Tips dan Strategi

Positioning Produk Makanan: Contoh dan Strategi Jitu

Bisnis makanan dan minuman sekarang semakin ramai. Hampir setiap hari muncul brand baru dengan menu, konsep, dan promo yang berbeda. Ada yang menjual makanan rumahan, makanan sehat, kopi kekinian, camilan, sampai produk premium.

Masalahnya, punya makanan yang enak saja belum tentu cukup.

Di tengah banyaknya pilihan, pelanggan membutuhkan alasan yang jelas untuk memilih satu produk dibandingkan produk lainnya. Di sinilah positioning produk makanan memainkan peran penting.

Positioning membantu sebuah brand menentukan ingin dikenal sebagai apa, untuk siapa, dan mengapa pelanggan perlu memilihnya. Dengan posisi yang jelas, bisnis kuliner tidak harus selalu bertarung lewat harga atau mengikuti semua tren yang sedang ramai.

Lalu, seperti apa contoh positioning produk makanan yang baik? Bagaimana cara menentukan segmentasi, target pasar, dan positioning yang tepat?

Mari kita bahas dari dasar sampai strategi yang bisa langsung digunakan.

Apa Itu Positioning dalam Bisnis Makanan?

Positioning adalah cara sebuah brand menempatkan dirinya di benak pelanggan dibandingkan dengan pilihan lain yang tersedia di pasar.

Sederhananya, positioning menjawab pertanyaan:

“Kalau pelanggan membutuhkan produk seperti ini, apa alasan mereka harus mengingat dan memilih brand kita?”

Misalnya, sebuah bisnis makanan ingin dikenal sebagai pilihan makan siang praktis untuk pekerja kantoran. Maka seluruh pengalaman brand perlu mendukung pesan tersebut.

Mulai dari pilihan menu, ukuran porsi, kecepatan pelayanan, kemasan, lokasi, harga, hingga komunikasi di media sosial harus terasa relevan dengan kebutuhan pekerja yang memiliki waktu makan terbatas.

Contoh lainnya adalah bisnis yang ingin dikenal sebagai makanan rumahan dengan rasa seperti masakan ibu. Brand tersebut dapat membangun positioning melalui resep tradisional, penggunaan bahan segar, kemasan sederhana, serta komunikasi yang menonjolkan rasa familiar dan kehangatan.

Jadi, positioning bukan sekadar membuat slogan.

Positioning adalah keputusan strategis tentang bagaimana sebuah produk ingin dipersepsikan oleh pelanggan.

Apa yang Dimaksud dengan Positioning Produk Makanan?

Positioning produk makanan adalah strategi untuk menciptakan identitas dan keunggulan tertentu sehingga sebuah produk memiliki tempat yang jelas di pikiran target konsumen.

Dalam praktiknya, positioning dapat dibangun berdasarkan berbagai hal.

1. Rasa dan Resep yang Khas

Rasa dapat menjadi pembeda yang kuat apabila memang memiliki karakter khusus.

Misalnya, restoran ayam goreng yang menggunakan resep keluarga selama puluhan tahun. Keunggulannya bukan sekadar “ayam goreng enak”, tetapi rasa khas yang sulit ditemukan di tempat lain.

Semakin spesifik keunggulan tersebut, semakin mudah pelanggan memahami perbedaannya.

2. Harga yang Bersahabat

Harga juga dapat menjadi bagian dari positioning.

Bisnis dapat mengambil posisi sebagai pilihan makanan yang ekonomis, terutama jika menyasar mahasiswa, pekerja harian, atau keluarga yang membutuhkan makanan terjangkau.

Namun, murah bukan berarti asal murah. Harga tetap harus sebanding dengan kualitas, porsi, dan pengalaman yang diberikan.

3. Kualitas dan Bahan Premium

Di sisi lain, ada brand yang memilih masuk ke pasar premium.

Positioning ini dapat diperkuat melalui bahan berkualitas tinggi, proses produksi yang lebih detail, desain kemasan yang elegan, pelayanan yang lebih personal, dan pengalaman pembelian yang berbeda.

Harga yang lebih tinggi akan lebih mudah diterima apabila pelanggan merasa mendapatkan nilai yang memang lebih tinggi.

4. Makanan Sehat dan Praktis

Kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat membuka ruang untuk positioning makanan sehat.

Contohnya adalah salad, makanan rendah gula, makanan tinggi protein, atau katering sehat.

Namun, klaim kesehatan sebaiknya didukung informasi produk yang jelas dan tidak berlebihan. Brand harus memberikan alasan yang masuk akal mengapa produknya cocok untuk target konsumen tersebut.

5. Pengalaman dan Suasana

Positioning tidak selalu berasal dari makanan.

