Ekspor Impor

Peluang Ekspor Jengkol Indonesia ke Pasar Mancanegara

Peluang Ekspor Jengkol – Jika mendengar kata jengkol, sebagian orang mungkin langsung mengernyitkan dahi. Aromanya yang kuat sering membuatnya dicap sebagai makanan “kontroversial”. Ada yang mencintainya sepenuh hati, ada pula yang memilih menjauh. Namun di balik reputasinya yang unik itu, jengkol justru menyimpan peluang bisnis yang tak main-main, bahkan hingga ke pasar internasional.

Dalam beberapa tahun terakhir, jengkol perlahan keluar dari bayang-bayang stigma lokal. Komoditas yang selama ini identik dengan dapur tradisional Nusantara ini mulai dilirik pasar global. Bukan hanya oleh komunitas diaspora Indonesia, tetapi juga oleh pelaku industri pangan mancanegara yang tertarik pada bahan baku unik dan bercita rasa khas. Di sinilah peluang ekspor jengkol Indonesia mulai terasa “harum”, meski aromanya tetap tajam.

Artikel ini akan mengajak kamu melihat jengkol dari sudut pandang yang berbeda. Bukan sekadar makanan khas, melainkan komoditas ekspor potensial yang bisa menjadi sumber cuan baru bagi petani, UMKM, hingga eksportir nasional.

Jengkol: Komoditas Asia Tenggara yang Mendunia

Jengkol atau jering sejatinya bukan tanaman eksklusif Indonesia. Tanaman ini berasal dari Asia Tenggara dan tumbuh subur di berbagai negara seperti Malaysia, Thailand, Myanmar, Laos, Filipina, hingga Nepal. Namun, jengkol asal Indonesia memiliki karakter rasa dan kualitas yang dianggap unggul oleh sebagian pasar.

Di dalam negeri, jengkol dikenal luas di Sumatera dan Jawa sebagai bahan pangan favorit. Diolah menjadi semur, balado, rendang, hingga gorengan, jengkol punya penggemar setia. Yang sering luput dari perhatian, jengkol juga merupakan sumber protein nabati yang kaya asam amino esensial. Kandungan ini menjadikannya relevan dengan tren pangan global yang mulai beralih ke sumber protein berbasis tumbuhan.

Ketika dunia mulai mencari alternatif pangan unik, bernutrisi, dan memiliki cerita budaya yang kuat, jengkol Indonesia pelan-pelan menemukan momentumnya.

Nilai Ekspor Jengkol dan Potensi yang Masih Terbuka

Secara angka, perdagangan jengkol di tingkat global memang belum sebesar komoditas hortikultura lain. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, nilai ekspor jengkol Indonesia pada tahun 2020 mencapai sekitar 4,7 juta dolar AS. Angka ini terbilang kecil jika dibandingkan dengan sayuran beku lain dari kelompok polong-polongan.

Namun justru di situlah letak peluangnya. Pasar yang belum jenuh membuka ruang besar bagi pemain baru. Apalagi dalam konteks pemulihan ekonomi nasional pascapandemi, pemerintah melalui Bea Cukai dan kementerian terkait активно mendorong ekspor komoditas non-tradisional, termasuk jengkol dan petai.

Sejumlah ekspor perdana yang melibatkan produk-produk unik seperti permen jahe organik, pupuk urea, hingga jengkol menjadi bukti bahwa pasar global semakin terbuka terhadap komoditas “di luar arus utama”.

Jengkol Beku dan Kode Ekspor Internasional

Dalam perdagangan internasional, jengkol umumnya diekspor dalam bentuk beku. Bentuk ini dipilih untuk menjaga kualitas, memperpanjang masa simpan, serta memenuhi standar keamanan pangan negara tujuan. Jengkol beku biasanya masuk dalam kode HS 071080, yaitu kategori sayuran beku lainnya.

Masuknya jengkol ke dalam kategori sayuran beku membuka akses ke pasar yang jauh lebih luas. Banyak negara memiliki permintaan tinggi terhadap sayuran beku karena praktis, tahan lama, dan mudah diolah. Di sinilah jengkol Indonesia punya peluang besar untuk ikut bersaing.

Tujuh Negara Potensial Tujuan Ekspor Jengkol Indonesia

Berdasarkan peta potensi ekspor, ada sejumlah negara yang dinilai sangat menjanjikan sebagai tujuan ekspor jengkol dan sayuran beku asal Indonesia.

