Ruang Inspirasi

Umur 23, Omzet Jutaan dari Gorengan

Di usia 23 tahun, banyak anak muda mungkin masih sibuk mencari pekerjaan atau menentukan arah masa depan. Namun, Yusuf Satria Mandela justru memilih jalan berbeda. Bersama istrinya, ia menjalankan usaha gorengan keliling dengan konsep on the road atau berpindah-pindah lokasi.

Yang menarik, usaha yang terlihat sederhana ini ternyata mampu menghasilkan omzet jutaan rupiah. Pada titik tertentu, penjualannya bahkan bisa mencapai sekitar Rp3 juta hingga Rp8 juta dalam sehari.

Kisah jualan gorengan keliling ini semakin menarik karena pemasaran yang dilakukan tidak hanya mengandalkan pelanggan di sekitar lokasi. Yusuf dan istrinya memanfaatkan TikTok untuk membuat konten, mengikuti permintaan konsumen, hingga menentukan lokasi jualan berdasarkan komentar dan respons warganet.

Dari Tidak Punya Penghasilan hingga Berani Membuka Usaha

Yusuf mengaku keputusan untuk berjualan bukan muncul karena sejak awal memiliki cita-cita menjadi pengusaha. Sebelum menjalankan usaha, ia sempat bekerja di toko pakaian selama sekitar satu setengah tahun.

Setelah keluar dari pekerjaan tersebut, ia mulai berpikir untuk membangun usaha sendiri. Salah satu alasannya adalah keinginan untuk memiliki pekerjaan dan penghasilan sendiri.

Apalagi ketika hendak menikah, Yusuf merasa harus mempunyai pemasukan yang jelas.

Ia kemudian mendapat dorongan dari kakaknya untuk mencoba usaha gorengan. Sang calon istri juga sudah memiliki pengalaman membuat dan menjual gorengan.

Dari sinilah bisnis tersebut mulai dikembangkan.

Awalnya, produk yang dijual hanya sekitar enam jenis. Namun, setelah melakukan berbagai eksperimen dan melihat referensi dari TikTok serta aktivitas jualan di CFD, menu terus bertambah.

Kini, pilihan gorengannya sudah mencapai sekitar 14 varian.

Berawal dari Gorengan Sederhana

Pada tahap awal, Yusuf dan istrinya tidak langsung memiliki banyak produk. Mereka memulai dari beberapa menu seperti risol mayo, risol mayo dengan variasi isian, tahu isi, dan lumpia rebung.

Usaha tersebut sempat berhenti sementara selama masa persiapan pernikahan. Setelah menikah, bisnis kembali dijalankan dan menu mulai diperbanyak.

Beberapa produk yang kemudian ditawarkan antara lain:

  • Risol mayo original
  • Risol mayo dengan varian isian
  • Risol ayam pedas
  • Risol pizza mozzarella
  • Tahu isi ayam pedas
  • Tahu bakso pedas
  • Tahu jamur bakso pedas
  • Dimsum goreng keju
  • Sosis solo
  • Lumpia ayam pedas
  • Lumpia rebung
  • Karipap
  • Produk gorengan dengan varian keju dan lainnya

Harga produknya juga relatif terjangkau, mulai dari sekitar Rp4.000 hingga Rp5.000 per buah, tergantung jenisnya.

Konsep Gorengan Keliling yang Tidak Terpaku pada Satu Lokasi

Salah satu hal yang membuat bisnis ini menarik adalah konsep gorengan keliling.

Yusuf tidak hanya berjualan di satu tempat setiap hari. Ia menggunakan konsep OTR (on the road) dengan berpindah lokasi berdasarkan jadwal dan potensi keramaian.

Beberapa lokasi yang pernah menjadi tempat jualan antara lain wilayah Trenggalek, Prigi, Pasar Pon, Bandung, serta kegiatan CFD.

Konsep ini juga membuat pelanggan harus mengetahui jadwal lokasi jualan.

Misalnya, suatu hari mereka berada di Prigi, kemudian pada hari lain pindah ke lokasi berbeda. Dengan jadwal yang relatif teratur, pelanggan bisa mengetahui kapan gorengan favorit mereka datang ke daerah tersebut.

Lokasi Jualan Ditentukan Berdasarkan Permintaan Pelanggan

Menariknya, media sosial bukan hanya digunakan untuk promosi.

Komentar di TikTok juga menjadi sumber informasi untuk menentukan lokasi jualan.

Ketika ada banyak orang yang meminta agar mereka berjualan di daerah tertentu, permintaan tersebut bisa dipertimbangkan.

Namun, Yusuf tidak serta-merta mengikuti setiap komentar. Ia tetap melihat jumlah permintaan, potensi keramaian, serta kondisi lokasi.

Sebelum berjualan, lokasi juga disurvei terlebih dahulu. Jika menggunakan area depan rumah warga, mereka perlu meminta izin kepada pemilik rumah.