Kedai kopi, restoran keluarga, dan tempat nongkrong dapat membangun posisi melalui suasana.

Ada brand yang menonjolkan tempat nyaman untuk bekerja. Ada yang fokus pada suasana hangat untuk keluarga. Ada pula yang menawarkan pengalaman makan yang lebih eksklusif.

Artinya, produk yang dijual bukan hanya makanan, tetapi juga pengalaman.

Contoh Segmentasi, Targeting, dan Positioning Produk Makanan

Sebelum menentukan positioning, bisnis sebaiknya memahami konsep STP: Segmentasi, Targeting, dan Positioning.

Ketiganya saling berhubungan.

1. Segmentasi Pasar

Segmentasi adalah proses membagi pasar menjadi kelompok-kelompok yang memiliki karakteristik atau kebutuhan yang mirip.

Segmentasi bisnis makanan dapat dilakukan berdasarkan:

  • Usia
  • Lokasi
  • Pendapatan
  • Gaya hidup
  • Kebiasaan makan
  • Preferensi rasa
  • Kebutuhan khusus
  • Perilaku pembelian

Contohnya, sebuah bisnis rice bowl tidak harus menganggap semua orang sebagai calon pelanggan.

Pasarnya dapat dibagi menjadi mahasiswa, pekerja kantoran, pelajar, keluarga, atau pelanggan yang memesan makanan melalui aplikasi.

2. Targeting

Setelah pasar dibagi, pilih kelompok yang paling sesuai dengan produk dan kemampuan bisnis.

Misalnya, dari beberapa segmen tadi, sebuah brand memilih pekerja kantoran usia 23–35 tahun yang membutuhkan makan siang praktis dengan harga terjangkau.

Target tersebut jauh lebih jelas dibandingkan hanya mengatakan “makanan ini untuk semua orang”.

Dengan target yang lebih spesifik, bisnis bisa menentukan menu, harga, lokasi, kemasan, jam operasional, dan promosi dengan lebih tepat.

3. Positioning

Setelah mengetahui target pelanggan, tentukan posisi yang ingin dibangun.

Contohnya:

“Rice bowl praktis dan mengenyangkan untuk makan siang pekerja sibuk.”

Dari positioning tersebut, keputusan bisnis menjadi lebih mudah.

Menu harus mudah dimakan. Proses penyajian harus cepat. Harga harus masuk akal untuk makan siang. Lokasi atau layanan antar harus dekat dengan kawasan perkantoran.

Inilah hubungan antara STP dan positioning.

Pilar Penting dalam Strategi Positioning Produk Makanan

Positioning yang kuat tidak berdiri sendiri. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan secara bersamaan.

1. Pelanggan

Mulailah dari pelanggan, bukan dari keinginan pemilik bisnis.

Cari tahu siapa yang paling membutuhkan produk tersebut, apa masalah mereka, berapa kemampuan belinya, dan alasan mereka membeli makanan tertentu.

Misalnya, mahasiswa mungkin mempertimbangkan harga dan porsi. Sementara itu, pekerja kantoran bisa lebih mementingkan kecepatan, kemudahan pesan, dan kualitas makanan.

Semakin memahami pelanggan, semakin mudah membuat positioning yang relevan.

2. Kompetitor

Jangan hanya melihat bisnis sendiri.

Perhatikan juga apa yang ditawarkan pesaing. Cari tahu harga mereka, menu andalan, kualitas layanan, cara berkomunikasi, serta alasan pelanggan memilih mereka.

Tujuannya bukan untuk meniru.

Justru sebaliknya, analisis kompetitor membantu menemukan ruang yang belum terlalu ramai.

Jika semua kompetitor menjual “kopi murah”, mungkin peluangnya adalah menawarkan kopi berkualitas dengan konsep yang lebih nyaman untuk pekerja remote.

3. Channel atau Saluran Penjualan

Pelanggan sekarang bisa menemukan produk melalui banyak jalur.

Ada outlet fisik, media sosial, marketplace, aplikasi pesan antar, website, hingga komunitas lokal.

Setiap channel memiliki karakter pelanggan yang berbeda.

Karena itu, positioning juga perlu terasa konsisten di semua saluran. Pelanggan yang melihat Instagram, datang ke outlet, dan memesan melalui aplikasi seharusnya mendapatkan gambaran brand yang sama.

Contoh Positioning Produk Makanan yang Mudah Dipahami

Berikut beberapa contoh positioning yang dapat menjadi inspirasi bagi bisnis kuliner.

Contoh 1: Ayam Geprek untuk Mahasiswa

Target: Mahasiswa usia 18–24 tahun.

Positioning: Ayam geprek pedas, mengenyangkan, dan ramah kantong untuk mahasiswa.

