Berita Terkini

Kementrans Dorong Hilirisasi Pangan Istri Petani di Papua

Wajah transmigrasi modern kini tidak lagi sekadar urusan perpindahan fisik penduduk antarpulau. Oleh karena itu, Kementerian Transmigrasi mempercepat program pemberdayaan ekonomi warga melalui inisiatif Sekolah Foodpreneur Pangan Lokal.

Inisiatif strategis ini digagas oleh Tim Ekspedisi Patriot Universitas Brawijaya di Klamono-Segun, Papua Barat Daya. Program ini memfasilitasi puluhan istri petani agar mampu mengolah komoditas panen segar menjadi produk olahan bernilai jual tinggi.

Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan pentingnya manfaat ekonomi nyata bagi warga transmigran.

“Transformasi transmigrasi hari ini bukan sekadar memindahkan penduduk, melainkan bagaimana memastikan kesejahteraan tumbuh di kawasan tersebut,” ujar Iftitah dalam keterangannya di Jakarta, Rabu. Dikutip dari ANTARA.

Olahan Pangan Lokal Masuki Pasar Wisata Unggulan

Selama ini, cabai dan tomat hasil kebun warga hanya dijual segar dengan harga murah. Selain itu, bahan pangan seperti jantung pisang sering terbuang sia-sia tanpa pemanfaatan maksimal.

Kini, sebanyak 50 istri petani yang terbagi dalam 10 kelompok aktif meracik produk turunan bernilai tambah. Mereka belajar memproduksi sambal bawang, sambal kepiting, saus tomat, cabai tabur daun jeruk, hingga abon jantung pisang.

Pelatihan intensif ini berlangsung di Kampung Wariyau, Distrik Klamono, serta Kampung Malasigit, Distrik Malabotom. Selanjutnya, produk olahan tersebut diproyeksikan mengisi etalase pusat oleh-oleh di kawasan wisata Raja Ampat.

Anggota TEP UB Dina Aqilla menjelaskan bahwa program ini lahir langsung dari keluhan petani.

“Berdasarkan survei langsung di lapangan banyak petani yang mengeluhkan harga ekonomi tanamannya rendah,” ujar Dina Aqilla.

Pendampingan Rantai Pasok dan Legalitas Usaha Pangan

Pendampingan lapangan menggabungkan teori higienitas, pelatihan memasak dari pintu ke pintu, hingga penataan rantai distribusi. Peserta juga mempraktikkan langsung standar pengemasan modern dan penentuan harga jual.

“Ke depan kami menargetkan bisa memasok ke swalayan lokal dan pusat oleh-oleh di destinasi wisata seperti Raja Ampat,” kata Dina.

Namun, penguatan kapasitas produksi tetap harus diimbangi dengan perlindungan legalitas usaha. Oleh sebab itu, tim turut mengawal penerbitan Nomor Induk Berusaha serta perizinan pangan industri rumah tangga.

Pada akhirnya, keterampilan wirausaha ini memutus ketergantungan petani dari anjloknya harga panen mentah. Hilirisasi pangan mandiri terbukti efektif memperkuat fondasi ekonomi keluarga transmigran di pelosok timur Indonesia.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button