Strategi ini menunjukkan bahwa jualan gorengan keliling tidak sekadar berpindah tempat tanpa perencanaan. Ada proses membaca permintaan pasar sebelum menentukan lokasi.

Omzet Jutaan Rupiah dari Jualan Gorengan

Meski hanya menjual gorengan, omzet yang diperoleh cukup menarik.

Dalam wawancara, Yusuf menyebut omzet dari satu titik OTR dapat berada di kisaran Rp2 juta hingga Rp3 juta. Sementara pada lokasi tertentu seperti CFD, omzetnya disebut bisa mencapai sekitar Rp8 juta.

Namun, omzet tersebut tentu bukan berarti keuntungan bersih.

Bisnis gorengan keliling membutuhkan berbagai biaya operasional, mulai dari bahan baku, produksi, transportasi, hingga kebutuhan lainnya.

Yusuf juga menyebut biaya operasional usaha OTR cukup besar karena aktivitas jualannya berpindah-pindah.

Karena itu, omzet harus dibedakan dari laba. Angka penjualan yang besar tetap perlu dihitung kembali dengan seluruh biaya usaha untuk mengetahui keuntungan sebenarnya.

Produksi Risol Bisa Mencapai Ratusan Buah

Permintaan yang semakin meningkat membuat kapasitas produksi juga harus diperhatikan.

Untuk risol mayo saja, produksi yang dilakukan bisa mencapai sekitar 5–7 kilogram bahan dan menghasilkan sekitar 400 buah.

Jumlah tersebut menunjukkan bahwa usaha yang awalnya hanya dijalankan secara sederhana mulai berkembang menjadi bisnis dengan kebutuhan produksi yang lebih serius.

Produksi yang semakin besar juga membuat pekerjaan tidak bisa sepenuhnya dikerjakan sendiri. Sebagian proses sudah mulai dibantu oleh orang lain, sementara Yusuf tetap melakukan pengawasan.

Pernah Mengalami Kerugian hingga Jutaan Rupiah

Perjalanan bisnis tentu tidak selalu mulus.

Yusuf mengaku pernah mengalami kondisi ketika produk tidak habis terjual. Cuaca menjadi salah satu tantangan, terutama ketika hujan turun saat mereka sedang berjualan keliling.

Bahkan, ia pernah mengalami kerugian yang nilainya hampir mencapai Rp500 ribu hingga jutaan rupiah.

Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya berhenti.

Produk yang tidak terjual juga sebisa mungkin tidak dibiarkan begitu saja. Jika masih layak, makanan dapat dibagikan kepada orang sekitar.

Dari pengalaman tersebut, Yusuf belajar bahwa menjalankan bisnis membutuhkan mental dan kemauan untuk terus mencoba.

TikTok Mengubah Cara Promosi Gorengan

Pada awal menjalankan usaha, promosi dilakukan melalui Facebook dan grup-grup lokal.

Kemudian Yusuf melihat banyak penjual makanan yang mendapatkan perhatian melalui TikTok. Ia pun mencoba membuat konten sendiri.

Hasilnya cukup mengejutkan.

Konten yang dibuat mendapatkan respons dari pengguna TikTok. Jumlah pengikut meningkat hingga lebih dari 6.000 dan salah satu kontennya bahkan disebut mendapatkan jutaan penonton.

Dari sini, TikTok tidak hanya menjadi tempat promosi, tetapi juga menjadi salah satu alat untuk membangun komunitas pelanggan.

Kunci Konten: Percaya dengan Produk yang Dijual

Menurut Yusuf, salah satu hal penting dalam membuat konten adalah percaya terhadap produk sendiri.

Jika penjual sendiri tidak yakin dengan produknya, rasa percaya diri saat membuat konten bisa berkurang.

Sebaliknya, ketika yakin bahwa produk yang dijual memiliki rasa dan kualitas yang baik, proses membuat konten menjadi lebih natural.

Ia juga terus memperhatikan komentar pelanggan.

Jika ada pelanggan yang memberikan masukan mengenai rasa atau produk, masukan tersebut dijadikan bahan evaluasi untuk melakukan perbaikan.

Menjaga Kepercayaan Pelanggan

Dalam bisnis makanan, kualitas menjadi hal yang sangat penting.

Yusuf mengaku pernah mengalami kejadian ketika ada pelanggan yang merasa produk yang diterima sudah tidak sesuai dengan harapan.

Daripada mengabaikan keluhan tersebut, ia memilih memberikan penggantian.

Jika pelanggan tidak menginginkan penggantian produk, ia juga menawarkan kompensasi tertentu.

Cara tersebut menjadi salah satu bentuk upaya menjaga kepercayaan konsumen.

Bagi bisnis makanan, pelanggan yang kecewa tidak selalu harus dianggap sebagai masalah. Keluhan bisa menjadi masukan untuk memperbaiki kualitas produk dan pelayanan.