Pendukung positioning:

  • Harga terjangkau
  • Pilihan level pedas
  • Porsi nasi cukup besar
  • Lokasi dekat kampus
  • Promo khusus mahasiswa
  • Pesan antar yang mudah

Contoh 2: Katering Sehat untuk Pekerja

Target: Pekerja kantoran yang ingin makan lebih teratur.

Positioning: Makanan sehat praktis untuk pekerja dengan aktivitas padat.

Pendukung positioning:

  • Informasi nutrisi
  • Pilihan menu mingguan
  • Sistem langganan
  • Kemasan praktis
  • Pengantaran ke kantor
  • Komunikasi digital yang sederhana

Contoh 3: Makanan Rumahan untuk Keluarga

Target: Keluarga muda di kawasan perkotaan.

Positioning: Masakan rumahan yang praktis untuk keluarga yang ingin makan enak tanpa repot memasak.

Pendukung positioning:

  • Menu familiar
  • Pilihan lauk untuk beberapa orang
  • Paket keluarga
  • Rasa yang konsisten
  • Kemasan aman untuk dibawa pulang

Contoh 4: Kopi Lokal untuk Anak Muda

Target: Anak muda dan pekerja muda.

Positioning: Kopi lokal dengan rasa modern dan harga yang tetap bersahabat.

Pendukung positioning:

  • Menggunakan biji kopi lokal
  • Desain visual modern
  • Harga kompetitif
  • Tempat nyaman untuk nongkrong
  • Konten media sosial yang dekat dengan keseharian pelanggan

Contoh 5: Angkringan Modern

Target: Mahasiswa, pekerja muda, dan masyarakat sekitar.

Positioning: Angkringan sederhana dengan makanan tradisional, suasana nyaman, dan harga bersahabat.

Pendukung positioning:

  • Nasi kucing
  • Sate-satean
  • Gorengan
  • Kopi dan teh
  • Tempat duduk nyaman
  • Pembayaran digital
  • Suasana malam yang santai

Contoh ini menunjukkan bahwa produk tradisional pun bisa memiliki positioning modern tanpa kehilangan identitas lokal.

Cara Menentukan Positioning Produk Makanan

Menentukan positioning tidak harus rumit. Kamu bisa memulainya dengan lima langkah sederhana.

1. Tentukan Masalah yang Ingin Diselesaikan

Tanyakan:

“Masalah pelanggan apa yang ingin saya bantu selesaikan?”

Apakah mereka sulit menemukan makanan sehat? Tidak punya banyak waktu memasak? Mencari makanan murah? Ingin tempat nongkrong yang nyaman?

Jawaban ini bisa menjadi dasar positioning.

2. Temukan Keunggulan yang Benar-Benar Nyata

Hindari hanya menggunakan kata seperti “terbaik”, “nomor satu”, atau “paling enak”.

Cari keunggulan yang konkret.

Misalnya:

  • Siap dalam 10 menit
  • Menggunakan resep keluarga
  • Pilihan menu di bawah harga tertentu
  • Menggunakan bahan lokal
  • Tersedia paket makan keluarga
  • Bisa dipesan hingga larut malam

Keunggulan konkret lebih mudah dipercaya pelanggan.

3. Pilih Target yang Spesifik

Tidak semua orang harus menjadi target utama.

Semakin jelas target pelanggan, semakin mudah membuat produk dan komunikasi yang relevan.

Bisnis kecil justru bisa mendapatkan keuntungan dari target yang lebih fokus karena anggaran pemasaran tidak perlu disebar ke semua orang.

4. Buat Pesan yang Mudah Dipahami

Positioning harus dapat dijelaskan dengan kalimat sederhana.

Jika pemilik bisnis sendiri kesulitan menjelaskan produknya, pelanggan kemungkinan juga akan bingung.

Cobalah menggunakan pola:

“[Produk] untuk [target pelanggan] yang membutuhkan [manfaat utama].”

Contohnya:

“Makan siang praktis untuk pekerja kantor yang ingin kenyang tanpa menghabiskan banyak waktu.”

Kalimat tersebut sudah memberikan gambaran mengenai produk, target, dan manfaat.

5. Pastikan Semua Elemen Brand Mendukung

Positioning tidak berhenti di slogan.

Jika ingin dikenal sebagai brand premium tetapi pelayanan lambat dan kemasan terlihat asal-asalan, persepsi pelanggan akan berbeda.

Begitu pula jika ingin dikenal sebagai makanan ekonomis tetapi harga jauh di atas pesaing tanpa alasan yang jelas.

Produk, harga, kemasan, pelayanan, tempat, promosi, dan kualitas harus berjalan ke arah yang sama.

Kesalahan yang Sering Terjadi dalam Positioning Bisnis Kuliner

Ada beberapa kesalahan yang sebaiknya dihindari.

