BI Pacu Ekonomi Syariah Jadi Sumber Pertumbuhan Baru
Jakarta – Pasar halal Indonesia yang masif tidak boleh lagi sekadar berstatus pasar pasif. Bank Indonesia menegaskan ekonomi dan keuangan syariah harus bergerak konkret menjadi mesin penggerak ekonomi baru nasional.
Hal itu ditegaskan oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Solikin M Juhro dalam Seminar Nasional bertajuk “Membangun Masa Depan Ekonomi Syariah yang Inklusif dan Berkelanjutan” di Jakarta, Senin (5/10/2026). Dikutip dari REPUBLIKA.
Tiga Tantangan Sektor Riil dan Inovasi
Pertama, tantangan utama berada pada penguatan sektor riil produk halal. Namun, masyarakat dituntut berani bertransformasi agar tidak sekadar bertahan sebagai target konsumen.
Selain itu, peningkatan produktivitas serta pembiayaan aktivitas inovatif menjadi aspek krusial berikutnya. Solikin menilai langkah inovasi selalu berkejaran dengan ongkos besar dan eksposur risiko, sehingga skema keuangan Islam amat dibutuhkan.
Literasi yang Mengubah Perilaku
Selanjutnya, penguatan literasi dan inklusi menjadi tantangan penting ketiga guna merawat keyakinan publik. Langkah ini menuntut adanya kesamaan langkah serta persepsi di antara otoritas, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan.
Oleh karena itu, penyuluhan keuangan syariah tidak boleh berhenti pada tataran teori dan wacana belaka. Pemahaman tersebut harus berhasil mendorong pergeseran kebiasaan finansial masyarakat secara nyata.
“Bicara literasi yang paling baik adalah apabila literasi itu bisa mengubah perilaku,” ucap Solikin.
Menghubungkan Ekosistem Melalui Prinsip AIR
Pada akhirnya, arah pertumbuhan ini wajib bermuara langsung pada pemerataan kesejahteraan masyarakat luas. BI menerapkan kerangka strategis AIR, yakni peran sebagai akselerator, inisiator, dan regulator.
“Sebuah ekosistem hanya akan hidup kalau ia mengalir dan saling terhubung, bukan dia saling berjalan sendiri,” kata Solikin.
Guna mempercepat konektivitas ekosistem tersebut, masyarakat diundang menghadiri gelaran Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) mendatang. Agenda strategis nasional ini akan berlangsung pada 14–17 Oktober di Jakarta International Convention Center (JICC).

