Digitalisasi Sapi Perah: OJK dan ILO Rilis Sistem ERP
Malang – Bagaimana mungkin seorang peternak sapi perah di pelosok desa bisa mengakses pembiayaan bank papan atas jika seluruh catatan keuangannya hanya tersimpan di kepala? Realitas pahit inilah yang coba dibongkar oleh OJK Malang bersama International Labour Organization (ILO) melalui peluncuran sistem Enterprise Resource Planning (ERP) di Koperasi Agro Niaga (KAN) Jabung, Kabupaten Malang. Langkah berani ini mengawinkan teknologi digital modern dengan bau pekat kandang tradisional demi satu tujuan: meruntuhkan tembok unbankable yang selama ini mengurung peternak rakyat.
Kondisi di hulu industri susu kita memang sedang tidak baik-baik saja. Pasca-hantaman wabah penyakit mulut dan kuku (PMK), produktivitas peternakan sapi perah domestik merosot tajam hingga memicu ketergantungan akut pada keran impor. Data lapangan menunjukkan Indonesia baru mampu memproduksi sekitar satu juta ton susu segar per tahun, angka yang sangat timpang dibandingkan kebutuhan nasional yang masif. Ketimpangan ini memaksa negara merogoh kocek hingga Rp25 triliun per tahun untuk mendatangkan 3,7 juta ton susu impor. Ambisi swasembada pun terganjal oleh masalah klasik: peternak kesulitan mendapat suntikan modal formal karena tidak memiliki rekam jejak keuangan yang terdokumentasi dan akuntabel di mata perbankan.
Kehadiran sistem ERP dalam program Promise 2 Impact ini mencoba menjadi jembatan digital. Lewat sistem yang terhubung langsung dengan Platform Aggregator Jasa Keuangan (PAJK), aktivitas harian peternak akan tercatat secara presisi dan otomatis bertransformasi menjadi basis data penilaian kredit (credit scoring) yang valid.
Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto (IAKD) OJK, Adi Budiarso menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam memecahkan kebuntuan ini. “Dengan kolaborasi, yang tidak mungkin menjadi mungkin. Sesuatu yang tampak mustahil bisa menjadi mungkin apabila seluruh pemangku kepentingan berkolaborasi dan bekerja bersama,” katanya. Dikutip dari antaranews
Lebih lanjut, Adi memaparkan target besar yang harus dikejar demi melepaskan diri dari ketergantungan pasar luar negeri. “Kita membutuhkan sekitar 1,4 juta ekor tambahan sapi perah indukan yang produktif jika ingin mencapai target swasembada susu. Karena itu, produktivitas harus ditingkatkan,” ujarnya. Cetak biru digitalisasi ini diharapkan mampu memodernisasi sektor peternakan rakyat agar bergerak lebih inklusif dan berdaya saing tinggi.
Inisiatif strategis ini kian berbobot dengan dirangkaikannya penandatanganan Nota Kesepahaman Pengembangan Ekonomi Daerah Provinsi Jawa Timur Tahun 2026. Momentum krusial di Kabupaten Malang tersebut turut dikawal langsung oleh jajaran petinggi mutakhir, mulai dari Sekda Jatim Adhy Karyono, Bupati Malang Sanusi, Duta Besar Swiss untuk Indonesia Olivier Zehnder, Direktur ILO Simrin Singh, hingga Kepala OJK Malang Farid Falatehan dan Kepala OJK Jember Aris Budiman.
Sistem ERP di atas kertas adalah sebuah lompatan teknologi yang impresif bagi sektor agribisnis rakyat. Namun, efektivitas teknologi ini di lapangan akan sangat bergantung pada konsistensi edukasi dan pendampingan bagi para peternak yang terbiasa dengan pola konvensional. Transformasi digital ini menuntut komitmen kolektif agar tidak berhenti sebagai seremoni peluncuran belaka. Mengutip optimisme yang digaungkan oleh Adi Budiarso: “Kita harus berani punya visi dan mimpi besar. Kalau produktivitas kita meningkat dan digitalisasi dimanfaatkan optimal, Indonesia akan lebih cepat bangkit dan menjadi lebih kuat,” ujarnya. Kini, bola panas implementasi berada di tangan para pemangku kepentingan di lapangan untuk membuktikan apakah data digital benar-benar bisa mencairkan modal bank bagi peternak kecil.



