Industri Halal Tumbuh Pesat, Danantara Diminta Ambil Peran Strategis
JAKARTA — Para ekonom menilai Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) perlu mulai melirik peluang besar di sektor industri halal dan keuangan syariah yang terus berkembang di Indonesia dan pasar global. Lembaga investasi ini dinilai dapat menjadi sumber pembiayaan strategis untuk mengakselerasi pertumbuhan industri halal nasional.
Peneliti Center for Sharia Economic Development Indef, Handi Risza Idris, menjelaskan bahwa industri halal telah berkembang menjadi tren gaya hidup di banyak negara, tidak hanya bagi masyarakat muslim. Dalam satu dekade terakhir, indikator Global Islamic Economy Indicator (GIEI) menunjukkan pertumbuhan konsisten ekonomi dan keuangan syariah dunia.
Handi menyebut pada 2024–2025 terdapat peningkatan alokasi belanja masyarakat muslim global untuk produk halal, mulai dari makanan, minuman, kosmetik, farmasi, pariwisata ramah muslim, hingga media dan keuangan syariah. Sementara itu di sektor keuangan, perbankan syariah, sukuk, Islamic fund, dan takaful masih mendominasi pasar.
Data GIEI menunjukkan pengeluaran konsumen muslim terbesar berasal dari makanan halal, mencapai 1,403 triliun dolar AS atau 61 persen dari total transaksi muslim. Pada saat yang sama, aset keuangan syariah global tumbuh 11 persen pada 2022 menjadi 4,5 miliar dolar AS. “Angka ini seharusnya dapat menjadi baseline bagi Indonesia untuk memperkuat industri halal dan ekonomi syariah. Danantara diharapkan mampu melihat potensi besar ini,” ujar Handi dalam diskusi publik Indef bertema “Menakar Potensi Danantara sebagai Katalis Pertumbuhan Ekonomi Syariah Indonesia,” Ahad (30/11/2025). Dikutip dari republika.co.id
Handi menambahkan ekonomi syariah telah memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Pada 2024, usaha syariah dan pembiayaan syariah menopang 46,72 persen atau sekitar Rp9.826 triliun terhadap PDB nasional. Sektor unggulan Halal Value Chain (HVC) juga menopang lebih dari 25 persen ekonomi nasional, terutama dari pertanian, makanan dan minuman halal, pariwisata ramah muslim, serta fesyen muslim.
Pemerintah dinilai turut memperkuat ekosistem halal melalui kebijakan wajib sertifikasi halal untuk seluruh produk yang beredar di Indonesia. Hingga Oktober 2024 tercatat 5,38 juta sertifikasi halal telah diterbitkan, dengan proyeksi meningkat seiring target BPJPH mencapai 10 juta produk bersertifikat.
Kinerja ekspor produk halal nasional juga menunjukkan tren positif, terutama dari industri makanan dan minuman halal. Pada 2024, realisasi ekspor mencapai 44,6 miliar dolar AS dengan impor 26,49 miliar dolar AS, sehingga menghasilkan net export sebesar 18,14 miliar dolar AS.
Handi menilai pembangunan ekosistem halal adalah langkah strategis bersama yang perlu melibatkan peran optimal Danantara. “Pada akhirnya, kita ingin menciptakan ekosistem halal yang kuat. Danantara sebagai instrumen pembiayaan, apalagi seluruh BUMN kini berada di bawahnya, bisa memainkan peran besar,” tegasnya.
Ia menyoroti tiga strategi daya saing global yang perlu diperkuat Indonesia: memperluas pemasaran dan promosi internasional melalui pameran global, kerja sama bilateral, dan penguatan branding halal Indonesia; memperluas akses pembiayaan syariah melalui perbankan, pasar modal, dan fintech syariah; serta memperkuat kerja sama internasional untuk memudahkan ekspor dan harmonisasi standar halal.
“Jika potensi ini dimanfaatkan optimal, industri halal berpeluang menjadi salah satu sumber penerimaan negara terbesar,” pungkas Handi.