Berita Terkini

Kemenperin Susun Peta Jalan Industri Perkapalan Nasional

Jakarta – Pemerintah bergerak membenahi ekosistem maritim nasional dari hulu hingga hilir. Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian menyusun peta jalan industri perkapalan nasional guna mendongkrak kapasitas galangan kapal dalam negeri.

Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menegaskan agenda strategis ini saat mengukuhkan Pengurus Dewan Pengurus Pusat Institusi Industri Perkapalan dan Sarana Lepas Pantai Indonesia (IPERINDO) periode 2026–2030 di Jakarta, Selasa (20/10).

”Sejalan dengan dinamika industri dan kebutuhan armada nasional, Kementerian Perindustrian saat ini sedang melakukan penyusunan Peta Jalan Industri Perkapalan Nasional. Hasilnya diharap menjadi dasar perumusan arah pengembangan dan target yang terukur, realistis, serta sesuai kebutuhan industri perkapalan nasional ke depan,” kata Sarmuji.

Target Peningkatan Kapasitas Galangan dan TKDN

Pengembangan sektor maritim periode 2026–2030 diarahkan secara merata, khususnya di luar Pulau Jawa dan Batam. Selain itu, pemerintah menargetkan galangan kapal daerah mampu merakit kapal hingga 30.000 deadweight tonnage (DWT).

Kapasitas kapal tanker turut dipacu menyentuh 60.000 DWT. Selanjutnya, kapal penumpang ditargetkan mampu memuat hingga 2.000 orang, termasuk penyediaan kapal khusus sektor migas serta pertahanan.

“Sejalan dengan itu, penerapan teknologi LNG, LPG, dan elektrifikasi terus didorong untuk mendukung industri ramah lingkungan, disertai peningkatan TKDN hingga 40%,” jelas dia.

Namun, pembangunan fisik galangan kapal dinilai belum cukup memadai. Menperin menegaskan pentingnya peningkatan mutu sumber daya manusia, penguasaan teknologi hijau, ketepatan waktu, dan pemakaian komponen lokal.

“Pemerintah terus mendorong penguatan dan peningkatan daya saing industri perkapalan nasional. Pengembangan industri ini tidak hanya mencakup peningkatan kapasitas galangan dan kemampuan membangun berbagai jenis kapal, tetapi penguatan SDM, penguasaan teknologi, penerapan teknologi ramah lingkungan, serta peningkatan penggunaan komponen dalam negeri,” ujarnya.

Sinyal Pemulihan Manufaktur dan Substitusi Impor

Kinerja industri alat angkutan nasional mencatatkan perbaikan signifikan dengan tumbuh positif 5,54% secara tahunan pada kuartal II/2026. Momentum ini berhasil membalikkan tren kontraksi sepanjang 2025 lalu.

“Perbaikan ini menjadi sinyal positif bagi pemulihan sektor industri alat angkutan, termasuk industri perkapalan, yang merupakan bagian dari kelompok industri tersebut, sekaligus menunjukkan momentum penguatan aktivitas manufaktur nasional,” imbuhnya.

Aktivitas perbaikan kapal pun terus tumbuh konsisten menjadi 11,57 juta DWT pada rentang 2021–2025. Sebaliknya, pembangunan kapal baru berfluktuasi tajam hingga menyentuh 660,11 ribu DWT pada 2025.

“Ke depan, peningkatan kapasitas, modernisasi fasilitas galangan, dan penguasaan teknologi reparasi menjadi faktor penting untuk memperkuat daya saing industri perkapalan Indonesia,” paparnya.

Neraca perdagangan mencatat nilai ekspor perkapalan mencapai US4,53miliarpadaperiode2022hinggaJuni2026.Namun,angkaimpormasihcukuptinggimencapaiUS4,53 miliar pada periode 2022 hingga Juni 2026. Namun, angka impor masih cukup tinggi mencapai US5,30 miliar.

“Bagi saya, angka tersebut bukan semata-mata persoalan neraca perdagangan. Ini adalah sinyal bahwa kita perlu memperkuat substitusi impor secara terukur, terutama pada produk yang telah atau dapat diproduksi di dalam negeri, sambil memastikan industri pengguna tetap memperoleh kualitas, harga, dan waktu penyerahan yang kompetitif,” tegas dia.

Peluang Konektivitas Poros Maritim Nusantara

Potensi industri perkapalan ditopang posisi strategis kepulauan Indonesia dengan garis pantai 99 ribu kilometer. Oleh sebab itu, keandalan armada laut menjadi tulang punggung mobilitas perdagangan antarwilayah.

“Posisi kita berada pada jalur perdagangan strategis yang menghubungkan Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Karena itu, konektivitas maritim bukan sekadar kebutuhan transportasi, melainkan fondasi bagi pemerataan pembangunan, perdagangan, ketahanan logistik, dan daya saing ekonomi,” ucapnya.

Aktivitas bongkar muat barang tercatat tumbuh di atas 4% per tahun, sementara angkutan penumpang melonjak rata-rata 12,66%. Kondisi ini menunjukkan tingginya permintaan armada baru maupun jasa pemeliharaan rutin.

“Hingga Juni 2026, aktivitas antar pulau juga tetap tinggi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap kapal baru, jasa reparasi, dan modernisasi armada akan terus meningkat di masa mendatang. Hal ini membuka peluang besar bagi pengembangan industri galangan kapal nasional,” ungkapnya.

Saat ini ekosistem galangan nasional ditopang 342 galangan kapal di 29 provinsi serta 127 perusahaan komponen pendukung. Sektor padat karya ini menyerap puluhan ribu tenaga kerja terampil di seluruh Indonesia.

“Industri galangan menyerap sekitar 37 ribu tenaga kerja dan industri komponen sekitar 6 ribu tenaga kerja. Kemudian, terdapat 16.620 tenaga kerja dengan sertifikat keahlian welder,” pungkasnya.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button