Ribuan Pengusaha Lokal Siap Taklukkan Kompetisi Bisnis Modern
Makassar – Pasar domestik yang semakin kompetitif kini menuntut pelaku usaha lokal untuk segera berbenah. Oleh karena itu, konsolidasi taktis menjadi kunci utama agar industri kreatif daerah tidak tergerus oleh ekspansi luar.
Sekitar 1.000 pelaku UMKM dan pengusaha muslim dari berbagai penjuru Sulawesi Selatan hingga kawasan Indonesia Timur berkumpul di Makassar. Mereka menghadiri agenda akbar Business Excellence Summit and Talk (BEST) 1 yang diinisiasi oleh Sukses Berkah Community (SBC) Chapter Makassar di Four Points by Sheraton Makassar.
Selanjutnya, gelaran strategis yang berlangsung selama dua hari ini dihadiri langsung oleh jajaran Pemprov Sulsel dan Pemkot Makassar. Kehadiran para pemangku kebijakan tersebut mempertegas sinyal bahwa penguatan sektor domestik telah menjadi pilar utama pembangunan ekonomi.
Strategi Jitu Keluar dari Jebakan Perang Harga
Banyak pelaku usaha kecil saat ini terjebak dalam lingkaran diskon yang justru menipiskan margin keuntungan mereka sendiri. Fenomena tersebut dikupas tuntas oleh praktisi bisnis nasional, Coach Dodi Dzulkifli, pada sesi awal pelatihan.
Menurut Coach Dodi, kegagalan utama pengusaha kecil bersumber dari ketiadaan pembeda yang kuat di mata konsumen. Melalui strategi positioning yang tepat serta narasi branding yang kokoh, industri lokal wajib menawarkan nilai tambah yang autentik.
Membangun Sistem Digital dan Menutup Kebocoran Finansial
Materi krusial mengenai digitalisasi operasional dibawakan oleh Khaidir Khaliq, yang merupakan pengurus SBC sekaligus praktisi retail. Ia menegaskan bahwa adopsi teknologi bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan instrumen vital pengumpul data konsumen.
“Makassar hari ini bukan lagi pasar kecil. Indonesia Timur sedang dilirik. Pengusaha dari luar masuk membawa data, dana, sistem, tim, dan teknologi. Kita tidak perlu marah dengan persaingan, tapi kita sebagai pengusaha lokal tidak boleh kalah siap,” tegas Khaidir dalam materinya.
Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa pasar akan otomatis dikuasai oleh siapa yang paling siap melayani dengan profesional. Pelaku usaha lokal tidak boleh antipati terhadap pendatang, namun harus menjadikannya pemantik untuk naik kelas.
“Pasar lokal tidak otomatis menjadi milik pengusaha lokal. Pasar akan dikuasai oleh siapa yang paling siap melayani. Kalau mereka datang dengan data, kita harus belajar data. Kalau mereka datang dengan sistem, kita harus bangun sistem. Kalau mereka datang dengan teknologi, kita harus gunakan teknologi,” lanjutnya.
Menghindari Kelelahan Bisnis Tanpa Profit
Namun, kerja keras tanpa bekal ilmu yang memadai sering kali berujung pada kelelahan fisik semata. Khaidir menggarisbawahi pentingnya pemahaman metrik keuangan agar pemilik usaha tahu ke mana arah perputaran modal mereka.
“Kerja keras itu penting. Tapi kerja keras tanpa ilmu sering berujung pada kelelahan. Banyak pengusaha sibuk dari pagi sampai malam, tapi saat ditanya profitnya berapa, produk paling untung yang mana, biaya bocor di mana, atau siapa pelanggan terbaiknya, masih belum tahu,” jelasnya.
Selain itu, ia juga membedah tujuh kebocoran struktural yang kerap mengintai manajemen internal perusahaan mikro. Masalah tersebut meliputi ketiadaan database, manajemen keuangan yang berantakan, hingga ketiadaan standar operasional prosedur (SOP).
“Percuma banjir order kalau ember bisnisnya bocor. Banyak UMKM bukan tidak punya omzet, tapi omzetnya tidak berubah menjadi profit karena tidak ada pencatatan, tidak ada follow-up, tidak ada SOP, dan semua masih bergantung pada owner,” ujarnya.
Pada akhirnya, lonjakan pesanan tanpa kesiapan sistem justru berpotensi memicu komplain massal dari pelanggan. Oleh karena itu, infrastruktur internal seperti tim dan teknologi harus disiapkan secara matang terlebih dahulu.
“Banjir order itu target. Tapi kesiapan menerima order adalah tanggung jawab. Jangan minta banjir kalau salurannya belum siap. Saluran itu adalah ilmu, SOP, tim, data, dan teknologi,” tambah Khaidir.
Sebagai solusi konkret bagi para peserta, forum ini memperkenalkan framework bertajuk “TUAN RUMAH”. Rumusan ini mencakup tiga pilar utama, yaitu fondasi keilmuan data, perapian sistem teknologi, serta aktif berkolaborasi dalam ekosistem positif.



