih relevan untuk konteks hari ini. Ini merupakan reborn di pemerintahan sekarang,” katanya.

Pemerintah saat ini mengusung kerangka kerja terpadu konsep 5T. Konsep ini mencakup Trans Tuntas, Trans Lokal, Trans Patriot, Trans Karya Nusa, dan Trans Gotong Royong.

Ketua Umum PP Pessandra, Muhajirin, mengajak para alumni berani keluar dari zona nyaman. Pesantren wajib memperluas orientasi pengabdian santri pada penguasaan bisnis dan teknologi.

“Pesantren dinilai tidak cukup hanya mencetak lulusan yang memiliki kemampuan keagamaan, tetapi juga perlu membangun ekosistem kewirausahaan, penguasaan teknologi, kemampuan membaca pasar dan keberanian membuka lapangan pekerjaan,” terangnya.

Pada akhirnya, sinergi pentaheliks ini diharapkan mencetak generasi mandiri. Santri bertransformasi menjadi penggerak ekonomi riil di seluruh pelosok Indonesia.

“Harapannya, santri dan alumni Sunan Drajat tidak hanya menjadi pencari pekerjaan, tetapi mampu menjadi pencipta lapangan pekerjaan, penggerak ekonomi masyarakat sekaligus agen pembangunan di berbagai daerah Indonesia, salah satunya melalui program Transmigrasi,” harapnya.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button