Jepang menjadi salah satu pasar paling menarik. Negara ini memiliki nilai impor sayuran beku yang sangat besar. Uniknya, nilai ekspor aktual Indonesia ke Jepang bahkan sudah melampaui potensi awal yang diproyeksikan. Ini menunjukkan bahwa pasar Jepang cukup terbuka dan responsif terhadap produk Indonesia.

Amerika Serikat dan Kanada justru menjadi peluang besar yang belum tergarap maksimal. Nilai ekspor aktual jengkol Indonesia ke dua negara ini masih sangat kecil, bahkan nyaris nol, padahal total impor sayuran beku mereka mencapai ratusan juta dolar AS. Artinya, peluang masuk masih terbuka lebar jika Indonesia mampu memenuhi standar mutu, keamanan, dan kontinuitas pasokan.

Selain itu, Korea Selatan, Australia, Belgia, dan Jerman juga masuk dalam daftar negara dengan potensi ekspor yang menjanjikan. Pasar Eropa khususnya dikenal selektif, tetapi sangat menghargai produk dengan keunikan dan kualitas tinggi.

Tantangan Utama Ekspor Jengkol

Meski peluangnya besar, ekspor jengkol bukan tanpa tantangan. Ada dua isu utama yang kerap menjadi sorotan.

Pertama adalah aroma jengkol yang sangat kuat. Bagi pasar tertentu, aroma ini bisa menjadi penghalang. Karena itu, peningkatan kualitas pascapanen, teknik pengolahan, dan inovasi produk menjadi kunci untuk menekan bau tanpa menghilangkan karakter aslinya.

Kedua adalah masa simpan jengkol yang relatif pendek. Tanpa penanganan yang tepat, jengkol mudah rusak. Inilah alasan mengapa teknologi pembekuan, pengemasan modern, dan rantai dingin menjadi faktor krusial dalam ekspor jengkol.

Pembenahan dari hulu ke hilir, mulai dari budidaya, panen, hingga distribusi, mutlak diperlukan agar jengkol Indonesia mampu bersaing secara berkelanjutan.

Peran Daerah dalam Mendorong Produksi Jengkol

Beberapa daerah di Indonesia mulai serius menggarap potensi jengkol. Di Banten, misalnya, pemerintah daerah mengembangkan ribuan hektare lahan jengkol untuk memenuhi kebutuhan lokal sekaligus membuka peluang ekspor. Di Jawa Barat, Kabupaten Ciamis dikenal sebagai salah satu sentra petai dan jengkol terbesar dengan produksi yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Tak kalah menarik, jengkol dari Padang Pariaman, Sumatera Barat, berhasil menembus pasar Jepang dengan nilai fantastis. Ratusan kilogram jengkol dikirim ke Tokyo sebagai bagian dari ekspor komoditas unik Indonesia. Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa jengkol bukan hanya “layak ekspor”, tetapi juga bernilai tinggi jika dikemas dengan strategi yang tepat.

Jengkol dan Tren Kuliner Global yang Unik

Salah satu alasan mengapa jengkol mulai dilirik pasar seperti Jepang adalah tren kuliner ekstrem dan eksperimental. Dalam beberapa tahun terakhir, pelaku industri makanan di Jepang gemar mengeksplorasi bahan baku dengan aroma dan rasa tak biasa. Contohnya adalah es krim berbahan funazushi, makanan fermentasi beraroma tajam yang justru mendapat sambutan positif.

Tren ini membuka peluang bagi jengkol untuk masuk sebagai bahan baku eksperimental di industri food and beverage global. Bukan tidak mungkin, di masa depan jengkol hadir dalam bentuk olahan modern yang sama sekali baru.

Jengkol, UMKM, dan Masa Depan Ekspor Indonesia

Kisah ekspor jengkol dari berbagai daerah menunjukkan satu hal penting: peluang ekspor tidak selalu datang dari komoditas “cantik”. Justru produk dengan keunikan tinggi sering kali memiliki ceruk pasar tersendiri.

Bagi UMKM dan pelaku usaha lokal, jengkol bisa menjadi pintu masuk ke pasar ekspor. Dengan peningkatan kualitas, pemahaman standar internasional, serta kolaborasi dengan berbagai pihak, jengkol berpotensi menjadi komoditas unggulan baru Indonesia.

Aroma jengkol mungkin tidak disukai semua orang, tetapi potensi cuannya jelas menggoda. Jika dikelola dengan serius dan profesional, jengkol Indonesia bisa terus mengharumkan nama bangsa di pasar global.r)

 

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button