Tantangan Terbesar Bukan Hanya Modal, tetapi Konsistensi

Menurut Yusuf, salah satu tantangan terbesar dalam menjalankan usaha adalah konsistensi.

Rasa bosan dan keinginan untuk berhenti sesekali tentu bisa muncul. Apalagi ketika harus berjualan secara rutin dan berpindah-pindah lokasi.

Namun, setelah menikah, ia merasa memiliki tanggung jawab yang membuatnya harus tetap menjalankan usaha.

Ada pelanggan yang menunggu kehadiran mereka di lokasi tertentu. Bahkan, ketika mereka tidak datang sesuai jadwal, pelanggan bisa bertanya melalui media sosial.

Hal tersebut justru menjadi dorongan untuk terus konsisten.

Tidak Malu Jualan Gorengan di Usia Muda

Salah satu pesan menarik dari kisah Yusuf adalah soal rasa malu.

Di usia 23 tahun, ia tidak mempermasalahkan ketika ada orang yang memandang sebelah mata karena memilih jualan gorengan.

Baginya, pekerjaan yang halal tetap layak dilakukan selama ditekuni dengan serius.

Ia juga ingin merasakan bagaimana membangun usaha dari bawah. Dengan memulai dari nol, ia bisa memahami setiap proses bisnis dan mengetahui apa yang harus dilakukan ketika menghadapi penurunan.

Pengalaman tersebut menjadi bekal penting jika suatu hari bisnis menghadapi masalah yang lebih besar.

Punya Rencana Membuka Outlet

Kesuksesan jualan gorengan keliling ternyata belum menjadi tujuan akhir.

Yusuf dan istrinya memiliki rencana untuk mengembangkan usaha menjadi outlet yang lebih besar.

Konsep yang dibayangkan bukan hanya tempat membeli gorengan, tetapi juga tempat dengan pilihan jajanan modern yang lebih lengkap.

Rencananya, pelanggan dapat mengambil makanan sendiri seperti konsep prasmanan, kemudian melakukan pembayaran di kasir. Outlet tersebut juga akan dilengkapi area untuk nongkrong.

Jika terealisasi, bisnis yang awalnya hanya berjualan secara keliling akan berkembang menjadi usaha dengan tempat permanen.

Pelajaran Bisnis dari Kisah Gorengan Keliling

Kisah Yusuf memberikan beberapa pelajaran menarik bagi calon pengusaha, khususnya anak muda.

Pertama, jangan meremehkan bisnis sederhana. Gorengan mungkin terlihat sebagai usaha kecil, tetapi jika dikelola dengan serius, pasarnya bisa berkembang.

Kedua, manfaatkan media sosial. TikTok tidak hanya dapat digunakan untuk membuat konten hiburan. Bagi pelaku UMKM, platform tersebut bisa menjadi sarana promosi dan riset pasar.

Ketiga, dengarkan pelanggan. Komentar dan permintaan konsumen dapat memberikan informasi mengenai produk maupun lokasi yang memiliki potensi pasar.

Keempat, jangan hanya melihat omzet. Omzet jutaan rupiah memang menarik, tetapi pengusaha tetap harus menghitung biaya bahan baku, produksi, transportasi, tenaga kerja, dan biaya lainnya.

Kelima, konsistensi sangat penting. Bisnis tidak selalu ramai setiap hari. Ada saatnya produk habis, ada pula saat penjualan turun karena kondisi tertentu.

Keenam, jangan malu memulai dari kecil. Usaha yang besar sering kali dimulai dari langkah sederhana.

Kesimpulan

Kisah jualan gorengan keliling Yusuf Satria Mandela menjadi contoh bahwa bisnis sederhana dapat berkembang ketika dikombinasikan dengan kreativitas, konsistensi, dan pemanfaatan media sosial.

Berawal dari kebutuhan untuk memiliki penghasilan sebelum menikah, Yusuf bersama istrinya mengembangkan usaha gorengan dari beberapa menu menjadi belasan varian.

Konsep OTR membuat mereka dapat mendatangi lokasi yang memiliki permintaan, sementara TikTok membantu memperluas jangkauan promosi sekaligus menemukan calon pelanggan baru.

Omzet jutaan rupiah yang diperoleh tentu tetap harus dilihat bersama biaya operasional dan kondisi bisnis secara keseluruhan. Namun, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa peluang usaha bisa muncul dari hal yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Pesan yang paling sederhana dari kisah ini adalah: jangan terlalu malu memulai usaha dari kecil. Tekuni, terus belajar, dengarkan pelanggan, dan kembangkan bisnis secara bertahap.

==

Sumber

Pecah Telur. (2026, Feb). Hasilkan 3-8 Juta Perhari di Umur 23 Tahun – Gorengan Keliling yang FYP di TikTok![Video]. YouTube.  https://www.youtube.com/watch?v=PnSMmlZ5pzY&t=73s

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button