Terlalu Ingin Menjangkau Semua Orang

Ketika sebuah brand mengatakan produknya cocok untuk semua orang, pesan yang disampaikan sering kali menjadi terlalu umum.

Lebih baik memiliki pelanggan utama yang jelas.

Hanya Mengandalkan Harga Murah

Harga murah memang menarik, tetapi mudah ditiru kompetitor.

Jika positioning hanya bergantung pada harga, bisnis akan rentan terjebak perang harga.

Gabungkan harga dengan keunggulan lain, seperti rasa, porsi, lokasi, pelayanan, atau kecepatan.

Sering Mengubah Identitas

Mengikuti tren boleh, tetapi bukan berarti brand harus mengubah arah setiap kali ada tren baru.

Positioning membutuhkan konsistensi agar pelanggan memiliki asosiasi yang jelas.

Janji Brand Tidak Sesuai Kenyataan

Ini salah satu masalah paling berbahaya.

Jika promosi mengatakan makanan selalu segar, tetapi pelanggan sering menerima produk yang kualitasnya menurun, kepercayaan akan hilang.

Positioning yang baik harus dibuktikan melalui pengalaman nyata.

Bagaimana Mengukur Apakah Positioning Sudah Berhasil?

Positioning memang berkaitan dengan persepsi, tetapi bukan berarti tidak bisa dievaluasi.

Perhatikan beberapa indikator berikut:

  • Pelanggan dapat menjelaskan keunggulan brand dengan mudah.
  • Produk sering direkomendasikan kepada orang lain.
  • Pelanggan melakukan pembelian ulang.
  • Ulasan pelanggan menyebut keunggulan yang ingin dibangun.
  • Promosi lebih mudah dibuat karena pesan brand sudah jelas.
  • Produk memiliki pelanggan yang sesuai dengan target pasar.
  • Brand tidak selalu harus bersaing melalui diskon.

Kamu juga dapat melakukan survei sederhana.

Tanyakan kepada pelanggan:

“Menurut Anda, apa yang paling membedakan produk kami dari yang lain?”

Jika jawaban pelanggan ternyata sama atau mendekati positioning yang kamu inginkan, berarti komunikasi brand mulai berhasil.

FAQ Positioning Produk Makanan

Apa contoh positioning produk makanan?

Contohnya adalah makanan sehat praktis untuk pekerja sibuk, ayam geprek murah untuk mahasiswa, makanan rumahan untuk keluarga, atau kopi lokal berkualitas dengan harga bersahabat.

Apa perbedaan segmentasi dan positioning?

Segmentasi adalah proses membagi pasar berdasarkan karakteristik tertentu. Positioning adalah cara menentukan bagaimana produk ingin dipersepsikan oleh target pasar tersebut.

Apakah UMKM perlu memiliki positioning?

Ya. Bahkan bagi UMKM, positioning bisa membantu usaha terlihat lebih berbeda di tengah banyaknya kompetitor dengan modal promosi yang mungkin lebih besar.

Apakah positioning harus selalu unik?

Positioning harus memiliki pembeda yang berarti bagi pelanggan. Tidak harus benar-benar belum pernah ada, tetapi harus memberikan alasan yang jelas mengapa pelanggan memilih produk tersebut.

Apakah positioning bisa berubah?

Bisa. Bisnis dapat melakukan penyesuaian ketika target pasar, produk, tren, atau kondisi pasar berubah. Namun, perubahan sebaiknya dilakukan secara terencana agar pelanggan tidak kehilangan gambaran tentang brand.

Kesimpulan

Positioning produk makanan bukan sekadar memilih slogan yang terdengar menarik. Ini adalah cara sebuah bisnis menentukan tempatnya di tengah persaingan dan alasan mengapa pelanggan perlu mengingatnya.

Dengan memahami segmentasi, targeting, dan positioning (STP), bisnis dapat memilih target pelanggan yang tepat, menemukan keunggulan yang relevan, serta membangun komunikasi yang lebih konsisten.

Mulailah dari hal yang sederhana: kenali pelanggan, pahami kompetitor, temukan keunggulan yang benar-benar dimiliki, lalu sampaikan pesan tersebut secara konsisten.

Tidak harus menjadi brand terbesar untuk memenangkan pasar.

Bagi bisnis kuliner, menjadi pilihan yang paling relevan bagi pelanggan tertentu sering kali jauh lebih berharga daripada mencoba menjadi pilihan untuk semua orang.

Positioning yang kuat pada akhirnya bukan hanya membuat brand lebih mudah dikenal. Jika produk dan pengalaman yang diberikan benar-benar sesuai dengan janji brand, positioning juga dapat membantu membangun kepercayaan, pembelian ulang, dan hubungan jangka panjang dengan pelanggan.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button